Manchester United Tim Pejuang Degradasi dan Penentuan di Penghujung Juli

Manchester United Tim Pejuang Degradasi, dan Penentuan di Penghujung Juli – Tinggal menghitung hari untuk pergi. Tinggal beberapa hari lagi. Namun, bagi beberapa tim Liga Inggris, Juli yang tinggal beberapa hari itu akan terasa sangat mendebarkan. Para suporter akan berharap-harap cemas menunggu akhir cerita nasib tim mereka. Sedikitnya ada enam tim di Liga Inggris yang tengah diliputi ketegangan perihal nasib mereka. Apakah akan bisa bermain di Liga Champions, apakah tetap bermain di Liga Inggris, atau malah akan turun divisi dan entah kapan akan bisa kembali ke Premier League. Semuanya akan ditentukan pada penghujung Juli ini.

Manchester United Tim Pejuang Degradasi dan Penentuan di Penghujung Juli

Manchester United Tim Pejuang Degradasi, dan Penentuan di Penghujung Juli

Salah satu tim yang akan melakoni penentuan nasib di penghujung Juli adalah Manchester United (MU). Klub peraih gelar terbanyak Liga Inggris ini akan berjuang di dua laga terakhir demi “selembar” tiket ke Liga Champions musim depan. Kita tahu, dari empat ‘tiket’ ke Liga Champions 2020/21 yang diperuntukkan bagi tim Inggris, dua diantaranya dipastikan menjadi milik Liverpool dan Manchester City. Dua tiket tersisa kini diperebutkan MU, Chelsea, dan Leicester City di penghujung liga.

Manchester atau Kamis (23/7) dini hari waktu Indonesia, MU akan menjamu West Ham United di Old Trafford. Sebuah perjamuan mencekam karena kekalahan di laga ini akan bisa berujung duka berkepanjangan bagi kedua tim. Bagi MU yang masih ada di peringkat 5 dan masih punya sisa dua laga, menjamu West Ham akan menjadi kesempatan terbesar mereka bila ingin tampil di Liga Champions. Sebab, kemenangan akan membuat mereka masuk empat besar. Bila menang, MU (62 poin) akan meraih 65 poin yang berarti melewati perolehan poin Leicester City (62 poin).

Menariknya, di pertandingan terakhir, MU akan away ke markas Leicester (26/7). Itu akan menjadi “laga hidup mati” bagi kedua tim. Sementara Chelsea (63 poin) akan away ke Anfield melawan Liverpool (22/7) dan di pertandingan terakhir menjamu Wolverhampton (26/7). Meski berat, tetapi jadwal Chelsea sejatinya ‘lebih sederhana’ dibanding MU dan Leicester. Sebab, dengan hanya meraih satu kemenangan, Chelsea sudah dipastikan lolos.

Sangat penting. Apalagi bagi klub sebesar dan setenar Manchester United. Bisa lolos ke Liga Champions bukan hanya tentang gengsi atau kesempatan memperoleh fee di setiap pertandingan Liga Champions. Namun, lolos ke Liga Champions akan membuat Tim Setan Merah–julukan Manchester United, memiliki keuntungan jangka panjang dalam mempersiapkan tim menyambut kompetisi musim 2020/21. Dengan ‘iming-iming’ tampil di Liga Champions, mereka akan lebih mudah bila ingin mendatangkan pemain-pemain bintang demi memperkuat klub. Tentunya itu juga berdampak pada aspek bisnis klub dan juga branding klub di tahun-tahun mendatang.

Sebenarnya apa makna pentingnya lolos ke Liga Champions bagi sebuah tim

Akan beda ceritanya bila mereka gagal lolos dan hanya tampil di kompetisi “kelas dua” Eropa bernama Europa League. MU bakal ‘dilupakan’. Mereka akan kesulitan merayu pemain-pemain top. Sebab, mayoritas pemain top Eropa maunya ya main di Liga Champions. Adapun bagi West Ham United, laga di Old Trafford nanti juga sangat krusial bagi mereka. Bukan tentang Liga Champions, melainkan tentang demi tetap survive di Premier League. Ya, bila tidak kalah di Old Trafford dini hari nanti, West Ham dipastikan akan bertahan di Liga Inggris. Tambahan satu poin akan membuat West Ham meraih 38 poin, dan itu sudah aman dari ancaman degradasi.

