Pertaruhan Guardiola Melawan Zidane 1/8F UCL

Pertaruhan Guardiola Melawan Zidane 1/8F UCL – Skor sementara 13 – 0, antara Real Madrid melawan Manchester City. Itu bukan skor pertandingan. Itu merupakan skor raihan piala UEFA Champions League (UCL), antara Real Madrid (RM) melawan Manchester City (MC). Bagaikan seorang Raja melawan seorang Lurah.

Pertaruhan Guardiola Melawan Zidane 1/8F UCL

Pertaruhan Guardiola Melawan Zidane 1/8F UCL

Sabtu besok, 08 Agustus 2020, akan dilangsungkan pertandingan leg-2, di markas MC, untuk babak 16 besar. Raja Zidane dengan 11 pasukanya, melawan Lurah Guardiola dengan 11 pejuangnya. Para pasukan raja sudah pengalaman 3 kali juara UCL. Sedangkan para pejuang Lurah hanya sampai semifinal UCL, tahun 2019.

Namun tahun 2020 sedikit berbeda. Pada leg-1, akal dan taktik Lurah berhasil menjungkalkan Raja di markasnya. Skor 2 – 1 untuk MC.

Taktik Guardiola adalah memainkan penyerang murni, Gabriel Jesus (GJ), pada sayap kiri. Lalu pemain sayap murni, Silva, di plot sebagai penyerang palsu (false nine). Pengisi lubang permainan adalah Kevin De Bruyne (KDB). Mengapa taktik ini berhasil Mas.

Mekanisme kerjanya begini Adik manis. Setiap kali terjadi penyerangan, maka satu dari dua bek tengah akan mengawal GJ. Bahasa lainnya, bek tengah menguntit penyerang murni. Karena GJ bergerak ke sayap kiri, otomatis ada lubang di daerah tengah pertahanan.

Lubang itu bahasa bola yang berarti terjadi kekosongan pemain. Itu karena GJ dikejar dan dikuntit 1 bek tengah dan 1 bek sayap kanan. Pertanyaannya jangan mancing-mancing ya. Kenapa bek nafsu banget ngawal penyerang murni. Karena kekuatan atau kelebihan penyerang murni adalah sekali tendang gol. Sekali kop (heading) gol, dan juga, sekali oper bola pasti berbuah gol. Jadi, bukan karena ganteng atau kece ya Dek.

Baik Mas. Lanjutkan kisah untuk leg-2 nanti. Pada pertemuan di markas MC nanti, kemungkinan pelatih dengan 2 piala UCL akan melakukan taktik yang sama. Seperti pepatah lama, “jangan merusak tim pemenang” (do not change the winning team) nampaknya akan dilakukan pelatih MC. Soal detailnya, mari kita nonton saja.

Di pihak RM, pasti ikut berbenah. Pelatih Zidane pasti mengikuti pepatah lama, “jangan jatuh ke lubang yang sama”. Kontra-taktik akan diperbaiki, melawan MC. Dan berharap bisa mengalahkan tuan rumah. Detailnya bagaimana, biar kita lihat di televisi.

Olah raga sepak bola tidak seperti matematika murni. Yang mana, semua hasil bisa dikalkulasi secara pasti dan statis. Ini adalah olah raga dinamis. Karenanya, keseruan dan ketegangannya ada disitu. Oh ya, kayaknya pernah baca di artikel dulu, Mas punya program kalkulasi di MS Excel buat taruhan bola. Bocorin dong hitung-hitungannya.

Kan sudah Mas cerita, hasilnya sekitar 70% benar, masih ada 30% yang salah. Sepak bola itu dinamis, tidak statis. Malaikat saja gak tahu hasilnya, apalagi sahaya. Otak saya aja 70% kadang bisa benar, kadang yang muncul 30% error. Ayolah Mas, bocorannya siapa menang leg-2? Nanti saya ajak nonton berdua deh.

Baiklah. Yang menang inisialnya M, tapi detailnya nanti saya beritahukan saat duduk berdua sama Dek ayu.

Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan

Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan – Ada banyak alasan untuk mendefinisikan seseorang berbahagia di tempat kerjanya. Tempat kerja ini bisa bermakna kantor, pabrik, pasar, jalanan, ataupun terminal.Definisinya luas. Bisa karena mendapatkan gaji bulanan atau keuntungan yang besar. Bisa karena punya teman-teman kerja yang menyenangkan. Bisa pula karena pekerjaan yang dijalani memang membuatnya bahagia.

Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan

Belajar dari Cara Pioli Mengambil Hati Bos Galak AC Milan

Termasuk definisi bahagia di tempat kerja itu bila kita dan hasil kerja kita disukai oleh atasan. Sebab, bila sudah tidak disukai oleh atasan, bekerja tidak lagi merasa nyaman. Malah, banyak teman yang keluar dan memutuskan resign dari tempatnya bekerja karena merasa “tidak dianggap” oleh bosnya. Mereka merasa tempat kerjanya tidak ubahnya seperti neraka. Mungkin hanya karena alasan gaji bulanan saja yang membuat mereka masih mau mampir ke ‘neraka’ itu.

Sebenarnya, ketika atasan tidak menyukai kita, apakah itu musibah atau malah berkah. Ada banyak kawan bercerita, memiliki atasan yang tidak asyik, itu bikin nelangsa. Apalagi bila atasan menunjukkan sikap tidak menyukai kita. Tidak ada lagi bahagia di tempat kerja. Karena merasa tidak nyaman, orang bisa berpikir mundur dari tempat kerjanya. Pendek kata, banyak orang beranggapan bila tidak disukai atasan di tempat kerja itu musibah. Kisah Pioli, pekerja yang awalnya tidak disukai atasan

Namun, pelatih klub AC Milan, Stefano Pioli, memberikan pembelajaran kepada kita bahwa memiliki atasan yang tidak asyik itu bukanlah akhir dunia. Pioli memberikan teladan bahwa tidak disukai oleh atasan di tempat kerja itu bisa menjadi sebuah penyemangat. Itu bisa merupakan keberuntungan bagi kita. Kita tahu, Pioli mengakhiri kompetisi Serie A Italia musim 2019/20 yang baru berakhir Minggu (2/8) kemarin dengan senyum kemenangan. Bukan hanya timnya. Lebih dari itu, pelatih asal Italia berusia 54 tahun yang awalnya tidak dianggap dan akan dipecat di akhir musim, malah mendapatkan perpanjangan kontrak dari manajemen Milan.

Sebelum berkisah tentang kisah Pioli di Milan pada musim ini

Saya teringat dengan buku “How to Manage Your Boss, Developing The Perfect Working Relationship” yang ditulis oleh Ross Jay. Di buku itu, Ross Jay menggambarkan seorang atasan di tempat kerja sebagai manusia biasa. Bahwa yang namanya manusia biasa, atasan bisa orang yang baik, kooperatif, tetapi ada juga yang sebaliknya. Bosses are human, some good, some bad. If you’re lucky they will be understanding, supportive, encouraging and inspiring. Then again they might be lazy, unmotivated, weak, over-emotional, sarcastic, rude, or just downright – well – bossy. But you’re no powerless victim.

Melalui buku itu, Ross ingin menekankan, sebagai bawahan, pekerja tidak bisa memilih memiliki bos yang seperti apa. Bagi pekerja yang beruntung, mereka akan mendapatkan seorang bos yang pengertian, suportif, dan inspiratif. Masalahnya, tidak semua orang beruntung mendapatkan atasan yang mau memahami, mendukung, bahkan menginspirasi kita. Sebaliknya, ada atasan yang justru menjaga jarak dengan karyawannya, baperan, dan hanya bisa menyuruh (bossy) tanpa memberikan edukasi.

Malah ada yang tidak suka dengan kita. Entah karena penampilan, kinerja, atau karena sebab lainnya. Semisal tidak suka kita tanpa alasan. Titik. Masalahnya lagi, sebagai anak buah, kita hanya bisa pasrah. Powerless victim. Pioli pun dulu begitu. Di awal melatih Milan, dia harus mendapati kenyataan bekerja di bawah manajemen yang berharap hasil serba instan. Dengan pengalamannya melatih banyak klub di Italia, dari Parma hingga Fiorentina, dia diharapkan bisa mengembalikan nama besar Milan. Padahal, melansir dari Kompas.com, ketika Pioli ditunjuk melatih Milan pada 8 Oktober silam, I’Rossoneri alias Tim Merah Hitam julukan Milan, sebenarnya dalam kondisi sakit.

Bagaimana sebuah tim tidak sakit bila mereka sudah memecat pelatih pada bulan Oktober alias hanya 1,5 bulan setelah kompetisi di mulai. Itu juga bisa menjadi gambaran betapa pragmatisme manajemen Milan kala itu. Kala itu, oleh manajemen Milan, Pioli disodori kontrak dua tahun. Pioli pun menandatangani kontrak itu. Stefano Pioli bergabung dengan AC Milan dengan perjanjian dua tahun. Klub mengharapkan yang terbaik dari Stefano (Pioli) dan staf kepelatihannya dalam kinerja mereka,” begitu bunyi statement resmi Milan dalam pernyataan resmi mereka di Football Italia seperti dikutip dari kompas.com.

Namun, tidak ada jaminan Pioli bakal bisa menyelesaikan kontraknya selama dua tahun di Milan. Sebab, bila Milan ternyata tidak mampu keluar dari tren buruk, tidak akan ada ampun bagi dirinya. Dia hanya tinggal menunggu waktu untuk dipecat. Itu juga yang dirasakan Marco Giampaolo. Apalagi sekarang ini ada banyak pemilik klub yang berpikiran pragmatis dan teramat mudah melupakan upaya pelatih dalam membangun tim. Para bos klub itu berpikir merekalah yang menggaji pelatih sehingga mudah saja memecat seorang pelatih dan menggantinya dengan pelatih lainnya. Benar saja, relasi Pioli dan Milan awalnya berjalan kurang bagus. Milan belum mampu keluar dari serangkaian hasil buruk.

Kala itu Milan hanya bisa meraih 7 kemenangan dari 19 pertandingan

Mereka sudah kalah 8 kali. Bayangkan Milan berada di bawah tim-tim seperti Verona, Torino, Parma, dan Cagliari. Bahkan, Milan meraih beberapa hasil memalukan. Bayangkan, mereka pernah dibantai Atalanta 5-0 pada 22 Desember 2019 lalu. Milan juga kalah telak 2-4 dari Inter Milan di laga derby. Milan malah kalah dua kali dari Inter di musim ini. Belum lagi kekalahan dari Torino dan Udinese. Situasi itu membuat manajemen Milan kecewa. Mereka lantas mengambil sikap. Sebelum Liga Italia dihentikan karena pandemi Covid-19 pada Maret lalu, beredar kabar bahwa mereka menyiapkan pelatih asal Jerman, Ralf Rangnick untuk menangani Milan di musim 2020/21.

Rangnick (62 tahun) dianggap pernah sukses menyulap RB Leipzig menjadi klub tangguh di Bundesliga Jerman. Meski, dia tidak punya pengalaman melatih di Italia. Itu artinya, Pioli bakal dipecat di akhir musim 2019/20. Kontrak dua tahun yang ditandatangani dulu hanyalah sebatas kontrak yang bisa diakhiri dengan cepat. Yang terjadi kemudian, Pioli ternyata tidak patah hati. Meski atasannya tak suka dirinya dan telah menyiapkan orang lain untuk menggantikannya, dia tidak uring-uringan. Justru, dia menganggap situasi tersebut sebagai berkah. Ketika Serie A dimulai kembali pada Juni lalu, Pioli yang tahu dirinya bakal dipecat ketika kompetisi berakhir, mencoba menikmati masa-masa terakhirnya di Milan.

Siapa sangka, Pioli bisa membalik situasi itu. Dari orang yang ‘dipersona non gratakan’ alias tidak disukai manajemen Milan, menjadi sosok yang dicinta. Semua itu tidak lepas dari penampilan Milan selepas jeda tiga bulan akibat pandemi. Milan dibawanya tampil ganas sejak Liga Italia kembali dilanjutkan pada 23 Juni lalu. Dari 12 penampilan, Milan tidak pernah kalah. Bila kita bisa menyikapinya benar dengan tetap bekerja profesional dan memperlihatkan hasil kerja bagus, atasan juga tidak akan menutup mata. Pada akhirnya, tidak suka itu bisa berubah menjadi reward. Dan itulah yang dilakukan Pioli di Milan.

Ketika dia dalam situasi “dislike oleh atasan”, Pioli melihatnya sebagai tantangan. Bagaimanapun, ketika seseorang tidak disukai yang mungkin sering dicari-cari kesalahannya, sebenarnya dia sedang diperhatikan. Bila seperti itu, dia ibarat sedang ada di tengah panggung dan menjadi pusat perhatian. Bila sudah seperti itu, Anda hanya perlu tetap menjalani pekerjaan dengan perasaan yang gembira. Anda hanya perlu untuk menunjukkan spirit dan totalitas kerja yang semakin besar pula. Bahwa dislike dan spirit itu harus berbanding lurus.

Pada akhirnya, prestasi mengalahkan rasa tidak suka atasan. Bila sudah prestasi yang bicara, atasan yang sebelumnya tidak suka, sangat mungkin akan berubah. Dari tidak suka, malah menjadi bergantung dengan Anda. Tentu saja, sangat sulit untuk tampil di panggung ketika penonton seolah mencemooh Anda. Butuh mental yang super kuat untuk menghadapinya. Lantas, membuat prestasi. Pada akhirnya, mengubah rasa tidak suka atasan menjadi suka. Itulah yang dilakukan Pioli. Dan kita bisa belajar darinya.

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea – Partai puncak Piala FA CUP musim 2019/2020 telah berakhir dengan kemenangan yang diraih oleh Arsenal atas Chelsea. Pertandingan yang di gelar pada.

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea

Pertandingan digelar di stadium kebanggaan Inggris yaitu Wembley stadium dengan dipimpin wasit Anthony Taylor. Kedua klub bukan hanya berebut gelar turnamen, tetapi juga pertaruhan gengsi dan harga diri penguasa London.

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea

Pasukan Mikel Arteta dan Frank Lampard menurunkan kesebelasan terbaiknya untuk meraih Piala FA CUP musim 2019/2020. Akan tetapi Arsenal berhasil keluar menjadi penguasa nya.

Padahal pasukan Frank Lampard berhasil mencetak gol terlebih dahulu melalui C. Pulisic di menit ke 5′. Akan tetapi pasukan Mikel Arteta berhasil comeback berkat dua gol yang dicetak oleh P. Aubameyang di menit ke 28′ melalui titik putih dan di menit ke 67′ melalui kerja sama tim.

