Ketika Orang orang Sudah Membayangkan Inter Vs MU di Final

Ketika Orang orang Sudah Membayangkan Inter Vs MU di Final – Inter Milan vs Manchester United “ketemuan” di final, kemungkinan itu ada, kan? Ya, tidak sedikit orang yang menyebut bahwa inilah pertemuan ideal di babak akhir Liga Eropa. Baik Nerazzuri maupun Setan Merah sudah sama-sama “PDKT” agar keduanya lebih cepat bertemu.

Ketika Orang orang Sudah Membayangkan Inter Vs MU di Final

Ketika Orang orang Sudah Membayangkan Inter Vs MU di Final

Inter Milan sudah mengalahkan Bayer Leverkusen 2-1 dan Manchester United telah mengandaskan FC Copenhagen 1-0. Kedua tim yang disorot ini akhirnya melenggang ke babak semifinal. Inter bertemu Shakhtar Donetsk, dan MU bersua Sevilla. Artinya, kedua tim hanya perlu melangkah satu kali lagi, kan? Lalu final ideal Liga Eropa akan tersaji di Stadion Koln, Jerman.

Untuk mengabulkan impian ini, baik La Beneamata maupun The Red Devils mesti melakukan persiapan yang lebih matang untuk mengalahkan lawan mereka di semifinal. Dari tangan dingin seorang Antonio Conte, penampilan Inter Milan pun berubah drastis di musim ini. Berhasil finish di peringkat kedua di bawah Juventus di akhir musim 2019/2020 adalah salah satu bukti bahwa Nerazzurri mulai berkembang. Sisi yang paling jelas perubahannya adalah mentalitas para pemain.

Sebagai pelatih yang sering berteriak di pinggir lapangan saat pertandingan, Conte perlahan mulai berhasil membangkitkan mental para pemainnya. Alhasil, pemain-pemain Inter yang awalnya redup dan angin-anginan pun mulai menemukan kembali gaya permainan terbaiknya. Lihatlah performa Romelu Lukaku, Alexis Sanchez, Borja Valero, Diego Godin, hingga salah satu permata Italia yang bernama Alessandro Bastoni.

Persiapan Inter Milan Menuju Final Impian

Mereka mulai bermain dengan ritme yang bagus karena sudah paham dengan taktik 3-5-2 atau 3-4-1-2 ala Conte. Dan, jangan lupa pula ada Samir Handanovic yang semakin tua semakin jadi. Sebagai seorang Kiper, Handanovic berhasil mencatatkan clean sheet di lima pertandingan berturut-turut bersama Inter Milan. Sayang, di laga terakhir kontra Bayer Leverkusen kemarin ia harus kebobolan lewat gol Kai Havertz.

Meski demikian, daya tarik Handanovic tidak hanya tentang minim kebobolan saja. Di beberapa pertandingan terakhirnya bersama Nerazzurri, sang kiper seakan juga berperan sebagai gelandang. Tepatnya, Handanovic ikut membantu tim membangun serangan dari lini belakang. Kiper legendaris Inter, Ivano Bordon pun ikut memuji Handanovic. Berbicara kepada Radio Sportiva, Bordon berpandangan bahwa Handanovic memiliki pengalaman dan selalu berkembang dari musim ke musim serta mengamankan banyak poin untuk Inter.

Namun, seperti yang kita ketahui, berlaga di Europa League tidaklah mudah bagi tim-tim manapun. Dalam buku catatannya, Nerazzurri sudah tiga kali meraih gelar juara Liga Europa. Tapi itu di zaman bahuela, yaitu zaman di mana Liga Europa masih bernama Piala UEFA. 3 Gelar itu Inter dapatkan pada musim 1997-1998, 1990-1991, serta musim 1993-1994. Dan, di partai semifinal musim ini, Inter Milan harus mengalahkan klub jagoan Liga Ukrania yang diwakilkan oleh Shakhtar Donetsk.

Klub yang diasuh oleh pelatih Luis Castro ini cukup garang. Dalam dua laga terakhir di ajang Europa League, Shakhtar Donetsk berhasil menang besar 3-0 kontra Wolfsburg pada Leg kedua babak 16 besar, dan juga menang besar 4-1 kontra FC Basel di babak perempat final. Lebih dari itu, klub Shakhtar Donetsk ini terlihat semakin garang ketika kita melihat komposisi pemain utama mereka. Ya, ada banyak pemain asal Brazil yang moncer di sini.

Sebut saja seperti Taison, Fernado, Tete, Marlos, Alan Patric, Marquinhos, Ismaily, Dodo, hingga Junior Moraes. Saat BolaSport menjumlahkan para pemain Brazil yang ada di klub ini, tercatat ada 13 orang. Agaknya, Shakhtar Donetsk akan jadi ancaman yang cukup serius bagi Inter Milan. Secara, pemain Brazil cukup merepotkan terutama dari sisi skill individu dan kecepatan, sedangkan Inter cukup was-was bila melawan tim yang punya kecepatan.

Contohnya seperti di laga terakhir kontra Bayer Leverkusen kemarin. Inter memang mampu unggul 2-0 lebih dulu kontra Bayer. Tapi ketika pemain Bayer, Moussa Diaby dipindahkan ke sisi sayap, Inter Milan semakin kesulitan mengawal Diaby. Alhasil, lahirlah gol dari Havertz. Namun untuk laga semifinal nanti, Conte tentunya akan memaksimalkan potensi para pemainnya. Demi menciptakan impian final ideal kontra MU, rekor tim dengan pertahanan terbaik di Serie A musim ini akan mereka bawa ke Dusseldorf Arena.

Persiapan Manchester United Menuju Final Impian

Tidak puas rasanya jika kita hanya melihat babak-babak yang menentukan di Europa League dari kacamata Inter Milan semata. Demi mengabulkan final impian, perjuangan MU juga patut disimak. nDi babak perempat final kemarin, pasukan Ole Gunnar Solskjaer berhasil menang tipis 1-0 kontra FC Copenhagen. Laga di hari itu cukup sulit bagi MU karena mereka harus bersusah-payah menang melalui gol Bruno Fernandes di babak extra time. Tapi, kesusahan ini bukan semata salah MU. Copenhagen memang bermain dengan sistem pertahanan berlapis.

Dan tak hanya itu, Kiper Johnsson yang mengawal gawang Copenhagen juga tampil gemilang sepanjang laga. Sport.detik.com mencatat, Johnsson berhasil melakukan 13 penyelamatan dengan tujuh di antaranya menahan tembakan dari dalam kotak penalti. Artinya, MU boleh tetap percaya diri menatap final impian orang-orang, yaitu melawan Inter Milan. Hanya saja, jalan MU yang tinggal selangkah lagi ini cukup terjal. Bruno Fernandes dan kawan-kawan harus terlebih dahulu mengandaskan raja Liga Europa yang bernama Sevilla.

Ya, berdasarkan statistik yang ditilik dari Bola.com, Sevilla memiliki nilai rapor yang lebih mentereng ketimbang MU di Liga Europa. Sejak nama Piala UEFA berubah menjadi Liga Europa musim 2009/2010, Sevilla sudah menjadi juara sebanyak lima kali. Syahdan, dalam dua pertandingan terakhir saat keduanya berhadapan di babak 16 besar Liga Champions 2018, Sevilla juga masih unggul. Leg pertama di kandang Sevilla berakhir dengan skor 0-0, dan leg kedua di kandang MU, Sevilla menang 2-1.

Tapi, pasukan Ole Gunnar Solskjaer juga tidak berkecil hati karena MU juga pernah juara di musim 2016/2017. Dan lebih dari itu, ketajaman Bruno Fernandes, Anthony Martial, Greenwood hingga Rashford akan menjadi ketakutan tersendiri bagi pasukan Julen Lopetegui. Yang jelas, Stadion RheinEnergie akan jadi saksi sejauh mana impian MU di Liga Eropa musim ini. Semua orang tentu mendambakan final MU vs Inter. Terlebih lagi para pemain Inter yang sejatinya telah pergi dari MU.

Ada Lukaku, Young, dan Alexis. Ketiganya juga mendambakan momentum reuni. Peluang pertemuan tentu ada, bahkan sangat terbuka. Tapi, baik MU maupun Inter harus melangkah satu kali lebih jauh untuk mencapai final.

Tsimikas Manuver Cerdas Liverpool

Tsimikas Manuver Cerdas Liverpool – Bukan Aissa Mandi (Real Betis) atau Jamal Lewis (Norwich City) tapi, Kostas Tsimikas (24). Inilah transfer pertama Liverpool di musim panas. Bek Timnas Yunani ini diboyong Liverpool dengan ongkos transfer 11.75 juta pounds dari Olympiakos Piraeus, klub juara Liga Yunani, Senin (10/8, GMT). Di Merseyside, Tsimikas diikat kontrak selama lima tahun.

Tsimikas Manuver Cerdas Liverpool

Tsimikas Manuver Cerdas Liverpool

Jika melihat prosesnya, transfer ini tergolong cepat dan tak terduga. Maklum, sebelumnya Liverpool mengejar Jamal Lewis, tapi berhubung Norwich kukuh “jual mahal”, maka Liverpool langsung bergegas mencari alternatif yang lebih masuk akal. Alhasil, Tsimikas langsung diboyong ke Anfield. Dalam hal popularitas, bek kiri yang diplot sebagai pelapis Andrew Robertson ini memang masih asing. Hanya segelintir informasi yang memuat aksinya di lapangan hijau. Tapi, jika melihat posisinya sebagai pemain reguler Olympiakos, maka ini adalah satu transfer cerdas.

Maklum, dengan posisi Olympiakos sebagai klub langganan juara Liga Yunani, klub yang pernah diperkuat Rivaldo (legenda Timnas Brasil) ini juga menjadi salah satu wakil reguler Yunani di kompetisi Eropa, baik di ajang Liga Champions maupun Liga Europa. Jadi, harga transfer yang dibayarkan Liverpool ke Olympiakos bisa dibilang sangat terjangkau. Maklum, Tsimikas sudah punya jam terbang tampil di kompetisi Eropa, selama berseragam Merah-Putih khas Olympiakos.

Selain itu, bersama Esbjerg, dan Liga Belanda bersama Willem II. Pengalaman ini didapat Tsimikas antara tahun 2016-2018, sebagai pemain pinjaman dari Thrylos (Sang Legenda, julukan Olympiakos). Teraktual, pemain bernomor punggung 21 ini sempat tampil di babak perdelapan final Liga Europa melawan Wolverhampton Wanderers (Inggris).

Tsimikas juga pernah mencicipi kompetisi Liga Denmark

Meski Si Merah-Putih kalah agregat 1-3, performa Tsimikas tetap mendapat kredit, karena mampu meredam agresivitas Adama Traore, sayap cepat berotot andalan Wolves. Dari sini saja, sudah tergambar bagaimana kualitas Tsimikas. Boleh dibilang, kedatangan bek kidal ini merupakan satu strategi Klopp untuk menghadirkan persaingan, sekaligus memberikan ruang jeda untuk Robertson.

Seperti diketahui, dengan catatan kebugarannya yang oke, Robertson jarang absen karena cedera. Kalaupun kapten Timnas Skotlandia ini harus absen, ada James Milner yang siap dijadikan bek kiri darurat.
Dari segi taktik, transfer ini akan memperdalam kualitas tim di sektor bek sayap. Dengan gaya mainnya yang agresif, Tsimikas menjadi satu penegasan, bahwa Klopp menginginkan bek sayap utama dan pelapis bergaya main mirip dan bisa terus berkembang.

Di pos bek kanan, pola ini terlihat dari keberadaan Neco Williams sebagai pelapis Trent Alexander-Arnold. Menariknya, selain bergaya main mirip, keduanya sama-sama jebolan akademi Liverpool. Jadi, siapapun yang bermain, sistem permainan Klopp tetap berjalan normal. Menariknya, meski keuangan klub masih terimbas pandemi Corona, manuver belanja Liverpool masih gesit seperti biasa, dengan prinsip “murah tapi bagus dan masuk akal” sebagai kuncinya.

Berhubung mepetnya masa jeda pra-musim kali ini, bukan kejutan jika setelah ini Liverpool akan bergerak cepat mendatangkan pemain baru. Apalagi, pada tanggal 29 Agustus mendatang, Liverpool akan menghadapi Arsenal di Community Shield. Untuk saat ini, Liverpool menang masih intens mendekati Aissa Mandi (Aljazair) dan Ismaila Sarr (22), penyerang utama Watford dan tandem Sadio Mane di Timnas Senegal.

Secara khusus, peluang transfer Sarr ke Anfield cukup terbuka. Selain karena faktor keberadaan Sadio Mane di Liverpool, terdegradasinya Watford dari kasta tertinggi Liga Inggris bisa menjadi situasi yang bisa dimanfaatkan. Jika melihat pola pergerakan Liverpool, bukan tak mungkin transfer keduanya bisa segera terwujud. Dengan kata lain, transfer Tsimikas akan menjadi katalisator belanja Liverpool kali ini, termasuk jika bongkar pasang pemain dilakukan.

