Telenovela ala El Barca kiprah Barcelona Musim Ini

Spread the love

Telenovela ala El Barca kiprah Barcelona Musim Ini – Bicara soal kiprah Barcelona musim ini, rasanya seperti menonton sebuah Telenovela. Drama demi drama muncul, bahkan sejak musim belum dimulai. Kisah Telenovela El Barca musim ini dimulai, dengan drama transfer Neymar dan Antoine Griezmann. Dua tukang gedor kelas dunia ini diincar, untuk melengkapi komposisi trisula lini depan El Barca, yang sudah diisi Lionel Messi dan Luis Suarez.

Telenovela ala El Barca kiprah Barcelona Musim Ini

Telenovela ala El Barca kiprah Barcelona Musim Ini

Sebenarnya, Barca sudah punya Phillipe Coutinho dan Ousmane Dembele, dua pemain termahal dalam sejarah klub. Masalahnya, dua pemain mahal itu sama-sama bermasalah. Coutinho akrab dengan inkonsistensi performa, sementara Dembele akrab dengan cedera otot kaki. Berangkat dari situlah, Barca lalu membidik Neymar dan Griezmann, dengan memanfaatkan situasi keduanya. Neymar ingin kembali ke Barcelona, sementara Griezmann sedang mencari tantangan baru.

Untuk nama kedua, Barca memang berhasil. Meski sempat ada tarik ulur dengan Atletico Madrid, pemenang Piala Dunia 2018 ini mendarat di Nou Camp, setelah klausul pelepasannya yang bernilai 120 juta euro dibayar El Barca. Untuk nama pertama, Barca menemui jalan buntu dengan PSG. Meski begitu, drama belum sepenuhnya selesai, karena baik Barca maupun Neymar sama-sama saling melempar kode ketertarikan untuk “balikan”.

Drama ini bisa dipastikan akan berkepanjangan, karena imbas pandemi COVID-19. Barca yang awalnya berencana memulangkan Neymar di musim panas tahun ini, dipaksa menunda rencana itu. Dengan kondisi keuangan yang kurang stabil, bisa dipastikan Barca akan main aman.

Terbukti, pada bursa transfer musim panas ini, El Barca memilih strategi “barter” saat memboyong Miralem Pjanic dari Juventus. Selain Pjanic, Barca juga mengincar Tanguy Ndombele (Tottenham Hotspur) dengan menyertakan Coutinho dan Nelson Semedo sebagai bagian dari paket transfer.

Saat musim kompetisi berjalan, drama demi drama bermunculan. Di dalam lapangan, Barca dihinggapi masalah inkonsistensi performa, suasana ruang ganti yang kurang kondusif, dan ketergantungan besar pada seorang Lionel Messi. Babakan drama ini berakhir pada pemecatan pelatih Ernesto Valverde, yang diganti dengan Quique Setien, setelah sebelumnya sempat mendekati Xavi Hernandez. Pada prosesnya, drama ini juga diwarnai dengan skandal “Barcagate”, yang sempat membuat internal klub gonjang-ganjing, terutama di tingkat direksi.

Saat pandemi COVID-19 memaksa kompetisi vakum sejenak, drama kembali muncul, setelah terjadi tarik ulur antara pemain tim utama dengan manajemen klub, terkait penyesuaian gaji. Beruntung, drama ini tak berlarut-larut, setelah Lionel Messi selaku kapten tim, mencapai titik temu dengan pihak klub.

Sayangnya, saat kompetisi kembali bergulir, masalah dalam kemasan drama kembali muncul. Kali ini, friksi di ruang ganti pemain kembali muncul, menyusul hasil imbang 2-2 di pertandingan melawan Celta Vigo dan Atletico Madrid.

Dua laga ini bisa dibilang cukup dramatis, karena Barca selalu kebobolan di menit akhir. Akibatnya, posisi Quique Setien mulai goyah, seiring naiknya Real Madrid ke puncak klasemen sementara La Liga.

Melihat panjangnya drama, yang harus dilalui Barca musim ini, sulit untuk mengharapkan situasi membaik dalam waktu singkat, karena rangkaian drama bak Telenovela sudah ada sejak semua belum dimulai. Jika dijadikan sebagai sebuah drama, perjalanan Barca musim ini layak diberi judul “Barcanovela”.

Tapi, berhubung musim ini masih belum berakhir, masih ada kesempatan untuk Barca memilih sendiri akhir cerita mereka. Alurnya bisa saja dramatis seperti kejadian-kejadian sebelumnya, dengan pilihan “happy ending” atau “sad ending” bagi mereka, tergantung dari bagaimana performa Barca di atas lapangan setelah ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *