Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan

Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan – Ada banyak alasan untuk mendefinisikan seseorang berbahagia di tempat kerjanya. Tempat kerja ini bisa bermakna kantor, pabrik, pasar, jalanan, ataupun terminal.Definisinya luas. Bisa karena mendapatkan gaji bulanan atau keuntungan yang besar. Bisa karena punya teman-teman kerja yang menyenangkan. Bisa pula karena pekerjaan yang dijalani memang membuatnya bahagia.

Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan

Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan

Termasuk definisi bahagia di tempat kerja itu bila kita dan hasil kerja kita disukai oleh atasan. Sebab, bila sudah tidak disukai oleh atasan, bekerja tidak lagi merasa nyaman. Malah, banyak teman yang keluar dan memutuskan resign dari tempatnya bekerja karena merasa “tidak dianggap” oleh bosnya. Mereka merasa tempat kerjanya tidak ubahnya seperti neraka. Mungkin hanya karena alasan gaji bulanan saja yang membuat mereka masih mau mampir ke ‘neraka’ itu.

Sebenarnya, ketika atasan tidak menyukai kita, apakah itu musibah atau malah berkah. Ada banyak kawan bercerita, memiliki atasan yang tidak asyik, itu bikin nelangsa. Apalagi bila atasan menunjukkan sikap tidak menyukai kita. Tidak ada lagi bahagia di tempat kerja. Karena merasa tidak nyaman, orang bisa berpikir mundur dari tempat kerjanya. Pendek kata, banyak orang beranggapan bila tidak disukai atasan di tempat kerja itu musibah. Kisah Pioli, pekerja yang awalnya tidak disukai atasan

Namun, pelatih klub AC Milan, Stefano Pioli, memberikan pembelajaran kepada kita bahwa memiliki atasan yang tidak asyik itu bukanlah akhir dunia. Pioli memberikan teladan bahwa tidak disukai oleh atasan di tempat kerja itu bisa menjadi sebuah penyemangat. Itu bisa merupakan keberuntungan bagi kita. Kita tahu, Pioli mengakhiri kompetisi Serie A Italia musim 2019/20 yang baru berakhir Minggu (2/8) kemarin dengan senyum kemenangan. Bukan hanya timnya. Lebih dari itu, pelatih asal Italia berusia 54 tahun yang awalnya tidak dianggap dan akan dipecat di akhir musim, malah mendapatkan perpanjangan kontrak dari manajemen Milan.

Sebelum berkisah tentang kisah Pioli di Milan pada musim ini

Saya teringat dengan buku “How to Manage Your Boss, Developing The Perfect Working Relationship” yang ditulis oleh Ross Jay. Di buku itu, Ross Jay menggambarkan seorang atasan di tempat kerja sebagai manusia biasa. Bahwa yang namanya manusia biasa, atasan bisa orang yang baik, kooperatif, tetapi ada juga yang sebaliknya. Bosses are human, some good, some bad. If you’re lucky they will be understanding, supportive, encouraging and inspiring. Then again they might be lazy, unmotivated, weak, over-emotional, sarcastic, rude, or just downright – well – bossy. But you’re no powerless victim.

Melalui buku itu, Ross ingin menekankan, sebagai bawahan, pekerja tidak bisa memilih memiliki bos yang seperti apa. Bagi pekerja yang beruntung, mereka akan mendapatkan seorang bos yang pengertian, suportif, dan inspiratif. Masalahnya, tidak semua orang beruntung mendapatkan atasan yang mau memahami, mendukung, bahkan menginspirasi kita. Sebaliknya, ada atasan yang justru menjaga jarak dengan karyawannya, baperan, dan hanya bisa menyuruh (bossy) tanpa memberikan edukasi.

Malah ada yang tidak suka dengan kita. Entah karena penampilan, kinerja, atau karena sebab lainnya. Semisal tidak suka kita tanpa alasan. Titik. Masalahnya lagi, sebagai anak buah, kita hanya bisa pasrah. Powerless victim. Pioli pun dulu begitu. Di awal melatih Milan, dia harus mendapati kenyataan bekerja di bawah manajemen yang berharap hasil serba instan. Dengan pengalamannya melatih banyak klub di Italia, dari Parma hingga Fiorentina, dia diharapkan bisa mengembalikan nama besar Milan. Padahal, melansir dari Kompas.com, ketika Pioli ditunjuk melatih Milan pada 8 Oktober silam, I’Rossoneri alias Tim Merah Hitam julukan Milan, sebenarnya dalam kondisi sakit.

Bagaimana sebuah tim tidak sakit bila mereka sudah memecat pelatih pada bulan Oktober alias hanya 1,5 bulan setelah kompetisi di mulai. Itu juga bisa menjadi gambaran betapa pragmatisme manajemen Milan kala itu. Kala itu, oleh manajemen Milan, Pioli disodori kontrak dua tahun. Pioli pun menandatangani kontrak itu. Stefano Pioli bergabung dengan AC Milan dengan perjanjian dua tahun. Klub mengharapkan yang terbaik dari Stefano (Pioli) dan staf kepelatihannya dalam kinerja mereka,” begitu bunyi statement resmi Milan dalam pernyataan resmi mereka di Football Italia seperti dikutip dari kompas.com.

Namun, tidak ada jaminan Pioli bakal bisa menyelesaikan kontraknya selama dua tahun di Milan. Sebab, bila Milan ternyata tidak mampu keluar dari tren buruk, tidak akan ada ampun bagi dirinya. Dia hanya tinggal menunggu waktu untuk dipecat. Itu juga yang dirasakan Marco Giampaolo. Apalagi sekarang ini ada banyak pemilik klub yang berpikiran pragmatis dan teramat mudah melupakan upaya pelatih dalam membangun tim. Para bos klub itu berpikir merekalah yang menggaji pelatih sehingga mudah saja memecat seorang pelatih dan menggantinya dengan pelatih lainnya. Benar saja, relasi Pioli dan Milan awalnya berjalan kurang bagus. Milan belum mampu keluar dari serangkaian hasil buruk.

Kala itu Milan hanya bisa meraih 7 kemenangan dari 19 pertandingan

Mereka sudah kalah 8 kali. Bayangkan Milan berada di bawah tim-tim seperti Verona, Torino, Parma, dan Cagliari. Bahkan, Milan meraih beberapa hasil memalukan. Bayangkan, mereka pernah dibantai Atalanta 5-0 pada 22 Desember 2019 lalu. Milan juga kalah telak 2-4 dari Inter Milan di laga derby. Milan malah kalah dua kali dari Inter di musim ini. Belum lagi kekalahan dari Torino dan Udinese. Situasi itu membuat manajemen Milan kecewa. Mereka lantas mengambil sikap. Sebelum Liga Italia dihentikan karena pandemi Covid-19 pada Maret lalu, beredar kabar bahwa mereka menyiapkan pelatih asal Jerman, Ralf Rangnick untuk menangani Milan di musim 2020/21.

Rangnick (62 tahun) dianggap pernah sukses menyulap RB Leipzig menjadi klub tangguh di Bundesliga Jerman. Meski, dia tidak punya pengalaman melatih di Italia. Itu artinya, Pioli bakal dipecat di akhir musim 2019/20. Kontrak dua tahun yang ditandatangani dulu hanyalah sebatas kontrak yang bisa diakhiri dengan cepat. Yang terjadi kemudian, Pioli ternyata tidak patah hati. Meski atasannya tak suka dirinya dan telah menyiapkan orang lain untuk menggantikannya, dia tidak uring-uringan. Justru, dia menganggap situasi tersebut sebagai berkah. Ketika Serie A dimulai kembali pada Juni lalu, Pioli yang tahu dirinya bakal dipecat ketika kompetisi berakhir, mencoba menikmati masa-masa terakhirnya di Milan.

Siapa sangka, Pioli bisa membalik situasi itu. Dari orang yang ‘dipersona non gratakan’ alias tidak disukai manajemen Milan, menjadi sosok yang dicinta. Semua itu tidak lepas dari penampilan Milan selepas jeda tiga bulan akibat pandemi. Milan dibawanya tampil ganas sejak Liga Italia kembali dilanjutkan pada 23 Juni lalu. Dari 12 penampilan, Milan tidak pernah kalah. Bila kita bisa menyikapinya benar dengan tetap bekerja profesional dan memperlihatkan hasil kerja bagus, atasan juga tidak akan menutup mata. Pada akhirnya, tidak suka itu bisa berubah menjadi reward. Dan itulah yang dilakukan Pioli di Milan.

Ketika dia dalam situasi “dislike oleh atasan”, Pioli melihatnya sebagai tantangan. Bagaimanapun, ketika seseorang tidak disukai yang mungkin sering dicari-cari kesalahannya, sebenarnya dia sedang diperhatikan. Bila seperti itu, dia ibarat sedang ada di tengah panggung dan menjadi pusat perhatian. Bila sudah seperti itu, Anda hanya perlu tetap menjalani pekerjaan dengan perasaan yang gembira. Anda hanya perlu untuk menunjukkan spirit dan totalitas kerja yang semakin besar pula. Bahwa dislike dan spirit itu harus berbanding lurus.

Pada akhirnya, prestasi mengalahkan rasa tidak suka atasan. Bila sudah prestasi yang bicara, atasan yang sebelumnya tidak suka, sangat mungkin akan berubah. Dari tidak suka, malah menjadi bergantung dengan Anda. Tentu saja, sangat sulit untuk tampil di panggung ketika penonton seolah mencemooh Anda. Butuh mental yang super kuat untuk menghadapinya. Lantas, membuat prestasi. Pada akhirnya, mengubah rasa tidak suka atasan menjadi suka. Itulah yang dilakukan Pioli. Dan kita bisa belajar darinya.

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea – Partai puncak Piala FA CUP musim 2019/2020 telah berakhir dengan kemenangan yang diraih oleh Arsenal atas Chelsea. Pertandingan yang di gelar pada.

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea

Pertandingan digelar di stadium kebanggaan Inggris yaitu Wembley stadium dengan dipimpin wasit Anthony Taylor. Kedua klub bukan hanya berebut gelar turnamen, tetapi juga pertaruhan gengsi dan harga diri penguasa London.

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea

Pasukan Mikel Arteta dan Frank Lampard menurunkan kesebelasan terbaiknya untuk meraih Piala FA CUP musim 2019/2020. Akan tetapi Arsenal berhasil keluar menjadi penguasa nya.

Padahal pasukan Frank Lampard berhasil mencetak gol terlebih dahulu melalui C. Pulisic di menit ke 5′. Akan tetapi pasukan Mikel Arteta berhasil comeback berkat dua gol yang dicetak oleh P. Aubameyang di menit ke 28′ melalui titik putih dan di menit ke 67′ melalui kerja sama tim.

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea

Dengan tambahan 1 gelar Piala FA CUP yang diraih pasukan Mikel Arteta pada musim ini, menjadikan Arsenal sebagai tim tersukses di kompetisi tertua di dunia. Dengan koleksi gelar sebanyak 14 Piala FA CUP. Dengan kekalahan ini juru taktik Frank Lampard gagal mempersembahkan gelar pertamanya untuk Chelsea.

Atas Nama Cinta dan Penantian Arsenal Aku Sayang Kamu

Atas Nama Cinta dan Penantian Arsenal Aku Sayang Kamu – Perjalanan yang sangat terjal untuk Arsenal di musim 2019/2020. Liga yang berada di peringkat 8 dan terkesan menjadi badut Liga Inggris, gugur di Liga Eropa dan Arteta yang sempat terkena virus Covid-19.

Atas Nama Cinta dan Penantian Arsenal Aku Sayang Kamu

Atas Nama Cinta dan Penantian Arsenal Aku Sayang Kamu

Pasti untuk para gooners merasakan hampir hilang harapan untuk urusan trophy, dan pasti dalam hati mereka semua sudah mencoba menerima jika seandainya Arsenal ‘puasa’ (lagi). Tapi, rasa frustasi para fans hilang ketika Arsenal mampu mengalahkan Manchester City di semi final Piala FA. Menang dari City dan lolos ke Final seolah memberikan cahaya untuk mereka yang tetap setia menemani, menyaksikan Arsenal bertanding selama musim ini.

Mikel Arteta tidak mudah melewati ini semua, sampai di Final kemarin ketika Arsenal berhasil mengalahkan Chelsea dengan skor 2-1 adalah hasil ‘kecil’ dari sebuah penantian para gooners. Kenapa saya sebut penantian kecil? Karena kita sadar betul bahwa klub berlogo meriam dari London ini sedang berada di masa transisi untuk segalanya.

Arteta bagaikan sang pencerah, penuntun untuk menyatukan kepingan puzzle yang ditinggal sepeninggal Arsene Wenger. Arteta, berani mengemban beban yang sangat berat ketika diwarisi skuat yang pas-pasan dari Unai Emery. Dia, Arteta kembali pulang ke rumah karena sadar betul rumah yang sempat dia singgahi ketika menjadi pemain harus segera direnovasi. Arsenal menang lawan Chelsea bukan hanya sekadar menjuarai Piala FA. Selain itu, Arsenal mampu membalaskan kekalahan di Final Liga Eropa musim lalu di Baku. Bagaimana tidak dendam?

Di laga Final itu kita semua sudah melambungkan sangat jauh tentang impian mengangkat Piala dengan pelatih baru ketika Arsene Wenger pensiun, ketika Wenger pada akhirnya harus tetap mencintai Arsenal tanpa saling bersama lagi. Berhasil menjuarai Piala FA, itu artinya 14x sudah berjejeran trophy tersebut di etalase piala milik Arsenal.

14 Piala FA semoga menjadi titik balik untuk kebangkitan Arsenal yang saat ini digandeng erat oleh Arteta. Ibarat cowok yang memengang erat tangan wanita nya, genggaman yang penuh rasa cinta di tengah kegetiran yang melanda untuk kelanggengan sebuah hubungan. Semoga Arteta tidak seperti Emery yang hanya memberikan bayang semu belaka. Progress untuk Arsenal yang nyata di masa yang akan datang, dan semoga secepatnya Arsenal juga kembali menjuarai Liga Inggris.

Jika di kehidupan ini ada harapan, impian dan juga kehidupan. Maka, Arsenal saat ini sedang memberikan contoh nyata tentang tiga hal tersebut. Bagaimana berjuang untuk mewujudkan harapan dan impian juga untuk kehidupan yang lebih baik, indah juga penuh cinta. Rayakan kemenangan Arsenal ini untuk para pemain yang sudah berjuang, untuk Arteta sang pencerah, dan juga untuk kita semua yang sudah melewati banyak jalan terjal di Tahun ini.

Sepenting Apakah Piala FA bagi Pierre Emerick Aubameyang

Sepenting Apakah Piala FA bagi Pierre Emerick Aubameyang – Pada hari Sabtu (1/8/20) pukul 23.30 WIB di Stadion Wembley, London akan menjadi saksi laga final perebutan Emirates FA Cup dalam tajuk duel derby London. Arsenal dan Chelsea akan membuktikan sebagai tim yang layak dan berhak meraih piala tersebut dalam kejuaraan tertua di Inggris ini. Untuk itu manajer muda, Mikel Arteta dan Frank Lampard akan beradu taktik.

Sepenting Apakah Piala FA bagi Pierre Emerick Aubameyang

Sepenting Apakah Piala FA bagi Pierre Emerick Aubameyang

Bagi kedua pelatih, baik Arteta maupun Lampard, inilah trofi pertama yang akan mereka raih dalam debut karirnya sebagai pelatih. Disamping itu laga final ini menjadi penentu bagi kelanjutan karir Pierre-Emerick Aubameyang di Arsenal. Mengapa demikian? Mari kita simak betapa pentingnya gelar ini bagi striker utama The Gunners ini. Setelah mereka gagal finis 6 besar, maka Piala FA ini menjadi satu-satunya trofi yang bisa diraih The Gunners pada musim ini.

Hal itu karena Arsenal sudah tersingkir di Liga Europa dan hanya finis di posisi ke-8 Liga Inggris musim ini di bawah Tottenham Hotspur dan Wolverhampton. Jika meraih juara Piala FA ini, maka Arsenal berhak lolos ke Liga Eropa. Oleh karena itu jika mereka gagal mengangkat trofi Piala FA, maka bisa berdampak negatif buat pemain bintang seperti Aubameyang. Penyerang Timnas Gabon itu jelas tidak ingin bertahan lebih lama di Stadion Emirates tanpa adanys garansi untuk meraih gelar dalam waktu dekat atau di kompetisi mendatang.

Gelar Piala FA ini sangat penting bagi Aubameyang. Kegagalan itu juga berarti tidak ada pemasukan sebesar 30 juta poundsterling bagi Arsenal karena berlaga di pentas Eropa. Dampaknya setelah dipukul oleh pandemi covid 19 ini Arsenal semakin terpuruk kondosi keuangannya. Hal itu bisa berpengaruh pada perpanjangan kontrak Aubameyang yang akan habis musim depan. Persiapan dana harus cukup untuk jaminan menahan kontrak Aubameyang tetap ada di Emirates.

Saat ini Aubameyang mendapatkan gaji 250 ribu poundsterling per pekan. Besaran gaji yang tidak kecil bagi Arsenal di tengah persoalan finansial karena dampak virus corona. Dengan usianya saat ini yang sudah menginjak 31 tahun, Aubameyang tidak memiliki kesempatan lebih leluasa. Untuk itu Auba tidak punya banyak waktu lagi untuk menunggu. Dia butuh tim yang bisa menggaransi untuk meraih gelar tiap musim kompetisi yang diikutinya. Akhir-akhir ini, Aubameyang yang terikat kontrak hingga 30 Juni 2021 itu sempat dikaitkan dengan dua tim raksasa Spanyol yaitu Real Madrid dan Barcelona.

Tentu saja Arsenal tidak akan membiarkan pemain andalannya hengkang dari Emirates London. Dalam perebutan sepatu emas Premier League yang baru saja usai, Aubameyang hanya berselisih satu gol saja dari bomber Leicester City, Jamie Vardy yang mengoleksi 23 gol sebagai top skor. Prestasi yang sangat membanggakan bagi The Gunners sekaligus bukti nyata jika Auba adalah striker tajam yang harus dipertahankan. Manajer Arsenal Mikel Arteta adalah Kapten yang menang pada perebutan FA Cup tahun 2014. Arteta berharap tim muda asuhannya bisa melanjutkan proses mereka untuk meraih Piala FA.

Saya ingat merasa sangat bangga menjadi kapten klub saat menang pada 2014. Merupakan salah satu permainan paling menakjubkan yang pernah saya ikuti. Mengangkat trofi adalah salah satu momen luar biasa dalam karir bermain saya dan saya ingin pemain Arsenal saya saat ini untuk mengalami perasaan ini juga. Klub ini pantas mendapatkan yang terbaik untuk mencerminkan sejarah kita yang kaya, dan kita harus berjuang untuk setiap penghargaan yang tersedia.” Demikian Mikel Arteta mengatakan hal tersebut seperti dilansir The FA.

Arteta sangat berharap performa Arsenal ketika mengalahkan Manchester City di semifinal bisa mereka ualngi lagi dalam laga final ini. Menurutnya itu adalah laga yang luar biasa, termasuk gol-gol fantastis dari Pierre-Emerick Aubameyang. melawan City, salah satu tim terbaik di Eropa. Arsenal adalah pemegang juara terbanyak Piala FA yaitu 13 kali disusul Manchester United sebanyak 12 kali jura. Final melawan Chelsea merupakan target untuk meraih Piala FA yang ke-14. The Gunners memiliki semangat tinggi untuk menorehkan sejarah untuk kembali merebut Emirates FA Cup tahun ini. Kemenangan dalam laga final ini juga merupakan kemenangan bagi Aubameyang untuk tetap bertahan di Emirates Stadium London.

Jurgen Klopp Permainan Tim yang Klop Membuatnya Makin Ngetop

Jurgen Klopp Permainan Tim yang Klop Membuatnya Makin Ngetop – Musim kompetisi Liga Inggris 2019/2020 dinyatakan usai pada minggu lalu, sesudah semua tim melakoni laga ke-38 dalam waktu yang bersamaan. Meski begitu jauh sebelum kompetisi berakhir, tepatnya di pekan ke-31, Liverpool sudah dinyatakan sebagai juara karena tak mungkin lagi disalip peringkat di bawahnya, Manchester City.

Jurgen Klopp Permainan Tim yang Klop Membuatnya Makin Ngetop

Jurgen Klopp Permainan Tim yang Klop Membuatnya Makin Ngetop

Namun di balik pencapaian juara Liga Inggris oleh Liverpool di musi, ini, tidak hanya pemain saja yang berkontribusi besar, tapi ada peran sentral seorang pelatih yang bernama Jurgen Kloop. Beragam harapan dimunculkan saat kedatangan Kloop ke Stadion Anfield. Tercatat semenjak berubahnya format kompetisi menjadi Premier League seperti saat ini, Liverpool tidak pernah meraih juara. Paling apes mendapat peringkat dua berkali-kali meski pernah menjuarai UCL di awal 2000-an. Akibatnya Liverpudlian (fans Liverpool).

Harus menahankan rasa sakitnya digantung layaknya gebetan yang tak kunjung mengutarakan cinta. Itu sebabnya Liverpudlian berpengharapan besar kepada Kloop agar memutus “kutukan” tersebut. Di tahun 2015, Kloop setidaknya berjanji bahwa dia akan meraih trofi bergengsi dalam kurun empat tahun ke depan. Bagi mereka yang tidak mengenal sepak terjang Kloop, sekilas omongannya terdengar seperti gombalan ABG yang sedang dimabuk asmara, hanya sebagai pepesan kosong. Kalau kata beken anak zaman sekarang OMDO (omong doang).

Tapi bagi orang yang mengikuti perkembangan sepakbola beda halnya. Bagi saya itu bukan sekadar pepesan atau isapan jempol. Itu seperti layaknya peluru yang siap ditembakkan jika segala persiapan sudah matang. Racikan strateginya penuh dengan warna. Klub yang diasuhnya dipastikan akan mampu bersaing dengan klub lainnya dengan sumber daya yang ada. Ditambah Kloop bukan pelatih tipikal haus akan bintang, melainkan pengorbit bintang. Tak heran neraca keuangan tim yang ditanganinya mengalami keuntungan.