Secara khusus, jika melihat hobi Klopp yang gemar merekrut pemain dari tim yang terdegradasi, itu bukan lagi sebuah kejutan. Sejak melatih Liverpool, Klopp memang sudah melakukannya tiap musim, seperti terlihat dari transfer Gini Wijnaldum (Newcastle), Andrew Robertson (Hull), Xherdan Shaqiri (Stoke) dan Harvey Elliott (Fulham). Tidak menutup kemungkinan, kebiasaan ini masih akan berlanjut, dengan Sarr sebagai salah satu kemungkinan. Menarik ditunggu, bagaimana kelanjutan manuver belanja Liverpool setelah ini.

Kendati Oktoberfest Penonton Dilarang Membawa Bir ke Stadion

Kendati Oktoberfest Penonton Dilarang Membawa Bir ke Stadion – Laga sepakbola tanpa penonton di stadion diakui memang kurang seru. Anda dapat merasakannya sendiri. Tidak ada sorakan gemuruh atau teriakan. Selain itu tanpa penonton, para pemain yang berlaga di lapangan juga kurang mendapatkan support dalam berlaga.

Kendati Oktoberfest Penonton Dilarang Membawa Bir ke Stadion

Kendati Oktoberfest Penonton Dilarang Membawa Bir ke Stadion

Dari segi finansial, tuan rumah tim yang berlaga juga akan merugi karena tidak mendapatkan pemasukan dari tiket. Virus korona memang merubah segalanya, termasuk dalam olahraga sepakbola. Sisa Bundesliga memang sudah dilanjutkan bahkan tuntas dengan tidak dihadiri penonton di stadion, juga menerapkan aturan protokol kesehatan.

Orang-orang di operator Bundesliga (DFL) mengadakan pertemuan untuk menengahi persoalan seperti yang disebutkan di atas. Antara mengijinkan laga dihadiri penonton, untuk membantu finansial tim tuan rumah dan kemeriahan satu laga di lapangan dibandingkan dengan upaya meminimalkan penyebaran virus Covid-19.

Hasilnya, DFL mewacana bakal membolehkan penonton hadir di stadion. Namun penonton yang diperbolehkan hadir di stadion itu adalah dari para pendukung tim tuan rumah. Para suporter dari tim tamu masih belum diijinkan untuk hadir. Sehubungan dengan Jerman, bangsa Jerman dikenal memiliki tradisi minum bir sejak lama. Sebelum merebaknya wabah pandemi Covid-19, setiap tahunnya di Jerman, khususnya di Munchen, diadakan festival yang menarik perhatian bukan saja dari Jerman sendiri, tapi juga dari mancanegara.

Festival yang disebut dengan Oktoberfest ini diadakan selama dua minggu sejak akhir September hingga awal Oktober. Jumlah pengunjung yang hadir setiap tahunnya di Oktoberfest ini mencapai sekitar 6 juta orang. Tidak ada Oktoberfest tanpa bir. Bir dengan kandungan alkohol yang pekat menjadi pusat perhatian utama di festival ini. Para pengunjung yang hadir di Oktoberfest itu biasanya mengenakan pakaian tradisional.

Bir, inilah yang menjadi pusat perhatian utama di festival ini, selain mereka juga menikmati berbagai makanan lainnya. Tradisi minum bir bangsa Jerman itu terbawa juga ke sepakbola. Para penonton di Liga Jerman, baik Bundesliga 1 atau 2, tidak dilarang para penonton hadir di stadion dengan membawa bir untuk dikonsumsi. Akan tetapi, dalam pertemuan para operator liga Rabu lalu, dihasilkan kesepakatan juga akan melarang para suporter untuk membawa bir ke dalam stadion.

Bundesliga musim 2020/21 sendiri akan dimulai pada 18 September mendatang. DFL menegaskan kendati bertepatan dengan Oktoberfest, tapi membawa bir ke dalam stadion tetap tidak diperbolehkan. Christian Seifert, CEO DFL, mengatakan pihaknya telah siap melaksanakan hasil pertemuan tadi, jika sudah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah.

DFL menjelaskan klub-klub Bundesliga satu dan dua sudah setuju dengan larangan tersebut untuk tidak menjual tiket ke suporter tim tamu. Hal ini terkait dengan standar kebersihan di stadion. Kami meminta agar mereka (klub-klub Bundesliga) menaati peraturan ini,” tutur DFL. Beralih ke Liga Champions, klub Bundesliga menempatkan dua timnya di babak perempatfinal Liga Champions musim ini.

Kedua tim itu adalah Bayern Munchen dan RB Lepzig. Bayern Munchen, yang juara Bundesliga 2019/20 memastikan maju ke 8 besar Liga Champions 2019/20 setelah menyingkirkan Chelsea dengan kemenangan agregat yang mencolok, 7-1. Di leg pertama di kandang Chelsea, Bayern Munchen menang 3-0. Sedangkan di leg kedua di Allianz Arena, Bayern Munchen kembali menang, dengan skor 4-1.

Dilihat dari skor yang banyak, laga yang digelar pada Minggu (9/8/2020) dinihari WIB itu memang berjalan berat sebelah. Di satu sudut, Bayern Munchen bermain dengan full team. Sedangkan di sudut lainnya, Chelsea kepayahan karena tanpa diperkuat beberapa pilarnya di antaranya Christian Pulisic dan Cesar Azpilicueta yang cedera. Kedua pemain itu cedera pada saat melawan Arsenal di final Piala FA 1 Agustus lalu.

Keempat gol Bayern Munchen diciptakan oleh Corentin Tolisso, Ivan Perisic, dan Robert Lewandowski. Sedangkan gol balasan Chelsea oleh Tammy Abraham. Gol pertama Chelsea tercipta di menit ke 10 lewat eksekusi penalti yang diambil oleh Robert Lewandowski. Lewandowski mencetak gol keduanya di menit ke 24. Chelsea memperkecil ketinggalan di menit ke 44. Dua gol lainnya tercipta di menit ke 76 dan 83 Di delapan besar, Bayern Munchen akan bertemu dengan Barcelona pada 15 Agustus 2020 di Lisbon, Portugal.

Andrea Pirlo Pelatih Baru Si Nyonya Tua

Andrea Pirlo Pelatih Baru Si Nyonya Tua – Pergi untuk kembali. mungkin slogan itu yang dapat menggambarkan Andrea Pirlo. Kurang dari tiga jam setelah memecat pelatih Maurizio Sarri, manajemen Juventus menunjuk legenda klub, Andrea Pirlo sebagai pelatih baru.

Andrea Pirlo Pelatih Baru Si Nyonya Tua

Pemecatan Maurizio Sarri tidak terlepas dari hasil buruk beberapa pertandingan Juventus setelah dinyatakan juara Serie A Italia, termasuk saat Si Nyonya Tua tersingkir dari ajang Liga Champions 2019-2020.

Walau hasil akhir 2-2, namun Juventus kalah produktivitas gol tandang menghadapi klub Perancis, Olympique Lyonnais. Maklum saja, kubu Juventus sangat ingin memenangi gelar Liga Champions Eropa yang terakhir kali mereka rengkuh pada tahun 1996. Pada tahun 1998, 2003, 2015 dan 2017 mereka melaju ke final namun pulang dengan kekalahan.

Andrea Pirlo didapuk sebagai pelatih anyar La Vecchia Signora, julukan Juventus pada kemarin malam, waktu Indonesia. Mantan pemain AC Milan tersebut baru saja ditunjuk sebagai pelatih Juventus U-23 beberapa hari lalu, namun manajemen Juventus kemudian menunjuknya sebagai pelatih di Tim Utama untuk menggantikan posisi Sarri.

Pria berusia 41 tahun tersebut memang tidak diragukan saat dirinya masih menjadi pemain, baik prestasi bersama tim, mau pun prestasi secara individu. Terbukti, dari gelar Liga Champions Eropa bersama AC Milan hingga trofi Piala Dunia bersama Tim Nasional Italia melengkapi portofolionya. Secara individu, sudah banyak sekali gelar yang diterimanya, baik itu penghargaan dari internal tim yang dibelanya, mau pun skala Serie A, bahkan peghargaan kelas Eropa (UEFA).

Ditunjuknya Andrea Pirlo sebagai pelatih baru Juventus akan menarik untuk ditunggu, karena artinya Pirlo akan melatih mantan rekan setimnya di Juventus dan Tim nasional Italia kala menjadi pemain, yaitu Gianluigi Buffon, serta mega bintang sepakbola dunia, Cristiano Ronaldo.

Mari kita tunggu bagaimana rancangan tangan Andrea Pirlo dalam meramu, meracik dan memadukan formasi dan pemain Juventus pada musim depan. Apakah akan lebih baik dari pelatih Juventus sebelumnya? Dan tentu, apakah Pirlo mampu memuaskan dahaga Juventini pada gelar Liga Champions Eropa musim depan

Juventus Tunjuk Andrea Pirlo Menggantikan Maurizzio Sarri

Juventus Tunjuk Andrea Pirlo Menggantikan Maurizzio Sarri – Tak perlu menunggu lama setelah beberapa jam memecat Maurizzio Sarri, Juventus dini hari waktu Indonesia, telah menemukan penggantinya, Andrea Pirlo mantan pemainnya sekaligus salah satu legenda Klub asal kota Torino, sscara resmi ditunjuk untuk melatih Ronaldo Cs.

Juventus Tunjuk Andrea Pirlo Menggantikan Maurizzio Sarri

Juventus Tunjuk Andrea Pirlo Menggantikan Maurizzio Sarri

Kabar ini dilansir oleh situs resmi milik si Nyonya Besar Juventus.com. Dengan tajuk “Andrea Pirlo is The New Coach of The First Team. Hari ini episode baru bagi karir Pirlo di dunia sepakbola berawal, dari seorang maestro menjadi tuan bagi para pemain Juventus” tulis pengumuman resmi situs resmi tersebut. Andrea Pirlo menurut situs tersebut telah menandatangani kontrak selama 2 tahun. Sebelumnya Maurizzio Sarri dipecat oleh manajemen Juve karena dianggap tak memenuhi ekspektasi si Nyonya Besar.

Di musim ini Sarri memang telah gagal di beberapa Kompetisi, seperti Coppa Itali kemudian Piala Super Itali. Terakhir mantan pelatih Chelsea ini gagal membawa Juve lolos ke Perempat Final Liga Champions setelah disingkirkan klub asal Perancis, Lyon. Sebenarnya agak mengejutkan penunjukan Pirlo sebagai Pelatih tim utama Juventus, pasalnya baru sebulan lalu pria yang kini berusia 41 tahun ini ditunjuk menjadi pelatih Juventus U-23.

Karir kepelatihannya pun terbilang masih sangat baru, Pirlo belum lama pensiun sebagai pemain, ia gantung sepatu pada tahun 2018 dari klub sepakbola New York City FC setelah selama 3 tahun bermain di Liga MLS Amerika Serikat. Meskipun demikian Karir Pirlo sebagai pemain cukup moncer, ia telah memenangkan banyak gelar, mulai dari Juara Liga Champions hingga meraih gelar Juara Dunia bersama tim Nasional Italia. Perjalanan karir Pirlo sebagai pemain bermula di Brescia selama 4 musim.

Kemudian pindah ke Inter Milan selama 2 musim, Reggina 1 musim. Lantas pindah ke rival sekota Inter, AC Milan selama 10 musim mulai dari tahun 2001 hingga 2011. Di AC Milan inilah karir Pirlo melesat, ia 2 kali memenangkan Liga Champions Sebelum mengakhiri karirnya di Liga MLS, ia bermain di Juve dan menjadi salah satu pemain legendanya dengan memenangkan 3 gelar Serie A.

Jadi lapangan latihan Juve bukan barang baru baginya. Penunjukan Pirlo sebagai pelatih baru Juventus, mungkin berkaca pada keberhasilan Pep Guardiola di Barcelona atau Zinedine Zidane di Real Madrid. Keduanya merupakan legenda klub masing-masing, dengan pengalaman kepelatihan terbilang minim, namun ketika melatih hasilnya luar biasa. Mungkin tuah ini yang diharapkan Juve ketika menunjuk Pirlo sebagai pelatih.

Pertaruhan Guardiola Melawan Zidane 1/8F UCL

Pertaruhan Guardiola Melawan Zidane 1/8F UCL – Skor sementara 13 – 0, antara Real Madrid melawan Manchester City. Itu bukan skor pertandingan. Itu merupakan skor raihan piala UEFA Champions League (UCL), antara Real Madrid (RM) melawan Manchester City (MC). Bagaikan seorang Raja melawan seorang Lurah.

Pertaruhan Guardiola Melawan Zidane 1/8F UCL

Pertaruhan Guardiola Melawan Zidane 1/8F UCL

Sabtu besok, 08 Agustus 2020, akan dilangsungkan pertandingan leg-2, di markas MC, untuk babak 16 besar. Raja Zidane dengan 11 pasukanya, melawan Lurah Guardiola dengan 11 pejuangnya. Para pasukan raja sudah pengalaman 3 kali juara UCL. Sedangkan para pejuang Lurah hanya sampai semifinal UCL, tahun 2019.

Namun tahun 2020 sedikit berbeda. Pada leg-1, akal dan taktik Lurah berhasil menjungkalkan Raja di markasnya. Skor 2 – 1 untuk MC.