Final Piala FA CUP 2019/2020 Arsenal Berhasil Mempecundangi Chelsea

Dengan tambahan 1 gelar Piala FA CUP yang diraih pasukan Mikel Arteta pada musim ini, menjadikan Arsenal sebagai tim tersukses di kompetisi tertua di dunia. Dengan koleksi gelar sebanyak 14 Piala FA CUP. Dengan kekalahan ini juru taktik Frank Lampard gagal mempersembahkan gelar pertamanya untuk Chelsea.

Ketika Sharpshooter Lautaro Martinez Mengacaukan Nasib Napoli

Ketika Sharpshooter Lautaro Martinez Mengacaukan Nasib Napoli – Ada kabar baik yang berhembus di sekitar Stadion San Siro. Ialah sang Nerazzurri alias Internazionale Milano yang berhasil main cantik mengalahkan Napoli dengan skor 2-0 di pekan ke-37 Serie A. Gol pertama pasukan Antonio Conte ini datang dari Danilo D’Ambrosio, tepatnya pada menit ke-11. Berawal dari sodoran bola datar dari Cristiano Biraghi, Danilo yang berada pada posisi bebas di kotak penalti sukses membuat kiper Alex Meret diam tak berdaya.

Ketika Sharpshooter Lautaro Martinez Mengacaukan Nasib Napoli

Ketika Sharpshooter Lautaro Martinez Mengacaukan Nasib Napoli

Sedangkan gol kedua Inter, datang dari penyerang Argentina buruan Barcelona yang bernama Lautaro Martinez, tepatnya pada menit ke-74. Bermula dari umpan Nicolo Barella, penyerang dengan nomor punggung 10 yang masuk menggantikan Alexis Sanchez di babak kedua ini memamerkan akselerasinya dan kemudian mencetak gol dari luar kotak penalti. Lagi-lagi kiper Napoli tak berkutik untuk kedua kalinya.

Inter Milan benar-benar bermain efektif pada laga ini. Statistik berbicara, Romelu Lukaku dan kawan-kawan hanya menerbitkan 8 tembakan. 2 tembakan miss, 6 tembakan tepat sasaran dan menelurkan 2 gol. Sedangkan Napoli unggul dari sisi penguasaan bola dan total tembakan. Walau bertandang ke markas Inter, Napoli berhasil merengkuh 59% penguasaan bola dengan total 18 tembakan. Tapi sayang, hanya 2 darinya yang sampai ke gawang Handanovic.

Atas hasil ini, Inter Milan masih nyaman nangkring di peringkat ke-2 klasemen Serie A. Dalam 37 pekan, pasukan Antonio Conte telah mengumpulkan 79 poin. Hanya unggul satu poin dengan Atalanta yang berada di peringkat ke-3. Pasca kemenangan ini, Antonio Conte pun berkomentar kepada Sky dan mengungkapkan secarik kesenangannya. Kami tidak punya pilihan selain menang, dan situasi seperti ini penting karena, bahkan jika Anda tidak mendapatkan gelar untuk finis di tempat kedua, tetapi membiasakan diri dengan tekanan adalah hal yang penting. Kami merespons sebagai kesatuan yang sessungguhnya pada dini hari ini, dan saya merasa sangat senang untuk tim.

Ya, bersama Inter Milan di musim ini, Antonio Conte memang belum memberikan satu piala pun untuk dipajang di ruang khusus sang Nerazzurri. Scudetto telah dicomot Juventus, sedangkan piala Coppa Italia sudah direnggut oleh Napoli. Harapan Inter Milan adalah tetap nangkring di peringkat ke-2 hingga akhir musim, dan melawan Atalanta pada pekan ke-38 nanti adalah penentunya. Setelah itu, barulah Conte akan berusaha lebih serius untuk merebutkan satu piala lagi. yaitu piala Liga Europa.

Ketika Sharpshooter Lautaro Martinez Mengacaukan Napoli

Atas kemenangan kontra Napoli ini, sorotan pun datang ke pangkuan sang penyerang muda yang bernama Lautaro Martinez. Seusai laga, laman inter.it pun memberikan julukan sharpshooter kepadanya.
Sharpshooter sejatinya merupakan julukan terhadap senjata tempur yang sudah dimodifikasi. Tapi, untuk seorang Lautaro, sharpshooter adalah julukan bagi seorang penyerang sekaligus penembak jitu. Buktinya? Yaitu gol kontra Napoli semalam. Gol cantik dari hasil main cantik itu merupakan hasil tendangan yang menggelar dari luar kotak penalti.

Dan faktanya, gol Lautaro malam tadi merupakan yang keempat miliknya dari luar kotak penalti dan tidak ada pemain lainnya di dalam skuat Inter yang mampu melakukannya lebih baik dalam satu musim sejak Ibrahimovic pada 2008/09. Sayangnya, gol itu pula yang mengacaukan nasib Napoli di Serie A. Bagaimana tidak, pasukan Gennaro Gattuso yang saat ini berada di peringkat ke-7 semakin kacau nasibnya karena sudah keluar dari big four zona Liga Champions musim depan.

Karena kalah di pekan ke-37, poin Napoli masih berhenti di angka 59, berjarak 1 poin dari AC Milan yang baru akan bertandang ke markas Sampdoria pada Kamis. Andai AC Milan menang, maka pupuslah harapan Napoli untuk duduk di peringkat ke-6. Sebuah prestasi minor bila dibandingkan dengan musim sebelumnya. Musim 2018/2019, Napoli mengunci peringkat ke-2, sedangkan musim ini Mertens dkk masih tertunduk di peringkat ke-7. Alhasil, pasca kekalahan kontra Inter Milan, Gennaro Gattuso pun mengungkapkan kejengkelannya dalam wawancara bersama Sky Sport Italia.

Memang benar bahwa kami memenangkan piala, tetapi itu membuat saya jengkel ketika saya melihat kepuasan. Kami membuat banyak kesalahan di depan gawang dan saya tidak ingin kami menyalahkan orang lain, kami harus berpikir sebagai tim. Sejatinya Napoli cukup beruntung karena memenangkan Coppa Italia. Darinya, klub yang berdiam di Naples ini sudah mendapat tempat untuk berlaga di Liga Europa musim depan.

Tapi, peluang Napoli untuk mendapat jatah tiket Liga Champions juga masih terbuka. Secara, pasukan Gattuso masih akan bertandang ke markas Barcelona pada lanjutan leg ke-2 babak 16 besar Liga Champions. Jalan Napoli masih cukup jauh, tapi peluang selalu ada. Setelah kekalahan atas Inter Milan, Napoli harus kembali menemukan ritme permainan terbaik untuk segera memperbaiki nasibnya. Jika tidak, maka Gattuso harus mengubur mimpinya untuk berlaga di Liga Champions musim depan.

Jelang Inter vs Napoli Mungkinkah Lukaku dan Sanchez Mengamuk Lagi

Jelang Inter vs Napoli Mungkinkah Lukaku dan Sanchez Mengamuk Lagi – Pertengahan minggu ini, laga akbar kompetisi Serie A pekan ke-37 kembali tersaji. Adalah duel Inter Milan kontra Napoli yang akan digelar pada dini hari nanti di Giuseppe Meazza, markas Inter Milan. 2 hari sebelumnya, tepatnya pada Lukaku dan kawan-kawan berhasil memetik kemenangan fantastis atas Genoa 3-0 di Stadio Luigi Ferraris, markas Genoa. Adapun gol-gol kemenangan Inter di hari itu masing-masing dicetak oleh Romelu Lukaku sebanyak dua gol (34, 90+3), dan Alexis Sanchez sebanyak 1 gol (83).