Rekor Dortmund yang tak pernah menjuarai Liga Jerman selama puluhan tahun akhirnya pupus, dibawah asuhannya Dortmund mampu menggondol trofi Liga Jerman dan menjuarai DFB Vokal. Sekaligus mendobrak hegemoni Bayern Muenchen di persepakbolaan Jerman. Pernah juga menjadi Runner Up Liga Champions sebab dikalahkan rival beratnya di Jerman, Bayern Muenchen. Padahal pemain-pemainnya tidak ada yang berlabel pemain bintang kelas dunia. Semua ditunjang oleh keinginannya yang mengharamkan pemain yang sekadar mengandalkan skill individu belaka, malahan menginginkan pola permainan yang klop dengan karakteristik bermain secara kolektif.

Hasilnya tadi juara Liga Jerman dapat direngkuh. Pemain bintang bermunculan seperti Lewandowski, Goetze, Reus, dan lain-lain. Maka tak heran ketika kemunculannya ke Liverpool membuat para Liverpudlian berpengharapan besar. Julukan Looserpool yang biasa dicemoh kepada timnya akan perlahan hilang. Liverpool tergolong sukses dalam menerapkan gegenpressing ala Kloop dengan bermain tempo cepat dan selalu menyerang. Setiap pertandingan yang dilakoninya dijalankan dengan apik. Bahkan tim sekelas Barcelona yang diperkuat Messi saja dijungkirbalikkan dari kalah tiga kosong di pertemuan pertama menjadi menang empat kosong di pertemuan terakhir.

Janji yang diutarakannya untuk menggondol trofi bergengsi untuk empat tahun ke depan ditepatinya. Si kuping besar dapat diraihnya setelah mengalahkan Tottenham di musim lalu. Hanya saja juara Liga Inggris saat itu raib dari genggaman mereka. Akan tetapi di musim ini dapat diraihnya berkat trisula mautnya Firmansah (Firminho, Mane, dan Salah). Pola permainan cepat Kloop terlihat seperti tradisi sepakbola kebanggan Inggris yaitu kick and rush, yang mampu menghibur penonton. Permainan indah tersaji dalam bekapan mata. Berkat sentuhan tangan dinginnya, pemain Liverpool seakan menjadi sosok menakutkan di segala sisi. Sebut saja Allison di posisi penjaga gawang.

Van Dijk di pertahanan. Arnold bek sayap merangkap pengumpan yang memanjakan sasarannya. Dan gelandang petarung Milner, dan tentu saja trio Firmansyah dengan penyelesaian yang apik. Semua terasa lengkap dan tidak mempunyai lubang yang mesti ditambal. Selain itu, pemain Liverpool yang sebelum kedatangan Kloop terkesan biasa-biasa saja berubah menjadi salah satu pemain terbaik di dunia saat ini pada posisinya masing-masing. Semua pelatih kini memuja transformasi permainan Liverpool.

Tim yang sempat disebut menuju tim medioker sebelum kedatangan Kloop berubah menjadi macan ganas yang siap mengobrak abrik pertahanan lawan. Kini pamor Kloop makin ngetop dan mulai disejajarkan dengan Pep Guardiola, Jose Mourinho, bahkan sang legenda Sir Alex Ferguson.

Ketika Sharpshooter Lautaro Martinez Mengacaukan Nasib Napoli

Ketika Sharpshooter Lautaro Martinez Mengacaukan Nasib Napoli – Ada kabar baik yang berhembus di sekitar Stadion San Siro. Ialah sang Nerazzurri alias Internazionale Milano yang berhasil main cantik mengalahkan Napoli dengan skor 2-0 di pekan ke-37 Serie A. Gol pertama pasukan Antonio Conte ini datang dari Danilo D’Ambrosio, tepatnya pada menit ke-11. Berawal dari sodoran bola datar dari Cristiano Biraghi, Danilo yang berada pada posisi bebas di kotak penalti sukses membuat kiper Alex Meret diam tak berdaya.

Ketika Sharpshooter Lautaro Martinez Mengacaukan Nasib Napoli

Ketika Sharpshooter Lautaro Martinez Mengacaukan Nasib Napoli

Sedangkan gol kedua Inter, datang dari penyerang Argentina buruan Barcelona yang bernama Lautaro Martinez, tepatnya pada menit ke-74. Bermula dari umpan Nicolo Barella, penyerang dengan nomor punggung 10 yang masuk menggantikan Alexis Sanchez di babak kedua ini memamerkan akselerasinya dan kemudian mencetak gol dari luar kotak penalti. Lagi-lagi kiper Napoli tak berkutik untuk kedua kalinya.

Inter Milan benar-benar bermain efektif pada laga ini. Statistik berbicara, Romelu Lukaku dan kawan-kawan hanya menerbitkan 8 tembakan. 2 tembakan miss, 6 tembakan tepat sasaran dan menelurkan 2 gol. Sedangkan Napoli unggul dari sisi penguasaan bola dan total tembakan. Walau bertandang ke markas Inter, Napoli berhasil merengkuh 59% penguasaan bola dengan total 18 tembakan. Tapi sayang, hanya 2 darinya yang sampai ke gawang Handanovic.

Atas hasil ini, Inter Milan masih nyaman nangkring di peringkat ke-2 klasemen Serie A. Dalam 37 pekan, pasukan Antonio Conte telah mengumpulkan 79 poin. Hanya unggul satu poin dengan Atalanta yang berada di peringkat ke-3. Pasca kemenangan ini, Antonio Conte pun berkomentar kepada Sky dan mengungkapkan secarik kesenangannya. Kami tidak punya pilihan selain menang, dan situasi seperti ini penting karena, bahkan jika Anda tidak mendapatkan gelar untuk finis di tempat kedua, tetapi membiasakan diri dengan tekanan adalah hal yang penting. Kami merespons sebagai kesatuan yang sessungguhnya pada dini hari ini, dan saya merasa sangat senang untuk tim.

Ya, bersama Inter Milan di musim ini, Antonio Conte memang belum memberikan satu piala pun untuk dipajang di ruang khusus sang Nerazzurri. Scudetto telah dicomot Juventus, sedangkan piala Coppa Italia sudah direnggut oleh Napoli. Harapan Inter Milan adalah tetap nangkring di peringkat ke-2 hingga akhir musim, dan melawan Atalanta pada pekan ke-38 nanti adalah penentunya. Setelah itu, barulah Conte akan berusaha lebih serius untuk merebutkan satu piala lagi. yaitu piala Liga Europa.

Ketika Sharpshooter Lautaro Martinez Mengacaukan Napoli

Atas kemenangan kontra Napoli ini, sorotan pun datang ke pangkuan sang penyerang muda yang bernama Lautaro Martinez. Seusai laga, laman inter.it pun memberikan julukan sharpshooter kepadanya.
Sharpshooter sejatinya merupakan julukan terhadap senjata tempur yang sudah dimodifikasi. Tapi, untuk seorang Lautaro, sharpshooter adalah julukan bagi seorang penyerang sekaligus penembak jitu. Buktinya? Yaitu gol kontra Napoli semalam. Gol cantik dari hasil main cantik itu merupakan hasil tendangan yang menggelar dari luar kotak penalti.

Dan faktanya, gol Lautaro malam tadi merupakan yang keempat miliknya dari luar kotak penalti dan tidak ada pemain lainnya di dalam skuat Inter yang mampu melakukannya lebih baik dalam satu musim sejak Ibrahimovic pada 2008/09. Sayangnya, gol itu pula yang mengacaukan nasib Napoli di Serie A. Bagaimana tidak, pasukan Gennaro Gattuso yang saat ini berada di peringkat ke-7 semakin kacau nasibnya karena sudah keluar dari big four zona Liga Champions musim depan.

Karena kalah di pekan ke-37, poin Napoli masih berhenti di angka 59, berjarak 1 poin dari AC Milan yang baru akan bertandang ke markas Sampdoria pada Kamis. Andai AC Milan menang, maka pupuslah harapan Napoli untuk duduk di peringkat ke-6. Sebuah prestasi minor bila dibandingkan dengan musim sebelumnya. Musim 2018/2019, Napoli mengunci peringkat ke-2, sedangkan musim ini Mertens dkk masih tertunduk di peringkat ke-7. Alhasil, pasca kekalahan kontra Inter Milan, Gennaro Gattuso pun mengungkapkan kejengkelannya dalam wawancara bersama Sky Sport Italia.

Memang benar bahwa kami memenangkan piala, tetapi itu membuat saya jengkel ketika saya melihat kepuasan. Kami membuat banyak kesalahan di depan gawang dan saya tidak ingin kami menyalahkan orang lain, kami harus berpikir sebagai tim. Sejatinya Napoli cukup beruntung karena memenangkan Coppa Italia. Darinya, klub yang berdiam di Naples ini sudah mendapat tempat untuk berlaga di Liga Europa musim depan.

Tapi, peluang Napoli untuk mendapat jatah tiket Liga Champions juga masih terbuka. Secara, pasukan Gattuso masih akan bertandang ke markas Barcelona pada lanjutan leg ke-2 babak 16 besar Liga Champions. Jalan Napoli masih cukup jauh, tapi peluang selalu ada. Setelah kekalahan atas Inter Milan, Napoli harus kembali menemukan ritme permainan terbaik untuk segera memperbaiki nasibnya. Jika tidak, maka Gattuso harus mengubur mimpinya untuk berlaga di Liga Champions musim depan.

Jelang Inter vs Napoli Mungkinkah Lukaku dan Sanchez Mengamuk Lagi

Jelang Inter vs Napoli Mungkinkah Lukaku dan Sanchez Mengamuk Lagi – Pertengahan minggu ini, laga akbar kompetisi Serie A pekan ke-37 kembali tersaji. Adalah duel Inter Milan kontra Napoli yang akan digelar pada dini hari nanti di Giuseppe Meazza, markas Inter Milan. 2 hari sebelumnya, tepatnya pada Lukaku dan kawan-kawan berhasil memetik kemenangan fantastis atas Genoa 3-0 di Stadio Luigi Ferraris, markas Genoa. Adapun gol-gol kemenangan Inter di hari itu masing-masing dicetak oleh Romelu Lukaku sebanyak dua gol (34, 90+3), dan Alexis Sanchez sebanyak 1 gol (83).

Jelang Inter vs Napoli Mungkinkah Lukaku dan Sanchez Mengamuk Lagi

Kemenangan ini disebut fantastis karena sesungguhnya tidak mudah bagi Inter untuk mengalahkan tim-tim yang ingin tetap berlaga di Serie A musim depan seperti Genoa. Terang saja, Genoa yang saat ini berada pada peringkat 17 (poin 36) harus mendapatkan minimal 1 kali imbang lagi agar tidak digusur oleh Lecce di peringkat 18 (poin 32). Dan, pertandingan di Serie A tinggal menyisahkan 2 laga pamungkas. Pemilik scudetto sudah ada, dan pemiliknya bernama Si Nyonya Tua Juventus. Juventus sudah mengunci singgahsana

Poin yang dikumpulkan Juventus sudah tak dapat terkejar lagi. Lalu, bagaimana dengan Inter Milan?
Saat ini Inter Milan berada di peringkat ke-2 dengan jumlah poin 76. Performa yang dicap angin-anginan sejak ba’da corona menjadikan Inter harus rela menyilakan Juventus duduk di tangga scudetto lebih cepat. Hanya saja, di laga terakhir kontra Genoa kemarin, Inter mulai panas. Walaupun sang pelatih, Antonio Conte selalu merotasi 3-5 pemain di setiap laga, permainan Lukaku dan kawan-kawan kali ini lebih enak ditonton.

Terutama setelah si Striker buruan Barca, Lautaro Martinez digantikan dengan Alexis Sanchez pada menit ke-64. Duet Lukaku-Sanchez di lini depan seakan jadi mimpi buruk bagi pertahanan Genoa. Alhasil, Inter Milan menambah dwi gol lagi pada menit ke-83 dan 93. 1 gol disumbangkan Sanchez, 1 gol lagi dipersembahkan oleh Lukaku. Duet keduanya makin padu, dan duet inilah yang akan bersiap menggetarkan pertahanan Napoli. Melawan Napoli adalah laga yang cukup penting bagi Inter Milan. Selain untuk tetap bertahan di peringkat ke-2.

Inter Milan juga perlu membina konsistensi sembari jelang Europa League. Ya, itulah satu-satunya harapan Inter untuk mendapatkan piala di musim ini. Meski dini hari nanti Napoli akan bermain dengan semangat juang tinggi demi mengejar tiket lolos otomatis ke Europa League, secara rekor pertemuan, keunggulan masih milik Inter. Tercatat dalam situs resmi Inter.it, Nerazzurri dan Napoli telah bertemu sebanyak 147 kali di liga, dengan rekor Nerazzurri melawan Partenopei adalah sebagai berikut: 65 kemenangan, 36 hasil seri, dan 46 kali kalah.

Pertemuan pertama di Serie A musim ini, Inter berhasil menundukkan Napoli di Naples dengan skor 3-1. Saat itu, dwi gol dicetak oleh Lukaku, dan sebiji gol lagi ditorehkan oleh Lautaro Martinez. Mengingat pentingnya duel akbar antara Inter kontra Napoli, pemain yang saat ini patut menjadi sorotan di kubu Inter adalah Lukaku dan Sanchez. Lukaku, pada laga kontra Genoa kemarin telah menunjukkan skill, speed, hingga solo run yang menjadi ciri khasnya sebagai striker tajam. Alhasil, didapatkan olehnya 2 gol.

Setelah mencetak dua gol melawan Genoa, Lukaku tercatat telah menorehkan 29 gol pada musim ini, dan itu adalah catatan terbaiknya dalam satu musim. Hal ini sempat ia ungkapkan ketika diwawancarai oleh Sky Sport setelah pertandingan. Saya merasa senang, tetapi sebagai tim, kami masih bisa melakukan lebih. Kami harus mengakhiri musim kami sebaik mungkin, dan saya selalu berjuang untuk membantu tim. Kami memiliki penyesalan dan membiarkan terlalu banyak poin hilang dari genggaman kami, tetapi kami adalah tim yang masih muda dan masih perlu berkembang.” tutur Lukaku.

Melihat performa luar biasa yang ditampilkan oleh Lukaku, Antonio Conte pun ikut mencurahkan argumennya. Conte memuji Lukaku dan menganggapnya sebagai pemain yang unik. Sejak digulirnya Serie A pasca pandemi, Sanchez mulai menunjukkan tajinya. Kontribusinya cukup penting bagi Inter. Tercatat, Alexis telah menjadi penyumbang assist terbanyak di klub Nerazzurri ini. total, 9 assists telah ia torehkan, lebih banyak daripada Antonio Candreva (8).

Beruntung bagi Inter karena Alexis Sanchez adalah tipe penyerang yang suka membantu. Dibandingkan dengan penyerang muda Inter, Lautaro Martinez, Sanchez lebih doyan gerak serta menciptakan peluang. Maka dari itulah Sanchez cocok diduetkan baik dengan Lukaku maupun Lautaro. Menurut prediksi situs nerazzurrialle.id, Conte akan memasang formasi 3-5-2 dengan menduetkan Lukaku-Sanchez di lini serang. Sedangkan di sektor gelandang, Barella yang sudah fit akan berduet dengan Brozovic, serta Eriksen di posisi trequartista. Di sisi pertahanan, trio bek Bastoni-de Vrij-Skriniar akan tersaji untuk melindungi gawang yang diasuh oleh Handanovic. Sisanya, sektor sayap akan diisi oleh Ashley Young dan Candreva.

Sedangkan dari kubu Napoli, agaknya pertandingan melawan Inter nanti cukup sulit dan dilematis bagi Mertens dan kawan-kawan. Terang saja, setelah berjumpa Inter, Napoli akan kembali menghadapi lawan berat Lazio di awal Agustus nanti. Setelah itu, Napoli juga akan berjumpa Barcelona dalam lanjutan Liga Champions. Artinya, baik Inter maupun Napoli akan sama-sama mengincar kemenangan demi memperbaiki posisi mereka, jelang berakhirnya Liga Italia musim ini. Laga ini jadi semakin menarik karena peluang amukan duet Lukaku-Sanchez bakal tersaji lagi.

The Long and Winding Road Kisah Perjalanan MU Musim Ini

The Long and Winding Road Kisah Perjalanan MU Musim Ini – Akhirnya fans MU (Manchester United) bisa bernafas lega. Setelah tertatih-tatih dan terbata-bata sejak awal musim, fans MU akhirnya bisa menikmati segelas bir ditengah pandemic Covid-19 yang mencekam. MU akhirnya duduk manis pada posisi ketiga klasemen EPL, bukan keempat, yang jelas melebihi target semula. Posisi tiga jelas membuat fans MU pede pake banget, karena level mereka kini sejajar dengan fans Liverpool, Sitetangga berisik (Manchester City) dan Chelsea tentunya dalam klub Liga Champion.

The Long and Winding Road Kisah Perjalanan MU Musim Ini

The Long and Winding Road Kisah Perjalanan MU Musim Ini

Fans MU kini boleh menertawakan Gooners (fans Arsenal) yang terpuruk di posisi ke-8 papan tengah, dan juga Tottenham Hotspur asuhan Jose Mourinho, sang mantan pecatan. Adalah mantan pemain tengah Sporting CP, Portugal bernama Bruno Fernandes yang dianggap sebagai malaikat penyelamat MU. Bruno Fernandes datang pada bursa transfer Januari 2020. Padahal sebelumnya Solksjaer ngotot untuk mendatangkannya pada awal musim. Namun negosiasi dengan Sporting berjalan alot hingga akhirnya United harus membayar 55 juta euro kepada Sporting. Tanpa mengecilkan peranan pemain lainnya, kehadiran Fernandes memang praktis mengubah wajah permainan dan juga nasib MU!

Perjalanan MU musim ini memang Panjang dan berliku. MU sendiri memulai musim dengan gemilang setelah berhasil mempecundangi Chelsea dengan skor telak 4-0. Namun setelah itu mereka terseok-seok seperti menapaki jalan terjal dan curam. Pekan ke-8 MU terjungkal ditangan Newcastle di St james Park, Minggu (6/10/2019). MU terpaku di posisi ke-12 dengan Sembilan poin saja! Ini adalah kekalahan ketiga yang ditorehkan MU dari delapan laga terakhir. Tak hanya itu, mereka pun cuma bisa meraih dua kemenangan dan hanya mampu membukukan sembilan gol saja.

Jika kembali menuai kekalahan di pekan berikutnya, MU bisa terjun bebas hingga ke posisi 18. Padahal lawan berikutnya adalah Liverpool, satu-satunya tim yang selalu menang tanpa pernah mengenal hasil seri atau kalah. Untunglah ada jeda internasional, sehingga Solksjaer punya sedikit waktu untuk berpikir. Di awal musim, Solskjaer sebenarnya sudah belanja besar. Harry Maguire, Aaron Wan-Bissaka, dan Daniel James didatangkan ke Old Trafford. Namun, mereka belum memberi dampak yang signifikan.

United belum mampu bersaing di papan atas klasemen. Salah satu titik lemah yang menonjol adalah kreativitas di lini tengah. Solskjaer tidak punya pemain yang bisa menjadi playmaker di lini tengah setelah Juan Mata semakin menua dan labilnya penampilan Fred. Bruno Fernandes memang pemain hebat karena cepat menyatu dan memberi dampak instan pada permainan Setan Merah. Dia langsung menjadi pilihan utama di lini tengah dan menjadi poros utama permainan.

Duetnya bersama Paul Pogba pun nyatanya bisa berjalan mulus. Bahkan, mereka menjadi kunci dari permainan apik Setan Merah. Penampilan Bruno Fernandes ini sendiri mengingatkan penulis akan sosok Manuel Rui Costa, playmaker kreatif klub Fiorentina dulu. Seperti Rui Costa di Fiorentina, tampaknya Fernandes kelak akan menjadi bintang MU pula. Kemarin itu kompetisi EPL sempat terhenti beberapa bulan karena pandemic Covid-19, dan sempat ada wacana untuk menghentikan total musim kompetisi 2019-2020. Namun akhirnya kompetisi dimulai lagi sejak Juni kemarin, dan penampilan MU justru semakin trengginas tanpa pernah kalah.

Sejak Bruno Fernandes bergabung di awal Januari 2020, Solksjaer konsisten bermain dengan skema 4-2-3-1. David de Gea menjadi kiper. Lalu Aaron Wan Bissaka mengisi pos bek-sayap kanan, Luke Shaw pos bek-sayap kiri serta duet Harry Maguire dengan Victor Lindelof mengisi pos sentral bek. Duet Paul Poga dan Nemanja Matic menjadi jantung permainan MU. Duet ini menjadi awal serangan, pemutus serangan lawan dan penyeimbang permainan MU di lini tengah. Di depan mereka ada trio gelandang serang. Marcus Rasford, Bruno Fernandes dan Mason Greenwood, untuk membantu penyerang tengah yang Kembali naik daun, Anthony Martial.

Nah dengan formasi tetap ini, Solksjaer pun tidak terlalu pusing untuk mengatur susunan pemain untuk setiap pertandingan, sehingga bisa fokus kepada strategi permainan saja. Awalnya Harry Maguire sering dibully sebagai pemain flop (pembelian gagal) apalagi dengan status bek termahal di dunia. Namun berjalannya waktu, permainannya semakin yahud untuk kemudian mejadi tembok kokoh di pertahanan MU bersama Lindelof. MU juga tidak salah Ketika membeli Bissaka, yang dalam perjalanannya mampu bersaing dengan TA Arnold Liverpool dalam perebutan bek kanan terbaik di EPL. Sementara itu Luke Shaw yang selama ini menghuni waiting list pemain yang akan dijual, justru Kembali menemukan permainan terbaiknya di pos bek kiri. Pelapisnya, Brandon Williams tak kalah pula permainannya dengan sang senior.

Kompaknya lini belakang MU (terutama sejak awal tahun) membuat lini belakang MU menjadi salah satu yang terkuat di EPL. Ketika Pogba/Matic cedera, Scott McTominay dan Fred hadir untuk menjadi double pivot Tangguh. Untuk soal pertahanan, duet McTominay/Fred masih lebih baik daripada duet Pogba/Matic. Tetapi untuk keseimbangan permainan duet Pogba/Matic ini lebih baik. Fred memang pemain serba bisa, tetapi penampilannya labil dan visinya masih kalah dari Pogba. Kompaknya lini vital ini membuat pertahanan MU kini sulit ditembus.

Di sisi penyerangan, MU justru trengginas dan tidak kalah dengan “sitetangga berisik,” Manchester City. Rashford dan Martial Kembali menemukan ketajamannya. Martial kini diplot menjadi penyerang tengah. Sekalipun Rasford diplot di sisi kiri, namun ia sering pula beropreasi di sayap kanan atau ditengah. Demikian pula halnya dengan Martial, yang pernah diplot Mourinho di sayap kiri. Fleksibilitas adalah kata kunci ganasnya kedua penyerang cepat ini.