Taktik Guardiola adalah memainkan penyerang murni, Gabriel Jesus (GJ), pada sayap kiri. Lalu pemain sayap murni, Silva, di plot sebagai penyerang palsu (false nine). Pengisi lubang permainan adalah Kevin De Bruyne (KDB). Mengapa taktik ini berhasil Mas.

Mekanisme kerjanya begini Adik manis. Setiap kali terjadi penyerangan, maka satu dari dua bek tengah akan mengawal GJ. Bahasa lainnya, bek tengah menguntit penyerang murni. Karena GJ bergerak ke sayap kiri, otomatis ada lubang di daerah tengah pertahanan.

Lubang itu bahasa bola yang berarti terjadi kekosongan pemain. Itu karena GJ dikejar dan dikuntit 1 bek tengah dan 1 bek sayap kanan. Pertanyaannya jangan mancing-mancing ya. Kenapa bek nafsu banget ngawal penyerang murni. Karena kekuatan atau kelebihan penyerang murni adalah sekali tendang gol. Sekali kop (heading) gol, dan juga, sekali oper bola pasti berbuah gol. Jadi, bukan karena ganteng atau kece ya Dek.

Baik Mas. Lanjutkan kisah untuk leg-2 nanti. Pada pertemuan di markas MC nanti, kemungkinan pelatih dengan 2 piala UCL akan melakukan taktik yang sama. Seperti pepatah lama, “jangan merusak tim pemenang” (do not change the winning team) nampaknya akan dilakukan pelatih MC. Soal detailnya, mari kita nonton saja.

Di pihak RM, pasti ikut berbenah. Pelatih Zidane pasti mengikuti pepatah lama, “jangan jatuh ke lubang yang sama”. Kontra-taktik akan diperbaiki, melawan MC. Dan berharap bisa mengalahkan tuan rumah. Detailnya bagaimana, biar kita lihat di televisi.

Olah raga sepak bola tidak seperti matematika murni. Yang mana, semua hasil bisa dikalkulasi secara pasti dan statis. Ini adalah olah raga dinamis. Karenanya, keseruan dan ketegangannya ada disitu. Oh ya, kayaknya pernah baca di artikel dulu, Mas punya program kalkulasi di MS Excel buat taruhan bola. Bocorin dong hitung-hitungannya.

Kan sudah Mas cerita, hasilnya sekitar 70% benar, masih ada 30% yang salah. Sepak bola itu dinamis, tidak statis. Malaikat saja gak tahu hasilnya, apalagi sahaya. Otak saya aja 70% kadang bisa benar, kadang yang muncul 30% error. Ayolah Mas, bocorannya siapa menang leg-2? Nanti saya ajak nonton berdua deh.

Baiklah. Yang menang inisialnya M, tapi detailnya nanti saya beritahukan saat duduk berdua sama Dek ayu.

Tanpa Sergio Ramos Real Madrid Kerap Jadi Pecundang di Liga Champions

Tanpa Sergio Ramos Real Madrid Kerap Jadi Pecundang di Liga Champions – Duel antara tuan rumah Manchester City melawan Real Madrid di leg kedua babak 16 besar Liga Champions bakal digelar di Etihad Stadium. Pertemuan antara kedua tim ini disebut-sebut sebagai pertemuan antara dua pelatih berkepala plontos, Pep Guardiola melawan Zinedine Zidane.

Tanpa Sergio Ramos Real Madrid Kerap Jadi Pecundang di Liga Champions

Joker yang lagi hokki di game Queen dan lucky panda

Jika Real Madrid memiliki modal karena baru saja mereka keluar sebagai juara La Liga musim 2019/20, sedangkan Manchester City mempunyai modal selain sebagai tuan rumah, juga modal kemenangan pada leg pertama di Santiago Bernabeu atas Los Blancos dengan skor 2-1 Pebruari 2020 lalu. Gol the Citizen saat itu dibuat oleh Kevin De Bruyne lewat titik putih dan Gabriel Jesus.

Ketinggalan 1-2 bagi Real Madrid bukanlah posisi yang menguntungkan. Mereka harus menang atas City. Jika Madrid ingin lolos ke babak berikutnya, maka mereka harus menang minimal dengan selisih 2 gol atas City. Atau unggul dengan selisih gol 1 tapi menyarangkan gol lebih dari 2. 3-2, 4-3 dan sebagainya, karena dengan demikian mereka menang dengan aturan gol tandang.

Dapatkah Madrid disebut “kini berbeda” ketimbang ketika mereka kalah (1-2) di leg pertama Pebruari lalu. Pasalnya, mereka mencapai poin sempurna di La Liga sebagai juara. Tapi ada situasi yang agak mengkhawatirkan, karena mereka nanti tidak bisa menurunkan Sergio Ramos. Pemain bertahan, Ramos sangat berkontribusi membantu serangan Madrid. Bahkan pada musim ini, pemain berusia 34 tahun itu sudah membukukan 13 gol.

Dengan kata lain Ramos sangat berperan baik dalam pertahanan maupun dalam membantu penyerangan. Dia pemain yang vital bagi Madrid. Penyebab punggawa asal Spanyol itu tidak turun Minggu nanti karena dia dihadiahi kartu merah di leg pertama. Dia melakukan pelanggaran kepada Gabriel Jesus di kotak terlarang, yang berujung kepada titik putih.

Tanpa Ramos Madrid kalah Marca mencatat tanpa Sergio Ramos Madrid kerap jadi pecundang di Liga Champions. Sejak bergabung dengan Real Madrid pada tahun 2005, oleh karena berbagai alasan Ramos telah absen di 30 laga yang dilakoni Madrid di Liga Champions. Dari 6 laga terakhir yang tidak memainkan Ramos dengan alasan apapun (karena keputusan pelatih, cedera, atau pun skorsing), klub ini menelan lima kali kekalahan dan hanya satu kali menang.

Pada leg kedua musim 2017/18 tanpa Ramos, Madrid kalah 1-3 dari Juventus kendati saat itu Juventus bermain dengan 10 orang pemain. Pada musim 2018/19 Madrid mengalami dua kali kekalahan di fase grup melawan CSKA Moskow, karena Ramos saat itu tidak diturunkan pelatih Julen Lopetegui. Madrid tanpa Ramos juga kalah 1-4 dari Ajax Amsterdam di babak 16 besar di Santiago Bernabeu. Pada laga pertama Liga Champions musim ini, tanpa Ramos Madrid juga keok 0-3 dari Paris Saint-Germain.

Tanpa Ramos, Madrid hanya mengalami satu kali kemenangan, sisanya kalah. Dalam statistik lainnya, dalam 7 laga tanpa Ramos, Real Madrid sudah kebobolan 17 gol. Nah, bagaimana kini menghadapi City tanpa Ramos. Optimisme hadir dari punggawa City, Rodrigo Hernandez. Rodrigo mengatakan dia merasa percaya diri. Rodrigo mengakui Madrid tim yang tangguh, buktinya mereka perkasa sebagai juara Liga Spanyol. Akan tetapi akan kami tunjukkan, bahwa kami tim yang lebih baik,” ujarnya kepada Mirrors.

Dalam komparasi antara Zinedine Zidane dan Pep Guardiola. Dua pelatih berkepala plontos, Marca menyebutkan salah satunya Zinedine Zidane lebih baik ketimbang Guardiola dalam hal pencapaian trofi. Zidane 1 trofi per 19 laga, sementara Guardiola 1 trofi per 22 laga. Akan tetapi ketika Guardiola melatih Barcelona, dia mencatat 1 trofi per 18 laga. Lebih baik dari “el classico” nya.

Cukup hasil seri yang dipetik dari laga Minggu nanti, maka City lolos ke perempatfinal. Di situasi sulit untuk membalikkan keadaan, punggawa Madrid Casemiro masih sempat mengintip celah yang bisa dimanfaatkan timnya. Menurutnya, kedua tim baik timnya maupun City sama-sama kesulitan. Timnya bisa saja membuat kejutan. Lagi pula, mereka main tanpa dukungan suporter di stadion,” katanya.
Ajang kasta tertinggi di di Eropa ini memang terasa berbeda ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Perbedaan itu terletak pada laga yang digelar tanpa penonton. Dan sistemnya sekarang adalah single match. Kita nantikan saja bagaimana kedua pelatih berkepala plontos ini menerapkan strategi nya Sabtu nanti.

Nathan Ake Dulu Dibuang Chelsea Kini Dipinang City

Nathan Ake Dulu Dibuang Chelsea Kini Dipinang City – Hidup itu seperti roda, kadang di atas kadang pula di bawah. Seperti Nathan Ake, dulunya disia-siakan Chelsea kini dipinang Manchester City. Manchester City tancap gas untuk belanja pemain demi memperkuat skuad di musim 2020/2021 mendatang. Salah satu pemainnya yang dibeli adalah bek Bournemouth, Nathan Ake.

Nathan Ake Dulu Dibuang Chelsea Kini Dipinang City

Nathan Ake ditebus dengan harga 40 juta paun atau setara Rp 767,9 miliar. Kontrak berdurasi lima tahun pun ditandatangani pemain berusia 25 tahun asal Belanda itu. Bagi fans Chelsea, nama Nathan Ake mungkin tidak asing di telinga. Ya, dia dulunya adalah pemain Chelsea. Melansir data dari Transfermarkt, Chelsea memboyong Nathan Ake di tahun 2011 dari akademi Feyenoord Youth. Nathan Ake saat itu berusia 16 tahun.

Nathan Ake sabar pelan-pelan meniti karier di Chelsea di kategori kelompok umur. Dia memperkuat Chelsea U-19 sebanyak enam kali, lalu memperkuat Chelsea U-23 sebanyak 40 kali. Dia pun sempat menjabat ban kapten. Nathan Ake bisa bermain di dua posisi. Bisa sebagai gelandang bertahan atau sebagai bek tengah.

Tahun 2013, Nathan Ake akhirnya dipromosikan ke tim utama. Tapi cuma dua tahun saja, dia berseragam biru-biru dengan total penampilan hanya 17 kali. Setelahnya, Nathan Ake seperti pemain Chelsea kebanyakan. Ake dipinjam-pinjamkan dan tak pernah mendapat kepercayaan untuk main sebagai starter.

Nathan Ake pernah dipinjamkan ke Reading, Watford, dan Borunemouth. Hingga akhirnya, Borunemouth mempermanenkannya dari Chelsea di tahun 2017 seharga 20 juta paun atau setara Rp 385 miliar (menjadi rekor pembelian termahal bagi klub tersebut).

Nathan Ake pun makin berkembang. Dia diplot sebagai bek tengah yang kukuh. Dilansir Sky Sports, Nathan Ake punya statistik bagus soal memblok bola dibanding pemain bertahan Manchester City di musim 2019/2020. Hingga akhirnya, manajer Manchester City, Pep Guardiola terpincut oleh Nathan Ake. Apalagi, The Citizens kehilangan sosok tangguh di posisi bek selepas kepergian Vincent Kompany.

Bahkan, Nathan Ake juga sempat diminati oleh Manchester United yang dinilai bisa jadi duet mumpuni bersama Harry Maguire. Namun, Manchester City lebih ngotot mendapatkannya. Di bawah tangan dingin Pep Guardiola, Nathan Ake bisa saja lebih berkembang lagi. Pernah bermain sebagai seorang gelandang tengah, jadi modal bagus buat Ake yang harus membiasakan diri memenangi penguasaan bola –seperti gayanya Guardiola yang kita semua tahu.

Tak cuma itu, Ake mencatatkan diri dengan akurasi umpan 87,6 persen di Liga Inggris musim lalu, terbaik di antara semua rekannya di Bournemouth. Suatu catatan yang mungkin membuat Guardiola dapat melihat potensi Ake. Kita nantikan saja, bisa berkembang sejauh mana Nathan Ake bersama Manchester City-nya Pep Guardiola.

Menunggu Thiago Alcantara dari Bayern Munich Menuju ke Liverpool

Menunggu Thiago Alcantara dari Bayern Munich Menuju ke Liverpool – Beberapa pekan ke depan semua orang pasti menunggu jawaban dari pertanyaan apakah Thiago Alcantara jadi pergi ke Liverpool. Jendela transfer musim panas yang sudah dibuka 27 Juli 2020 hingga 10 pekan ke depan akan ramai dengan pembicaraan panas para bintang. Sejak memenangkan trofi Premier League, Jurgen Klopp selalu mengatakan kepada para pewarta bahwa dirinya sangat nyaman dengan skuad yang dimilikinya saat ini.

Menunggu Thiago Alcantara dari Bayern Munich Menuju ke Liverpool

Menunggu Thiago Alcantara dari Bayern Munich Menuju ke Liverpool

Pernyataannya itu seakan Jurgen Klopp tidak membutuhkan aksi apapun dalam jendela transfer musim panas ini. Artinya dalam menghadapi musim depan Klopp cukup dengan mengandalkan skuad yang dimilikinya saat ini. Jamie Carragher, defender Liverpool yang sudah bermain sebanyak 737 laga bersama The Reds, sangat percaya bahwa Klopp harus menggunakan jendela transfer musim panas ini untuk menyempurnakan skuadnya.

Hal tersebut karena pada kompetisi musim depan, tantangan mempertahankan gelar yang jauh lebih berat. The Reds juga harus bersaing kembali dengan Manchester City, Manchester United dan Chelsea. Persaingan yang jauh lebih ketat dari sebelumnya. Sejak dibukanya transfer window musim panas beberapa hari yang lalu, ada yang menarik perhatian dari pernyataan petinggi Bayern Munich.