Jelang Inter vs Napoli Mungkinkah Lukaku dan Sanchez Mengamuk Lagi

Kemenangan ini disebut fantastis karena sesungguhnya tidak mudah bagi Inter untuk mengalahkan tim-tim yang ingin tetap berlaga di Serie A musim depan seperti Genoa. Terang saja, Genoa yang saat ini berada pada peringkat 17 (poin 36) harus mendapatkan minimal 1 kali imbang lagi agar tidak digusur oleh Lecce di peringkat 18 (poin 32). Dan, pertandingan di Serie A tinggal menyisahkan 2 laga pamungkas. Pemilik scudetto sudah ada, dan pemiliknya bernama Si Nyonya Tua Juventus. Juventus sudah mengunci singgahsana

Poin yang dikumpulkan Juventus sudah tak dapat terkejar lagi. Lalu, bagaimana dengan Inter Milan?
Saat ini Inter Milan berada di peringkat ke-2 dengan jumlah poin 76. Performa yang dicap angin-anginan sejak ba’da corona menjadikan Inter harus rela menyilakan Juventus duduk di tangga scudetto lebih cepat. Hanya saja, di laga terakhir kontra Genoa kemarin, Inter mulai panas. Walaupun sang pelatih, Antonio Conte selalu merotasi 3-5 pemain di setiap laga, permainan Lukaku dan kawan-kawan kali ini lebih enak ditonton.

Terutama setelah si Striker buruan Barca, Lautaro Martinez digantikan dengan Alexis Sanchez pada menit ke-64. Duet Lukaku-Sanchez di lini depan seakan jadi mimpi buruk bagi pertahanan Genoa. Alhasil, Inter Milan menambah dwi gol lagi pada menit ke-83 dan 93. 1 gol disumbangkan Sanchez, 1 gol lagi dipersembahkan oleh Lukaku. Duet keduanya makin padu, dan duet inilah yang akan bersiap menggetarkan pertahanan Napoli. Melawan Napoli adalah laga yang cukup penting bagi Inter Milan. Selain untuk tetap bertahan di peringkat ke-2.

Inter Milan juga perlu membina konsistensi sembari jelang Europa League. Ya, itulah satu-satunya harapan Inter untuk mendapatkan piala di musim ini. Meski dini hari nanti Napoli akan bermain dengan semangat juang tinggi demi mengejar tiket lolos otomatis ke Europa League, secara rekor pertemuan, keunggulan masih milik Inter. Tercatat dalam situs resmi Inter.it, Nerazzurri dan Napoli telah bertemu sebanyak 147 kali di liga, dengan rekor Nerazzurri melawan Partenopei adalah sebagai berikut: 65 kemenangan, 36 hasil seri, dan 46 kali kalah.

Pertemuan pertama di Serie A musim ini, Inter berhasil menundukkan Napoli di Naples dengan skor 3-1. Saat itu, dwi gol dicetak oleh Lukaku, dan sebiji gol lagi ditorehkan oleh Lautaro Martinez. Mengingat pentingnya duel akbar antara Inter kontra Napoli, pemain yang saat ini patut menjadi sorotan di kubu Inter adalah Lukaku dan Sanchez. Lukaku, pada laga kontra Genoa kemarin telah menunjukkan skill, speed, hingga solo run yang menjadi ciri khasnya sebagai striker tajam. Alhasil, didapatkan olehnya 2 gol.

Setelah mencetak dua gol melawan Genoa, Lukaku tercatat telah menorehkan 29 gol pada musim ini, dan itu adalah catatan terbaiknya dalam satu musim. Hal ini sempat ia ungkapkan ketika diwawancarai oleh Sky Sport setelah pertandingan. Saya merasa senang, tetapi sebagai tim, kami masih bisa melakukan lebih. Kami harus mengakhiri musim kami sebaik mungkin, dan saya selalu berjuang untuk membantu tim. Kami memiliki penyesalan dan membiarkan terlalu banyak poin hilang dari genggaman kami, tetapi kami adalah tim yang masih muda dan masih perlu berkembang.” tutur Lukaku.

Melihat performa luar biasa yang ditampilkan oleh Lukaku, Antonio Conte pun ikut mencurahkan argumennya. Conte memuji Lukaku dan menganggapnya sebagai pemain yang unik. Sejak digulirnya Serie A pasca pandemi, Sanchez mulai menunjukkan tajinya. Kontribusinya cukup penting bagi Inter. Tercatat, Alexis telah menjadi penyumbang assist terbanyak di klub Nerazzurri ini. total, 9 assists telah ia torehkan, lebih banyak daripada Antonio Candreva (8).

Beruntung bagi Inter karena Alexis Sanchez adalah tipe penyerang yang suka membantu. Dibandingkan dengan penyerang muda Inter, Lautaro Martinez, Sanchez lebih doyan gerak serta menciptakan peluang. Maka dari itulah Sanchez cocok diduetkan baik dengan Lukaku maupun Lautaro. Menurut prediksi situs nerazzurrialle.id, Conte akan memasang formasi 3-5-2 dengan menduetkan Lukaku-Sanchez di lini serang. Sedangkan di sektor gelandang, Barella yang sudah fit akan berduet dengan Brozovic, serta Eriksen di posisi trequartista. Di sisi pertahanan, trio bek Bastoni-de Vrij-Skriniar akan tersaji untuk melindungi gawang yang diasuh oleh Handanovic. Sisanya, sektor sayap akan diisi oleh Ashley Young dan Candreva.

Sedangkan dari kubu Napoli, agaknya pertandingan melawan Inter nanti cukup sulit dan dilematis bagi Mertens dan kawan-kawan. Terang saja, setelah berjumpa Inter, Napoli akan kembali menghadapi lawan berat Lazio di awal Agustus nanti. Setelah itu, Napoli juga akan berjumpa Barcelona dalam lanjutan Liga Champions. Artinya, baik Inter maupun Napoli akan sama-sama mengincar kemenangan demi memperbaiki posisi mereka, jelang berakhirnya Liga Italia musim ini. Laga ini jadi semakin menarik karena peluang amukan duet Lukaku-Sanchez bakal tersaji lagi.

Manchester United Tim Pejuang Degradasi dan Penentuan di Penghujung Juli

Manchester United Tim Pejuang Degradasi, dan Penentuan di Penghujung Juli – Tinggal menghitung hari untuk pergi. Tinggal beberapa hari lagi. Namun, bagi beberapa tim Liga Inggris, Juli yang tinggal beberapa hari itu akan terasa sangat mendebarkan. Para suporter akan berharap-harap cemas menunggu akhir cerita nasib tim mereka. Sedikitnya ada enam tim di Liga Inggris yang tengah diliputi ketegangan perihal nasib mereka. Apakah akan bisa bermain di Liga Champions, apakah tetap bermain di Liga Inggris, atau malah akan turun divisi dan entah kapan akan bisa kembali ke Premier League. Semuanya akan ditentukan pada penghujung Juli ini.

Manchester United Tim Pejuang Degradasi dan Penentuan di Penghujung Juli

Manchester United Tim Pejuang Degradasi, dan Penentuan di Penghujung Juli

Salah satu tim yang akan melakoni penentuan nasib di penghujung Juli adalah Manchester United (MU). Klub peraih gelar terbanyak Liga Inggris ini akan berjuang di dua laga terakhir demi “selembar” tiket ke Liga Champions musim depan. Kita tahu, dari empat ‘tiket’ ke Liga Champions 2020/21 yang diperuntukkan bagi tim Inggris, dua diantaranya dipastikan menjadi milik Liverpool dan Manchester City. Dua tiket tersisa kini diperebutkan MU, Chelsea, dan Leicester City di penghujung liga.

Manchester atau Kamis (23/7) dini hari waktu Indonesia, MU akan menjamu West Ham United di Old Trafford. Sebuah perjamuan mencekam karena kekalahan di laga ini akan bisa berujung duka berkepanjangan bagi kedua tim. Bagi MU yang masih ada di peringkat 5 dan masih punya sisa dua laga, menjamu West Ham akan menjadi kesempatan terbesar mereka bila ingin tampil di Liga Champions. Sebab, kemenangan akan membuat mereka masuk empat besar. Bila menang, MU (62 poin) akan meraih 65 poin yang berarti melewati perolehan poin Leicester City (62 poin).

Menariknya, di pertandingan terakhir, MU akan away ke markas Leicester (26/7). Itu akan menjadi “laga hidup mati” bagi kedua tim. Sementara Chelsea (63 poin) akan away ke Anfield melawan Liverpool (22/7) dan di pertandingan terakhir menjamu Wolverhampton (26/7). Meski berat, tetapi jadwal Chelsea sejatinya ‘lebih sederhana’ dibanding MU dan Leicester. Sebab, dengan hanya meraih satu kemenangan, Chelsea sudah dipastikan lolos.

Sangat penting. Apalagi bagi klub sebesar dan setenar Manchester United. Bisa lolos ke Liga Champions bukan hanya tentang gengsi atau kesempatan memperoleh fee di setiap pertandingan Liga Champions. Namun, lolos ke Liga Champions akan membuat Tim Setan Merah–julukan Manchester United, memiliki keuntungan jangka panjang dalam mempersiapkan tim menyambut kompetisi musim 2020/21. Dengan ‘iming-iming’ tampil di Liga Champions, mereka akan lebih mudah bila ingin mendatangkan pemain-pemain bintang demi memperkuat klub. Tentunya itu juga berdampak pada aspek bisnis klub dan juga branding klub di tahun-tahun mendatang.

Sebenarnya apa makna pentingnya lolos ke Liga Champions bagi sebuah tim

Akan beda ceritanya bila mereka gagal lolos dan hanya tampil di kompetisi “kelas dua” Eropa bernama Europa League. MU bakal ‘dilupakan’. Mereka akan kesulitan merayu pemain-pemain top. Sebab, mayoritas pemain top Eropa maunya ya main di Liga Champions. Adapun bagi West Ham United, laga di Old Trafford nanti juga sangat krusial bagi mereka. Bukan tentang Liga Champions, melainkan tentang demi tetap survive di Premier League. Ya, bila tidak kalah di Old Trafford dini hari nanti, West Ham dipastikan akan bertahan di Liga Inggris. Tambahan satu poin akan membuat West Ham meraih 38 poin, dan itu sudah aman dari ancaman degradasi.

MU memang lebih diunggulkan untuk menang. Meski baru tersingkir di semifinal Piala FA usai kalah 1-3 dari Chelsea (19/7), rasanya MU bisa langsung move on demi menyambut laga penting ini. Memang, di pertemuan pertama d London pada 23 September 2019 lalu, MU kalah 0-2. Namun, itu cerita lalu. Sejak Liga Inggris kembali bergulir setelah jeda akibat pandemi, MU belum terkalahkan. Di tujuh laga setelah restart Liga Inggris, mereka menang 5 kali dan dua kali imbang. Namun, pelatih MU, Ole Solskjaer wajib mewaspadai semangat tim-tim yang tengah berjuang lepas dari degradasi.

Sebab, dalam situasi menentukan nasib seperti saat ini, tim-tim “pejuang degradasi” bisa tampil mengejutkan. Apa yang terjadi pada Arsenal, Rabu (22/7) dini hari tadi, bisa menjadi pelajaran bagi pemain-pemain MU dan Solskjaer. Arsenal yang lebih diunggulkan, malah kalah 0-1 dari Aston Villa, tim yang tengah berada di tepi jurang degradasi dan sangat butuh kemenangan untuk selamat. Bagaimana bisa, Arsenal yang sebelumnya tampil gagal dengan mengalahkan Liverpool dan Manchester City dan termotivasi lolos ke Europa League (finish di peringkat 5-6), malah kalah dari Aston Villa yang berada di peringkat 17.

Namun, itulah letupan semangat tim-tim pejuang degradasi. Dalam hal ini, pemain-pemain Aston Villa boleh jadi punya motivasi menang lebih besar dari pemain-pemain Liverpool dan Manchester City. Sebab, mereka bermain dengan pertaruhan “selamat atau kiamat”. Semangat seperti itulah yang akan diusung pemain-pemain West Ham di laga nanti. Ya, bagi tim-tim yang berjuang untuk selamat degradasi alias tetap bertahan di Premier League, itu nilainya bahkan mungkin lebih besar dari Liga Champions. Sebab, satu pertandingan bisa senilai satu musim kompetisi.

Pasalnya, bila tim terdegradasi dan turun ke Divisi Championship, tidak ada jaminan mereka bakal langsung bisa promosi kembali ke Premier League di tahun depan. Sebab, persaingan di Divisi Championship tidak kalah ketat dibanding Liga Inggris (Premier League). Championship yang diisi 24 tim, lebih banyak dari Premier League yang diisi 20 tim. Apalagi, hanya ada dua tim saja yang langsung promosi. Empat tim lainnya akan berjuang lewat jalur play off demi berebut ‘satu tiket’ promosi ke Premier League. Berat kan?

Perihal perjuangan tim pejuang degradasi ini tidak hanya terjadi di Liga Inggris. Di Liga Spanyol yang mempertandingkan pertandingan terakhir pada akhir pekan kemarin, sang juara Real Madrid juga merasakan sulitnya mengalahkan tim pejuang degradasi. Real Madrid ditahan imbang Leganes 2-2. Leganes yang butuh menang untuk selamat dari degradasi, tampil luar biasa. Meski dua kali tertinggal, mereka bisa menyamakan skor. Namun, hasil imbang itu tidak mampu menyelamatkan mereka. Leganes terdegradasi ke Segunda Division Spanyol karena finish di posisi 18.

Ironisnya, poin Leganes (36) hanya berselisih satu poin dari Celta Vigo (37). Andai Leganes bisa menambah satu gol ke gawang Real Madrid, mereka akan selamat karena mengumpulkan 38 poin. Pada akhirnya, menarik ditunggu bagaimana akhir cerita penghujung Juli di Liga Inggris. Menarik ditunggu siapa dua tim yang akan mendapatkan dua ‘tiket’ tersisa ke Liga Champions. Apakah MU, Chelsea, atau Leicester. Dan yang tidak kalah menarik, siapa tim yang akhirnya menemani Norwich City ke Divisi Championship. Merujuk pada posisi di klasemen, Bournemouth (31 poin) dan Watford (34 poin) sepertinya akan sulit keluar dari zona merah.

Apalagi, di laga pamungkas, Bournemouth akan away ke markas Everton dan Watford bermain di rumahnya Arsenal. Tentu akan sulit bagi mereka untuk menambah poin. Artinya, Aston Villa dan West Ham United yang bertemu di laga terakhir, kemungkinan besar akan selamat.

Milan Akan Coba Kau Pikir Lagi Kalau Mau Ganti Pioli

Milan Akan Coba Kau Pikir Lagi Kalau Mau Ganti Pioli – AC Milan, sepertinya dirimu harus berpikir ulang untuk mengganti pelatih. Pucuk manajemenmu harus melihat lagi, bagaimana Milan cukup menjanjikan di tangan Pioli. Dengan performa Milan saat ini, sayang kalau Pioli dicopot. Kemudian, di musim depan Milan dilatih Ralf Rangnick yang tak memiliki pengalaman di Liga Italia.

Milan Akan Coba Kau Pikir Lagi Kalau Mau Ganti Pioli

Stefano Pioli kembali memberi kemenangan bagi AC Milan. Kemenangannya pun memuaskan, yakni 5-1 atas Bologna, Sabtu (18/7/2020) waktu Milan. Gol Milan dibuat Alexis Saelemaekers, Hakan Calhanoglu, Ismael Bennacer, Ante Rebic, dan Davide Calabria. Satu gol Bologna dibuat Takehiro Tomiyasu. Performa Milan setelah jeda pandemi memang meyakinkan. Mereka mampu menang enam kali dan seri dua kali. Dari enam kemenangan itu, tiga kemenangan didapatkan dari tim kuat.

Milan mampu mengalahkan AS Roma 2-0. Milan mampu membalikkan keadaan dan mengalahkan Juventus 4-2. Milan mampu membantai Lazio 3-0. Dalam delapan laga terakhir itu, Milan mampu mencetak 25 gol dan sembilan delapan gol. Produktivitas itu sangat luar biasa. Sebab, hampir 50% gol Milan di Liga Italia musim ini dibuat di delapan laga terakhir. Total sampai pekan 34, Milan membuat 53 gol. Tren positif Milan membuat mereka kini ada di posisi enam klasemen sementara dengan 56 poin dari 34 laga.

Milan masih sangat mungkin mempertahankan posisi enam besar sampai Liga Italia rampung. Jika tetap di enam besar, maka Milan bisa main di Liga Europa musim depan. Sementara, untuk masuk ke 4 besar atau zona Liga Champions memang sudah sulit. Milan kini terpaut 13 poin dari Lazio yang ada di posisi 4 klasemen sementara. Terkait performa Milan, belum lama ini mantan pelatih klub merah hitam itu, Fabio Capello angkat suara. Dia menilai bahwa Pioli layak dipertahankan. Capello yakin jika Pioli dipertahankan, musim depan Milan akan berprestasi.

Capello, seperti diberitakan football italia belum lama ini menilai Ralf Rangnick bukan sosok yang tepat. Bagi Capello, Rangnick tak memiliki rekam jejak seorang juara. Menurutnya, jika Rangnick melatih Milan, maka klub yang pernah dijuluki The Dream Team itu akan kembali dari nol. Rangnick memang gosipnya sudah menandatangani kontrak sebagai pelatih AC Milan. Rangnick diharapkan bisa membawa Milan kembali ke jalur juara. Sebelumnya Rangnick mampu memberikan kejutan bersama Leipzig di Liga Jerman musim 2018-2019.

Saat itu, Leipzig mampu menjadi pesaing berat Bayern Munchen di perebutan gelar Liga Jerman. Namun memang pada akhirnya Munchen yang tetap jadi juara. Lama Tak Sentuh Trofi Bergengsi AC Milan memang sudah lama tenggelam. Mereka sudah lama tak menyentuh trofi bergengsi seperti Liga Italia atau Liga Champions. Trofi terakhir yang didapatkan Milan pun trofi kelas dua, yakni Piala Super Italia kala mereka dilatih Vincenzo Montella.

Sementara, untuk trofi Liga Italia, terakhir kali dirasakan Milan pada musim 2010-2011 saat masih dilatih Max Allegri. Liga Champions? Eah lebih lama lagi. Milan terakhir kali menjadi juara Liga Champions pada 2007. Saat itu, di final Milan mengalahkan Liverpool 2-1. Dua gol Milan dibuat Filippo Inzaghi yang kini sudah tak merumput lagi. Inzaghi kini sudah jadi pelatih. Sebagai klub legendaris, tak baik bagi Milan berlama-lama puasa gelar bergengsi. Maka, Milan memang harus bangkit. Setelah saya lihat-lihat, Pioli sepertinya memiliki jalan untuk membangkitkan Milan.

Kemenangan Terpenting Manchester City Bukan di Lapangan Sepak Bola

Kemenangan Terpenting Manchester City Bukan di Lapangan Sepak Bola – Artikel ini adalah artikel terakhir yang membahas mengenai kemenangan City atas UEFA Financial Fair Play, kalau anda belum baca artikel sebelumnya silakan dibaca terlebih dahulu. Sebelum lanjut membahas larangan Liga Champions City, saya ingin telebih dahulu memberikan gambaran mengenai bagaimana idustri sepak bola moderen mendapatkan uang. Dengan demikian.

Kemenangan Terpenting Manchester City Bukan di Lapangan Sepak Bola

Kemenangan Terpenting Manchester City Bukan di Lapangan Sepak Bola

Baru kita bisa membahas bagaimana dampak pelarangan City untuk berkancah Eropa terhadap kondisi finansial The Citizens. Buat anda atau saya yang menonton Liga Indonesia tahun 2000-an pasti mengira bola bukan sebuah olahraga yang profit. Gimana mau tidak mengira sepak bola merupakan kegiatan menghamburkan uang, setiap tahunnya saja Persija dan Persib bisa menyedot APBD sampai pulihan miliyar Rupiah.

Namun keterlibatan negara dalam sepakbola sebenarnya agak toxic, kalu kawan-kawan browsing tim paling sukses Jerman Timur, jawabannya adalah Dynamo Dresden. Tebak siapa yang punya tim tersebut, Statsi alias polisi rahasia Jerman Timur yang terkenal mengerikan, Jangankan bahas aspek sokongan finansial, mencetak gol ke gawang Statsi aja mungkin udah seram sekali. Lagipula di Indonesia banyak Pemda yang juga mengontrol dan mendanai timnya secara, ya seperti Manchester City.

Sekarang otomatis tim sepak bola moderen Eropa tidak dapat didanai pemerintah, rokok, bosnya sendiri, perusahaan alkohol, dan mungkun dalam waktu dekat situs judi juga akan didepak. Lantas bagaimana para tim sepak bola yang menggaji orang sampai ribuan Euro setiap pekan mencari uang? Anda juga mungkin mempertanyakan kenapa klub-klub raksasa seperti Ajax dan Celtic seperti selalu kesulitan menjaga pemain terbaiknya. Serta mengapa target universal bagi tim besar (Termasuk City) adalah Liga Champions, kalau tidak pasti pelatihnya didepak.

Secara Umum Pendapatan Tim Sepak Bola Bisa Kita bagi menjadi tiga

Yang pertama adalah yang paling sederhana, klasik, dan bahkan bisa didapatkan oleh tim tarkam. Mathcday Income, sumbernya adalah tiket yang dibayarkan oleh supporter yang datang ke stadion dan terkadang dalam laporan keuangan digabung dengan pendapatan dari sewa-menyewa lapak di stadion. Nah banyak yang berasumsi bahwa tim yang memiliki stadion besar pasti memiliki pendapatan yang jauh lebih besar.

Tapi, belum tentu, faktanya matchday income semakin menyumbang persentase yang makin kecil setiap tahunnya terutama untuk tim-tim top Eropa. Bahkan matchday income justru dianggap sebagai sesuatu yang paling susah untuk digali, pertama karena kapasitas stadion yang terbatas rekor rata-rata supporter terbanyak dipegang oleh Dortmund itupun tidak sampai 90.000 orang per-pertandingan.

Kedua, menaikan harga tiket tentu berpotensi menciptakan tensi dengan suppoter serta menurunkan kehadiran fans yang merusak home advantage. Ditambah lagi menaikan harga juga sangat sensitif dengan kemampuan ekonomi masyarakat sekitar, jangan mimpi lah tim Indonesia bisa masang harga tiket sejuta kayak di Inggris dan stadion tetap penuh, Persija pasang harga tiket ekonomi Rp. 50.000 aja udah bikin megap-megap The Jak padahal Jakarta merupakan salah satu region paling tajir se-Indonesia.

Opsi melakukan pembesaran stadion tentu bisa dilakukan seperti Spurs. Namun kalau mempertimbangkan harga ekspansi stadion, apalagi rata-rata tim besar berasal dari kota yang padat sehingga nyari tanah kosong buat dibangun stadion saja susah dan banyak sengketanya (ekhem Jakarta).

Belum lagi tim yang dalam setahun-dua tahun bisa jadi musafir yang tentunya menurunkan performa. Serta masih ada sumber lain yang lebih mudah, gak heran deh kalau banyak tim Eropa yang tim seperti Bornemouth, Fulham, atau QPR yang betah-betah aja di stadion yang kapasitasnya gak lebih besar dari Almarhum stadion Lebak Bulus.

Seberapa penting matchday income pada sepakbola moderen, ya seperti yang saya bilang tadi tidak teralu. Kita hidup di era dimana sudah tidak membingungkan kalau Bornemouth atau Fulham yang stadionnya gak lebih megah dari Almarhum Stadion Lebak Bulus bisa lebih tajir dari Persija dan Persebaya yang main di GBK dan GBT, dan bukan perkara daya beli atau di Indonesia banyak rojali saja.

Faktanya kalau dibandingkan dengan Glasgow Celtic yang kapasitas stadionnya 50.000an, main di Europa League, dan trebel domestik di Skotlandia. Bornemouth yang stadionnya sekilas seperti Stadion Merpati Depok dan cuma finish di posisi 12 Premier League, pendapatannya tetap lebih tinggi sekitar 38 juta Pounds daripada Celtic. Celtic “cuma” dapat 93 Juta Pounds dalam tahun anggaran 2019, sementara Bornemouth dapat 131 Juta Pounds.

Yang lebih gila lagi keunggulan itu didapatkan dengan matchday Income yang kalah hampir sepuluh kali lipat; Bornemouth 4.9 Juta Pounds vs Celtic 43 Juta Punds, dan merchandise yang kalah hampir 18 kali lipat; Bournemouth 1.2 Juta Pounds vs Celtic 18.1 Juta Pounds kok bisa?

Jawabannya adalah brodcasting, Bornemouth main di Premier League sementara Celtic main di Scotish Premier League. Bahkan gabungan antara Media+Commercial Activity Celtic yang main di Europa League dan Juara SPL cuma menghasilkan 22 Juta Pounds. Bandingkan dengan hanya finish di peringkat 12 EPL yang menghasilkan pendapatan mencapai 115.6 Juta Pounds, atau hampir 11 kali lipat. Kalau ditambah dengan sposor, maka pendapatan Bornemouth mencapai 118.7 Juta Pounds.

Pendapatan brodcasting yang luar biasa inilah yang menjadi fondasi kedigdayaan tim-tim Inggris, Italia, Jerman, dan Prancis. Terutama tim Inggris, gabungan antara liga yang seru dan pemain top dunia membuat brodcasting Liga Inggris menjadi yang termahal sedunia. Bahkan menurut Tifo Football bermain satu musim dan terdegradasi dari EPL menghasilkan brodcasting income yang bahkan lebih tinggi daripada brodcasting income ditambah hadiah juara Eredivisie Belanda.

Itulah kenapa kesuksesan Ajax, Feynoord, atau PSV pasti akan diikuti dengan eksodus pemain besar-besaran. Selain memang business model dari tim Belanda, menjadi “big fish in a little pond” punya kutukan sendiri, siapa juga yang mau nonton Excelsior vs Sparta Rotterdam kecuali orang Belanda.

Karena brodcasting income yang rendah tersebutlah Ajax tidak mungkin mempertahankan pemainnya ketika berhadapan dengan tim dari big five league Eropa. Ya, enaknya jadi tim Inggris finish di peringkat 12 saja sudah menghasilkan uang yang sama dengan penjualan De Light dan Ziyech.

Manchester United Vs Southampton Setan Merah Kehilangan Poin di Old Trafford

Manchester United Vs Southampton Setan Merah Kehilangan Poin di Old Trafford – Mereka sebenarnya memiliki peluang melonjak keposisi 3, setelah dan Leicester 1-4 dari Bournemouth pada akhir pekan lalu. Manchester United dihadapkan pada peluang sempurna untuk meraih zona Liga Champions tersebut. Namun itu tidak terjadi pada mereka setelah hasil imbang yang mereka dapatkan. Bahkan Manchester United ketinggalan terlebih dulu ketika laga baru saja berjalan 12 menit.

Manchester United Vs Southampton Setan Merah Kehilangan Poin di Old Trafford

Manchester United Vs Southampton Setan Merah Kehilangan Poin di Old Trafford

Stuart Armstrong memberi The Saints keunggulan hasil kerja sama yang bagus dari Danny Ings dan Nathan Redmond. Namun untungnya ada Marcus Rashford, hanya 8 menit kemudian berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Hanya 3 menit setelah itu Manchester United unggul 2-1 berkat gol luar biasa dari tendangan Anthony Martial.

Manchester United unggul hingga jauh ke injury time babak kedua. Sampai akhirnya keunggulan tersebut sirna ketika pemain pengganti Southampton, Michael Obafemi menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit ke-96. Berawal dari tendangan sudut, Obafemi menyambar bola di tiang jauh setelah Jan Bednarek menyundul tipis ke sudut kiri gawang De Gea.

Sebelum gol ini terjadi beberapa penyelamatan De Gea patut diberikan apresiasi. Salah satunya adalah peluang emas dari tendangan keras Redmond berhasil ditepis De Gea. Ole Gunnar Solskjaer usai laga tersebut memberikan keterangan dihadapan para pewarta seperti dilansir Skysports. Semua pasti kecewa dengan hasil ini,bukan hanya pelatih Solskjaer. Para pemain merasakan hal yang sama termasuk Harry Maguire, bek tengah United yang tidak berhasil mencegah gol Southampton di menit akhir tersebut.

Solskjaer sendiri mengakui bahwa tim asuhannya bisa saja tidak pantas mendapatkan tiga poin hari ini. Hal tersebut cukup beralasan karena para pemain Southampton terutama pada babak kedua bermain bagus. Mereka memiliki fisik sangat fit dengan determinasi tinggi untuk menang dari United. Hasil imbang ini tidak mengubah posisi United tetap diposisi ke-5 dengan 59 poin sama dengan perolehan poin Leicester di posisi ke-4 yang hanya unggul selisih gol.

Sementara Chelsea masih kokoh diposisi ke-3 dibawah City dan Liverpool. Bersama Leicester dan United, Chelsea bersaing meraih sisa dua slot lagi Liga Champions. Manchester United sekarang tetap tidak terkalahkan dalam 18 pertandingan di semua kompetisi. Pencapaian ini sama dengan rekor tak terkalahkan tahun 2013 ketika mereka di bawah asuhan Sir Alex Ferguson.

Sisa laga yang harus dihadapi Setan Merah adalah lawan Watford, West Ham United dan Leicester City untuk mengejar target 4 besar. Laga terakhir melawan Leicester bisa jadi merupakan laga hidup mati untuk meraih tiket Liga Champions tahun depan.

Satu Hal yang Dilupakan Arteta tentang Mourinho

Satu Hal yang Dilupakan Arteta tentang Mourinho – Rentetan hasil positif dengan formasi 3-4-3 dari Arsenal akhirnya menemui pemberhentian. Setelah hanya imbang dengan Leicester City, permainan Arsenal mulai terdapat celah yang masih dapat dimanfaatkan oleh lawannya.

Satu Hal yang Dilupakan Arteta tentang Mourinho

Satu Hal yang Dilupakan Arteta tentang Mourinho

Sebenarnya hal ini sempat tersinggung di laga perdana Arsenal ketika menggunakan formasi itu–di Piala FA–atau pun ketika Arsenal mengalahkan Norwich City di Premier League. Arsenal memang bermain lebih baik pasca kekalahan dari Manchester City dan Brighton, namun mereka masih membiarkan lawan untuk membuat teror ke gawang Emiliano Martinez.

Entah karena ini bagian dari konsekuensi penggunaan formasi itu, atau memang Mikel Arteta ingin membuat semacam jebakan agar lawan dapat dipukul mundur dengan serangan cepat. Tetapi bagaimana jika mereka berhadapan dengan klub yang secara kualitas tidak beda jauh?

Sebenarnya ini sempat dikhawatirkan ketika mereka melawat ke markas Wolverhampton Wanderers. Namun, ternyata The Gunners sukses menundukkan sang tuan rumah. Tetapi, kekhawatiran bahwa permainan mereka akan mulai terbaca benar terjadi saat bertemu Leicester. The Foxes mampu menandingi solidnya pertahanan David Luiz dan Skhodran Mustafi dengan duel one-on-one atau dengan serangan balik.

Brendan Rogers rupanya tahu bahwa dengan formasi 3-4-3 cara bertahan Arsenal akan langsung berkumpul di tengah, maka cara agar dapat membongkar kerapatan itu adalah dengan memancing 1-2 pemain untuk keluar dari zona bertahannya. Taktik seperti ini sebenarnya bukan tanpa cela, tetapi bagi tim yang sedang tidak diunggulkan akan berupaya tak peduli dengan hasil 50-50 ketika terdapat peluang. Situasi ini yang rupanya cukup terlihat di laga terbaru, yaitu derbi London Utara.

Son Heung-min menjadi bintang di derbi ini dengan membawa Spurs menang 2-1 (1 gol dan 1 asis). Gambar: Premierleague via football5star. Son Heung-min menjadi bintang di derbi ini dengan membawa Spurs menang 2-1 (1 gol dan 1 asis). Memang, ketika di awal-awal laga kedua tim langsung mencoba mengancam pertahanan lawan. Bahkan, Tottenham Hotspur sebagai tuan rumah memiliki peluang yang efektif. Hanya, ada satu pemandangan yang entah mengapa terjadi pada Spurs saat ini. Yaitu, cara bermainnya yang tidak begitu menunjukkan kapasitas mereka sebagai eks finalis Liga Champions musim lalu.

Terlepas dari perginya Christian Eriksen, sebagian besar pemain musim lalu ada di Tottenham Hostpur Stadium. Tetapi memang ada benarnya jika ini adalah faktor keberadaan Jose Mourinho sebagai pengganti Maurichio Pocchetino. Ada positif dan negatif ketika Spurs dilatih Mourinho. Negatifnya, mereka akan bermain lebih pragmatis lagi dibandingkan musim lalu. Positifnya, mereka diberitahu cara untuk menang di laga yang penuh gengsi.

Sebagai pelatih kawakan, Mourinho sudah sangat kenyang pengalaman, khususnya dalam menghadapi Arsenal. Nahasnya, sampai sejauh ini terasa benar bahwa musuh Arsenal dari era Arsene Wenger sampai Mikel Arteta adalah Jose Mourinho. Sejak di Chelsea, Manchester United, dan kini Spurs, Mourinho seolah menjadi momok bagi Arsenal. Pelatih asal Portugal itu seolah tahu betul bagaimana cara meruntuhkan Arsenal.

Inilah yang kemudian menjadi satu hal yang terlupakan bagi Arsenal, khususnya bagi Arteta. Dirinya memang mampu meminta anak asuhnya bermain lebih baik dari seniornya, tetapi dia lupa bahwa yang dia hadapi adalah salah satu pelatih yang sangat tricky.
Terlepas dari kegagalannya membawa Real Madrid menjadi klub yang dominan di Spanyol dan Eropa, namun dalam urusan berhadapan dengan klub yang dianggap lebih baik dari klubnya, dia akan cukup tahu caranya untuk mempersulit lawannya.

Satu hal yang diupayakan oleh eks pelatih Porto dan Inter itu adalah beradu mental. Dia tidak segan meminta para pemainnya untuk bermain lebih bertahan, lebih kasar, hingga lebih militan. Inilah yang nyaris sering dilupakan oleh Arsenal. Ditambah dengan posisinya kini sebagai rival dekat, maka sudah pasti Mourinho sangat mendorong para pemainnya untuk keluar dari zona nyaman. Hal ini juga terbukti dari catatan pelanggaran dan kartu kuning Spurs lebih banyak dari Arsenal.

Terlepas dari adanya isu berbau ultimatum tentang kelanjutan karier Harry Kane di Spurs, apabila derbi ini tidak dimenangkan Spurs. Kita bisa cukup sepakat bahwa Mourinho memang lebih lihai mengatur situasi yang tidak cenderung teknikal di lapangan. Dia lebih fokus dengan membuat manajemen mentalitas dibandingkan ramuan taktik yang sejauh ini sangat identik dengan Pep Guardiola dan kini sedang berupaya ditiru oleh Arteta.

Melalui kekalahan ini, Arteta diharapkan menyadari bahwa dirinya juga perlu belajar memahami bagaimana karakteristik lawannya baik secara teknis maupun non-teknis. Jadi, hasil ini tidak sepenuhnya menjadi kiamat bagi David Luiz dkk., karena mereka sebenarnya masih dapat disebut telah bermain maksimal. Terbukti, mereka juga dapat unggul terlebih dahulu maupun menguasai permainan.

Di dalam urusan bertahan, mereka juga mampu menjebak offside Kane dkk. yang artinya secara komunikasi di lini belakang sudah cukup bagus. Tinggal, mereka perlu mengingat bahwa dalam mengalahkan lawan bukan hanya tentang taktik bermain–menyusun formasi, tapi juga pengaruh taktik yang tidak begitu kasat mata-beradu mental.