Di belakang mereka ada sang play maker, Bruno Fernandes serta Mason Greenwood/Daniel James yang tak kalah pula garangnya untuk mencetak gol dari peluang sekecil apapun. Mason Greenwood/Daniel James ini tampaknya akan segera menyingkirkan Jesse Lingard dari pos sayap kanan MU. Semua pemain yang didatangkan MU, baik pada musim panas 2019 lalu maupun musim dingin 2020, semuanya sukses menjadi pemain bintang. Tidak ada lagi pembelian kucing dalam karung yang membuat klub dan fans menjadi bete.

Bissaka, Maguire dan Daniel James yang didatangkan pada musim panas serta Fernandes dan Odion Ighalo pada musim dingin benar-benar memberikan kontribusi besar bagi klub. Odion Ighalo sendiri dipinjam dari klub Shanghai Shenhua, membuat MU terkesan seperti klub yang sedang putus asa, dan menjadi bahan tertawaan. Soalnya Ighalo ini seperti “motcin” (motor China) rasa Harley Davidson. Soale, Liga China itu kan kelasnya seperti Liga Championship atau masih di bawahnya lagi. Trus, kalau Ighalo itu memang bintang besar, kan tak mungkin juga Shanghai Shenhua mau meminjamkannya. Tapi dasar rezeki anak soleh, MU ketiban hoki. “Jetmatic” (Odion Ighalo) itupun melaju kencang diantara “moge” (pemain bintang) liga Inggris.

Kini semuanya bingung. Ighalo bingung karena ia ternyata sukses di Inggris. MU juga bingung karena tadinya Ighalo cuma mau dijadikan “ban serap,” eh gak taunya moncer pula. MU jelas menginginkannya. Masalahnya gaji Ighalo tinggi sekali. Shanghai Shenhua juga bingung. Ighalo itu cocoknya “makan steak bukan bakmi!” Ighalo yang pensiunan pemain Watford ini memang lebih baik bermain di Inggris saja. Gajinya yang sangat tinggi itu juga bisa membuat klubnya bangkrut, apalagi setelah Covid-19 menyerang China.

Ighalo sendiri rela gajinya dipotong asalkan bisa bergabung dengan MU. Soalnya pemain Nigeria berusia 31 tahun ini adalah pemain Nigeria pertama yang bermain di MU, membuat sang pemain dipuja di negaranya. Semuanya pasti sepakat kalau Solksjaer bukanlah ahli strategi sekaliber Fergie yang sukses melambungkan nama MU. Namun Solksjaer adalah seorang pelatih hebat yang bisa dekat dengan para pemainnya.

Sifat rendah hatinya itu rupanya menular kepada para pemainnya sehingga mereka itu tidak jemawa Ketika berhadapan dengan lawan yang levelnya lebih rendah dari mereka. Kalau Ahok kini lebih suka dipanggil dengan sebutan BTP, maka Solksjaer lebih suka tetap dipanggil dengan nama Ole, nama yang sama Ketika ia masih bermain sebagai pemain MU. Jangan panggil saya boss, panggil saja saya Ole” katanya kepada para anak buah dan stafnya. “Kami sudah bekerja bersama dan saling kenal selama bertahun-tahun. Saya tidak ingin mereka memanggilku bos,” ujar Solskjaer.

Angin Baru Manchester United bersama Bruno Fernandes

Angin Baru Manchester United bersama Bruno Fernandes – Manchester United mengamankan tempat mereka di Liga Champions UEFA musim depan setelah meraih kemenangan atas Leicester City. Hasil ini membuat mereka berada di empat besar pada hari terakhir kompetisi Premier League tahun 2020. Ole Gunnar Solskjaer senang telah membuktikan kepada mereka bahwa cibiran tersebut adalah salah setelah United finis diposisi ketiga. Saya percaya pada apa yang saya lakukan dan percaya pada apa yang telah saya lakukan.

Angin Baru Manchester United bersama Bruno Fernandes

Angin Baru Manchester United bersama Bruno Fernandes

Kita semua memiliki ide manajemen yang berbeda dan saya melakukannya dengan cara saya. Penalti Bruno Fernandes dan gol Jesse Lingard cukup untuk kemenangan bagi United atas Leicester City. Kemenangan yang membawa Setan Merah finis di atas Chelsea pada urutan ketiga. Mereka unggul selisih gol atas The Blues, tim asal London. Bruno Fernandes seakan membawa angin baru bagi Manchester United dalam beberapa bulan terakhir ini. Sejak dirinya bergabung di Old Trafford, United belum merasakan kekalahan di kompetisi Liga Premier.

Fernandes bergabung dari Sporting Lisbon pada Januari 2020 lalu pada jendela transfer musim dingin bersama Odion Ighalo. Manchester United sejak awal Februari lalu tidak terkalahkan dalam 14 laga dengan rincian 9 laga dimenangkan United termasuk 2-0 atas Chelsea dan 2-0 menang atas City. Sedangkan 5 laga lainnya bermain draw. Malam itu Bruno Fernandes di Stadion King Power, membuat golnya menjadi 9 gol. Dia juga telah membuat tujuh assis dalam 14 penampilannya.

Tidak ada pemain di Liga Premier yang memiliki lebih banyak keterlibatan 15 gol seperti yang dilakukan Fernandes sejak debutnya bersama Manchester United. Kontribusi Fernandes yang luar biasa bagi Setan Merah. Solskjaer sendiri mengakui kontribusinya sangat besar terhadap peningkatan hasil United. Kita harus mengakui bahwa dia menjadi pengaruh besar. Dampak besar dan dia telah mencetak dan menciptakan gol. Tetapi juga antusiasme dan mentalitasnya telah membantu.

Mungkin hari ini Anda bisa melihat Bruno yang lelah tetapi itu wajar karena ia banyak bermain. Anda dapat melihat hasratnya dan ia sedikit mengeluh. Kata Solskjaer seperti dilansir Sky Sports News tersebut. Apa yang dikatakan manajer asal Norwegia ini benar dan terbukti malam itu bagaimana Fernandes terlihat kelelahan dalam laga melawan Leicester. Tetapi lihat dia masih tetap penuh antusias mengambil tendangan penalti yang berbuah gol pertama bagi United.

Pemain Portugal ini selalu menjadi pilihan utama dalam starting eleven yang diturunkan oleh Solskjaer. Maka jika Fernandes mengalami kelelahan dan jenuh merupakan hal yang wajar. Pada kompetisi mendatang sudah seharusnya Solskjaer memiliki konsep yang baik tentang pentingnya rotasi pemain. Pencapaian Setan Merah meraih 3 besar dalam klasemen akhir Premier League dengan 66 poin juga diikuti dengan keberhasilan mereka memiliki produktivitas gol. Mereka memiliki surplus 30 gol terbaik ke-3 setelah Liverpool (52 gol) dan City (67 gol).

Dalam kemampuan bertahan, United juga berhasil pada urutan kebobolan paling sedikit yaitu 36 gol. Berada diposisi ke-3 setelah Liverpool yang hanya kebobolan 33 gol dan City kebobolan 35 gol. Hal yang menggambarkan pertahanan mereka sangat solid. Ole Gunnar Solskjaer pasti merasakan kelegaan yang luar biasa setelah pulang dari Leicester City. Dia akan kembali mengingat kutipan lama Churchill yang pernah dikatakannya bahwa Kesuksesan bukanlah final, kegagalan bukanlah fatal. Maka yang Anda butuhkan adalah keberanian untuk melanjutkan. Dan Solskjaer sudah siap menyongsong kompetisi musim depan dengan penuh percaya diri.