Ketika Executive Board Chairman Bayern Munich, Karl-Heinz Rummenigge menegaskan bahwa gelandang serang mereka Thiago Alcantara tidak akan menandatangani kontrak baru. Saat itu beredar rahasia umum di ruang ganti Bayern bahwa Thiago telah berbicara kepada teman satu timnya tentang keinginan dirinya bermain untuk Jurgen Klopp di Anfield. Inilah yang segera diantisipasi oleh manajemen Bayern Munich.

Thiago Alcantara menandatangani kontrak dengan Bayern dari Barcelona pada tahun 2013. Sudah tujuh tahun bergabung dengan Bayern Munich. Sejauh ini Thiago sudah mengadakan pembicaraan positif dengan direktur olahraga, Hasan Salihamidzic tentang masa depannya. Tetapi pada akhirnya memastikan tidak ada kesepakatan yang bisa dicapai diantara mereka. Thiago Alcantara tidak akan menandatangani kontrak baru di Bayern Munich musim panas ini,” kata Karl-Heinz Rummenigge mengkonfirmasi seperti dilansir Skysports.

Pemain Bayern asal Spanyol itu diperkirakan akan meninggalkan klub. Beberapa hari terakhir ini banyak kabar menyebutkan bahwa Alcantara telah dikaitkan dengan kepindahannya ke Liverpool. Dengan hanya satu tahun tersisa pada kontraknya dengan Bayern Munich, pemain yang berusia 29 tahun itu semakin berpeluang pergi dari Allianz Arena, Munich. Sebenarnya ada beberapa pihak di kubu Bayern yang memahami bahwa kepindahan Alcantara ke Liverpool saat ini dianggap tidak mungkin.

Namun Alcantara mungkin juga harus pergi hanya jika salah satu dari opsi lini tengah Jurgen Klopp tidak dapat dikesampingkan yaitu pembicaraan kontrak Gini Wijnaldum terus berlanjut. Pakar sepakbola Jerman, Rafa Honigstein berpendapat seperti dilansir Sky Sports di atas, bahwa sangat sulit bagi Bayern untuk menemukan pemain yang seperti Thiago. Sosok ini sangat unik dalam kemampuan teknisnya. Ini merupakan pukulan bagi Bayern dan sesuatu yang tidak mereka harapkan. Bahkan menurutnya, Liverpool sangat beruntung mendapatkan Thiago, karena dialah salah satu keeping di lini tengah Liverpool yang hilang selama ini.

Bagi Klopp sendiri, pemain dengan kemampuan yang dimiliki Thiago sangat ideal berada di lini tengah Liverpool. Dia bisa berkolaborasi bersama pemain berpengalaman seperti Jordan Henderson, Fabinho, Naby Keita dan Wijnaldum. Sejauh ini memang belum ada tawaran dari klub manapun, tetapi Bayern bersiap-siap untuk Liverpool karena itulah desas-desus yang beredar saat ini. Hal tersebut beralasan karena pada pertengahan bulan lalu, menurut laporan dari Spanyol, Thiago ingin bergabung dengan klub Liga Premier Liverpool.

Menurut Tranfermarkt. Pemain Spanyol itu telah menyetujui persyaratan pribadi dengan juara Inggris tersebut. Hanya detail kecil saja yang harus diselesaikan. Bahkan dikatakan, Thiago telah menjual rumahnya di Munich. Liverpool juga dilaporkan bersedia membayar 20-25 juta Euro dan secara internal menyetujui transfer tersebut. Mari kita tunggu kemana perginya Thiago Alcantara.

Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan

Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan – Ada banyak alasan untuk mendefinisikan seseorang berbahagia di tempat kerjanya. Tempat kerja ini bisa bermakna kantor, pabrik, pasar, jalanan, ataupun terminal.Definisinya luas. Bisa karena mendapatkan gaji bulanan atau keuntungan yang besar. Bisa karena punya teman-teman kerja yang menyenangkan. Bisa pula karena pekerjaan yang dijalani memang membuatnya bahagia.

Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan

Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan

Termasuk definisi bahagia di tempat kerja itu bila kita dan hasil kerja kita disukai oleh atasan. Sebab, bila sudah tidak disukai oleh atasan, bekerja tidak lagi merasa nyaman. Malah, banyak teman yang keluar dan memutuskan resign dari tempatnya bekerja karena merasa “tidak dianggap” oleh bosnya. Mereka merasa tempat kerjanya tidak ubahnya seperti neraka. Mungkin hanya karena alasan gaji bulanan saja yang membuat mereka masih mau mampir ke ‘neraka’ itu.

Sebenarnya, ketika atasan tidak menyukai kita, apakah itu musibah atau malah berkah. Ada banyak kawan bercerita, memiliki atasan yang tidak asyik, itu bikin nelangsa. Apalagi bila atasan menunjukkan sikap tidak menyukai kita. Tidak ada lagi bahagia di tempat kerja. Karena merasa tidak nyaman, orang bisa berpikir mundur dari tempat kerjanya. Pendek kata, banyak orang beranggapan bila tidak disukai atasan di tempat kerja itu musibah. Kisah Pioli, pekerja yang awalnya tidak disukai atasan

Namun, pelatih klub AC Milan, Stefano Pioli, memberikan pembelajaran kepada kita bahwa memiliki atasan yang tidak asyik itu bukanlah akhir dunia. Pioli memberikan teladan bahwa tidak disukai oleh atasan di tempat kerja itu bisa menjadi sebuah penyemangat. Itu bisa merupakan keberuntungan bagi kita. Kita tahu, Pioli mengakhiri kompetisi Serie A Italia musim 2019/20 yang baru berakhir Minggu (2/8) kemarin dengan senyum kemenangan. Bukan hanya timnya. Lebih dari itu, pelatih asal Italia berusia 54 tahun yang awalnya tidak dianggap dan akan dipecat di akhir musim, malah mendapatkan perpanjangan kontrak dari manajemen Milan.

Sebelum berkisah tentang kisah Pioli di Milan pada musim ini

Saya teringat dengan buku “How to Manage Your Boss, Developing The Perfect Working Relationship” yang ditulis oleh Ross Jay. Di buku itu, Ross Jay menggambarkan seorang atasan di tempat kerja sebagai manusia biasa. Bahwa yang namanya manusia biasa, atasan bisa orang yang baik, kooperatif, tetapi ada juga yang sebaliknya. Bosses are human, some good, some bad. If you’re lucky they will be understanding, supportive, encouraging and inspiring. Then again they might be lazy, unmotivated, weak, over-emotional, sarcastic, rude, or just downright – well – bossy. But you’re no powerless victim.