MU Chelsea dan Akhir Cerita Haru di Penghujung Liga Inggris

MU Chelsea dan Akhir Cerita Haru di Penghujung Liga Inggris – Malam nanti, Liga Inggris musim 2019/20 akan memasuki bagian paling akhir. Seperti halnya kisah serial drama yang mendebarkan selama berbulan-bulan dan akan sampai pada klimaks cerita di bagian akhir, maka Liga Inggris pun akan begitu. Sebanyak 10 pertandingan akan digelar secara bersamaan di 10 stadion sepi penonton. Beberapa tim akan menjemput nasibnya malam nanti. Entah apakah mereka akan tertawa atau menangis bahagia di lapangan.

MU Chelsea dan Akhir Cerita Haru di Penghujung Liga Inggris

MU Chelsea dan Akhir Cerita Haru di Penghujung Liga Inggris

Begitu juga para pendukung yang menonton di rumah, selain berharap cemas menunggu hasil pertandingan timnya, mereka akan berdebar menunggu hasil laga di tempat lain karena juga ikut menentukan nasib tim mereka. Drama haru di akhir Championship bisa terjadi di Premier League. Seperti pekan lalu, kita disuguhi akhir drama mengharukan di pekan penghujung Divisi Championship (Divisi I Liga Inggris). Tentang tim yang akhirnya promosi langsung ke Premier League dan mereka yang tetap bertahan/tidak degradasi.

Pemain-pemain West Bromwich Albion (WBA) yang awalnya lesu kala hanya bermain imbang 2-2 dengan QPR di kandang sendiri, lantas bersorak setelah tahu pesaing dekat mereka,
Hasil itu membuat WBA finish di peringkat 2 (83 poin) dan lolos ke Premier League, menemani Leeds United. Padahal, bila Brentford (81 poin) menang, maka Brentford-lah yang lolos.

Kini, Brentford yang ada di posisi 3, harus melakoni laga play off bersama tim peringkat 4,5,6 demi berebut satu tiket lolos ke Premier League. Bila gagal, mereka berarti tetap di Championship dan kembali melakoni 46 pertandingan musim depan. Akhir haru juga dirasakan oleh Barnsley. Kemenangan di markas Brentford membuat mereka yang sebelum laga ada di ujung tanduk degradasi ke League One (Divisi II), akhirnya selamat alias tetap di Championship. Bayangkan, sebelum laga, Barnsley ada di peringkat 23 dengan 46 poin. Mereka ada di bawah Wigan (46 poin) dan Charlton Athletic (48).

Sementara tim peringkat 22-24 akan degradasi. Yang terjadi, Barnsley menang, Wigan imbang, dan Charlton kalah. Barnsley yang awalnya nyaris ‘mati’, akhirnya selamat. Sungguh drama mendebarkan.Menebak nasib Chelsea dan MU di laga terakhir. Malam nanti, akhir mendebarkan dan mengharukan seperti di penghujung Championship pekan lalu, juga bisa terjadi Premier League. Kisah paling ditunggu adalah nasib Manchester United (MU) dan Chelsea. Para pendukung kedua tim yang di Indonesia jumlahnya jutaan, akan berharap-harap cemas menunggu apakah kedua tim bisa lolos ke Liga Champions 2020/21, ataukah bakal merana di akhir laga.

Tim Setan Merah julukan MU yang ada di peringkat 3, memiliki poin 63 poin. Namun, MU unggul dalam selisih gol (surplus 28 gol) dari Chelsea (surplus 13). Liga Inggris memang lebih menomorsatukan produktivitas gol apabila ada tim yang memiliki poin sama di klasemen. Di laga terakhir, baik Chelsea dan MU akan melakoni laga berat. MU away ke Leicester City, tim peringkat 5 yang juga berpeluang lolos ke Liga Champions. Sementara Chelsea menjamu Wolverhampton, tim peringkat 6 yang mengincar lolos ke Europa League.

MU (63 poin) hanya butuh tidak kalah di markas Leicester (62 poin) bila ingin lolos ke Liga Champions. Ya, hasil imbang sudah cukup untuk membuat tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer bisa finish di empat besar. Melansir dari premierleague.com (https://www.premierleague.com/news/1738035), MU tidak pernah kalah dalam 10 pertemuan terakhir melawan Leicester di Premier League. Data itu bisa menjadi rujukan bahwa MU berpeluang besar untuk ‘mencuri’ poin di King Power Stadium demi lolos ke Liga Champions. Bahkan, seandainya kalah dari Leicester.

MU masih belum hilang harapan untuk lolos. Dengan catatan, Chelsea (63 poin) juga kalah dari Wolverhampton. Tapi, bila MU kalah alias Leicester menang dan Chelsea bisa meraih poin, maka MU yang gagal lolos. Tampil di kandang sendiri, Chelsea pastinya tidak ingin membuang peluang lolos ke Liga Champions. Sebab, bila menang atas Wolverhampton, maka Chelsea tak perlu menunggu hasil laga lain untuk memastikan lolos. Hasil imbang juga sudah cukup bagi Chelsea untuk bisa finish di peringkat empat besar

Memang, Wolves yang juga butuh menang untuk bisa finish di peringkat 5 demi lolos ke Europa League bukanlah lawan mudah. Namun, pendukung Chelsea pastinya senang dengan fakta bahwa Chelsea tak pernah kalah dari Wolves di Stamford Bridge dalam lima perjumpaan di Premier League. Bahkan, bila menutup kompetisi di kandang sendiri, Chelsea tak pernah kalah sejak musim 2001/02. Penyerang Chelsea, Tammy Abraham bisa menjadi ‘jimat’ bagi pelatih Chelsea, Frank Lampard. Striker berusia 22 tahun yang sudah mengemas 15 gol ini mencetak hat-trick kala.

Chelsea mengalahkan Wolves 5-2 di perjumpaan pertama. Di atas kertas, peluang MU dan Chelsea untuk lolos ke Liga Champions, memang lebih besar dari Leicester. The Foxes–julukan Leicester harus menang bila ingin lolos langsung. Bila bermain imbang dengan MU, Leicester yang punya selisih gol (surplus 28) lebih bagus dari Chelsea (surplus 13), tinggal berharap Chelsea akan kalah dari Wolves. Dan yang juga tidak kalah menarik adalah ‘saling sikut’ di zona degradasi. Siapa tim yang akhirnya menemani Norwich City ke Divisi Championship Merujuk pada posisi di klasemen, Bournemouth (31 poin) dan Watford (34 poin) sepertinya akan sulit keluar dari zona merah.

Apalagi, di laga pamungkas, Bournemouth akan away ke markas Everton dan Watford bermain di rumahnya Arsenal. Tentu akan sulit bagi mereka untuk menambah poin. Artinya, Aston Villa dan West Ham United yang bertemu di laga terakhir, kemungkinan besar akan selamat. Pendek kata, pekan terakhir Liga Inggris pada akhir pekan ini akan sangat mendebarkan bagi pendukung United, Chelsea, dan Leicester. Sebab, ketiganya masih punya peluang untuk lolos ke Liga Champions.

Pada akhirnya, menarik ditunggu bagaimana akhir cerita penghujung Juli di Liga Inggris. Menarik ditunggu siapa dua tim yang akan mendapatkan dua ‘tiket’ tersisa ke Liga Champions. Apakah MU, Chelsea, atau Leicester. Dan apapun hasilnya, itu akan menjadi cerita haru bagi pendukung masing-masing tim.