Melalui buku itu, Ross ingin menekankan, sebagai bawahan, pekerja tidak bisa memilih memiliki bos yang seperti apa. Bagi pekerja yang beruntung, mereka akan mendapatkan seorang bos yang pengertian, suportif, dan inspiratif. Masalahnya, tidak semua orang beruntung mendapatkan atasan yang mau memahami, mendukung, bahkan menginspirasi kita. Sebaliknya, ada atasan yang justru menjaga jarak dengan karyawannya, baperan, dan hanya bisa menyuruh (bossy) tanpa memberikan edukasi.

Malah ada yang tidak suka dengan kita. Entah karena penampilan, kinerja, atau karena sebab lainnya. Semisal tidak suka kita tanpa alasan. Titik. Masalahnya lagi, sebagai anak buah, kita hanya bisa pasrah. Powerless victim. Pioli pun dulu begitu. Di awal melatih Milan, dia harus mendapati kenyataan bekerja di bawah manajemen yang berharap hasil serba instan. Dengan pengalamannya melatih banyak klub di Italia, dari Parma hingga Fiorentina, dia diharapkan bisa mengembalikan nama besar Milan. Padahal, melansir dari Kompas.com, ketika Pioli ditunjuk melatih Milan pada 8 Oktober silam, I’Rossoneri alias Tim Merah Hitam julukan Milan, sebenarnya dalam kondisi sakit.

Bagaimana sebuah tim tidak sakit bila mereka sudah memecat pelatih pada bulan Oktober alias hanya 1,5 bulan setelah kompetisi di mulai. Itu juga bisa menjadi gambaran betapa pragmatisme manajemen Milan kala itu. Kala itu, oleh manajemen Milan, Pioli disodori kontrak dua tahun. Pioli pun menandatangani kontrak itu. Stefano Pioli bergabung dengan AC Milan dengan perjanjian dua tahun. Klub mengharapkan yang terbaik dari Stefano (Pioli) dan staf kepelatihannya dalam kinerja mereka,” begitu bunyi statement resmi Milan dalam pernyataan resmi mereka di Football Italia seperti dikutip dari kompas.com.

Namun, tidak ada jaminan Pioli bakal bisa menyelesaikan kontraknya selama dua tahun di Milan. Sebab, bila Milan ternyata tidak mampu keluar dari tren buruk, tidak akan ada ampun bagi dirinya. Dia hanya tinggal menunggu waktu untuk dipecat. Itu juga yang dirasakan Marco Giampaolo. Apalagi sekarang ini ada banyak pemilik klub yang berpikiran pragmatis dan teramat mudah melupakan upaya pelatih dalam membangun tim. Para bos klub itu berpikir merekalah yang menggaji pelatih sehingga mudah saja memecat seorang pelatih dan menggantinya dengan pelatih lainnya. Benar saja, relasi Pioli dan Milan awalnya berjalan kurang bagus. Milan belum mampu keluar dari serangkaian hasil buruk.

Kala itu Milan hanya bisa meraih 7 kemenangan dari 19 pertandingan

Mereka sudah kalah 8 kali. Bayangkan Milan berada di bawah tim-tim seperti Verona, Torino, Parma, dan Cagliari. Bahkan, Milan meraih beberapa hasil memalukan. Bayangkan, mereka pernah dibantai Atalanta 5-0 pada 22 Desember 2019 lalu. Milan juga kalah telak 2-4 dari Inter Milan di laga derby. Milan malah kalah dua kali dari Inter di musim ini. Belum lagi kekalahan dari Torino dan Udinese. Situasi itu membuat manajemen Milan kecewa. Mereka lantas mengambil sikap. Sebelum Liga Italia dihentikan karena pandemi Covid-19 pada Maret lalu, beredar kabar bahwa mereka menyiapkan pelatih asal Jerman, Ralf Rangnick untuk menangani Milan di musim 2020/21.

Rangnick (62 tahun) dianggap pernah sukses menyulap RB Leipzig menjadi klub tangguh di Bundesliga Jerman. Meski, dia tidak punya pengalaman melatih di Italia. Itu artinya, Pioli bakal dipecat di akhir musim 2019/20. Kontrak dua tahun yang ditandatangani dulu hanyalah sebatas kontrak yang bisa diakhiri dengan cepat. Yang terjadi kemudian, Pioli ternyata tidak patah hati. Meski atasannya tak suka dirinya dan telah menyiapkan orang lain untuk menggantikannya, dia tidak uring-uringan. Justru, dia menganggap situasi tersebut sebagai berkah. Ketika Serie A dimulai kembali pada Juni lalu, Pioli yang tahu dirinya bakal dipecat ketika kompetisi berakhir, mencoba menikmati masa-masa terakhirnya di Milan.

Siapa sangka, Pioli bisa membalik situasi itu. Dari orang yang ‘dipersona non gratakan’ alias tidak disukai manajemen Milan, menjadi sosok yang dicinta. Semua itu tidak lepas dari penampilan Milan selepas jeda tiga bulan akibat pandemi. Milan dibawanya tampil ganas sejak Liga Italia kembali dilanjutkan pada 23 Juni lalu. Dari 12 penampilan, Milan tidak pernah kalah. Bila kita bisa menyikapinya benar dengan tetap bekerja profesional dan memperlihatkan hasil kerja bagus, atasan juga tidak akan menutup mata. Pada akhirnya, tidak suka itu bisa berubah menjadi reward. Dan itulah yang dilakukan Pioli di Milan.

Ketika dia dalam situasi “dislike oleh atasan”, Pioli melihatnya sebagai tantangan. Bagaimanapun, ketika seseorang tidak disukai yang mungkin sering dicari-cari kesalahannya, sebenarnya dia sedang diperhatikan. Bila seperti itu, dia ibarat sedang ada di tengah panggung dan menjadi pusat perhatian. Bila sudah seperti itu, Anda hanya perlu tetap menjalani pekerjaan dengan perasaan yang gembira. Anda hanya perlu untuk menunjukkan spirit dan totalitas kerja yang semakin besar pula. Bahwa dislike dan spirit itu harus berbanding lurus.

Pada akhirnya, prestasi mengalahkan rasa tidak suka atasan. Bila sudah prestasi yang bicara, atasan yang sebelumnya tidak suka, sangat mungkin akan berubah. Dari tidak suka, malah menjadi bergantung dengan Anda. Tentu saja, sangat sulit untuk tampil di panggung ketika penonton seolah mencemooh Anda. Butuh mental yang super kuat untuk menghadapinya. Lantas, membuat prestasi. Pada akhirnya, mengubah rasa tidak suka atasan menjadi suka. Itulah yang dilakukan Pioli. Dan kita bisa belajar darinya.