MU memang lebih diunggulkan untuk menang. Meski baru tersingkir di semifinal Piala FA usai kalah 1-3 dari Chelsea (19/7), rasanya MU bisa langsung move on demi menyambut laga penting ini. Memang, di pertemuan pertama d London pada 23 September 2019 lalu, MU kalah 0-2. Namun, itu cerita lalu. Sejak Liga Inggris kembali bergulir setelah jeda akibat pandemi, MU belum terkalahkan. Di tujuh laga setelah restart Liga Inggris, mereka menang 5 kali dan dua kali imbang. Namun, pelatih MU, Ole Solskjaer wajib mewaspadai semangat tim-tim yang tengah berjuang lepas dari degradasi.

Sebab, dalam situasi menentukan nasib seperti saat ini, tim-tim “pejuang degradasi” bisa tampil mengejutkan. Apa yang terjadi pada Arsenal, Rabu (22/7) dini hari tadi, bisa menjadi pelajaran bagi pemain-pemain MU dan Solskjaer. Arsenal yang lebih diunggulkan, malah kalah 0-1 dari Aston Villa, tim yang tengah berada di tepi jurang degradasi dan sangat butuh kemenangan untuk selamat. Bagaimana bisa, Arsenal yang sebelumnya tampil gagal dengan mengalahkan Liverpool dan Manchester City dan termotivasi lolos ke Europa League (finish di peringkat 5-6), malah kalah dari Aston Villa yang berada di peringkat 17.

Namun, itulah letupan semangat tim-tim pejuang degradasi. Dalam hal ini, pemain-pemain Aston Villa boleh jadi punya motivasi menang lebih besar dari pemain-pemain Liverpool dan Manchester City. Sebab, mereka bermain dengan pertaruhan “selamat atau kiamat”. Semangat seperti itulah yang akan diusung pemain-pemain West Ham di laga nanti. Ya, bagi tim-tim yang berjuang untuk selamat degradasi alias tetap bertahan di Premier League, itu nilainya bahkan mungkin lebih besar dari Liga Champions. Sebab, satu pertandingan bisa senilai satu musim kompetisi.

Pasalnya, bila tim terdegradasi dan turun ke Divisi Championship, tidak ada jaminan mereka bakal langsung bisa promosi kembali ke Premier League di tahun depan. Sebab, persaingan di Divisi Championship tidak kalah ketat dibanding Liga Inggris (Premier League). Championship yang diisi 24 tim, lebih banyak dari Premier League yang diisi 20 tim. Apalagi, hanya ada dua tim saja yang langsung promosi. Empat tim lainnya akan berjuang lewat jalur play off demi berebut ‘satu tiket’ promosi ke Premier League. Berat kan?

Perihal perjuangan tim pejuang degradasi ini tidak hanya terjadi di Liga Inggris. Di Liga Spanyol yang mempertandingkan pertandingan terakhir pada akhir pekan kemarin, sang juara Real Madrid juga merasakan sulitnya mengalahkan tim pejuang degradasi. Real Madrid ditahan imbang Leganes 2-2. Leganes yang butuh menang untuk selamat dari degradasi, tampil luar biasa. Meski dua kali tertinggal, mereka bisa menyamakan skor. Namun, hasil imbang itu tidak mampu menyelamatkan mereka. Leganes terdegradasi ke Segunda Division Spanyol karena finish di posisi 18.

Ironisnya, poin Leganes (36) hanya berselisih satu poin dari Celta Vigo (37). Andai Leganes bisa menambah satu gol ke gawang Real Madrid, mereka akan selamat karena mengumpulkan 38 poin. Pada akhirnya, menarik ditunggu bagaimana akhir cerita penghujung Juli di Liga Inggris. Menarik ditunggu siapa dua tim yang akan mendapatkan dua ‘tiket’ tersisa ke Liga Champions. Apakah MU, Chelsea, atau Leicester. Dan yang tidak kalah menarik, siapa tim yang akhirnya menemani Norwich City ke Divisi Championship. Merujuk pada posisi di klasemen, Bournemouth (31 poin) dan Watford (34 poin) sepertinya akan sulit keluar dari zona merah.

Apalagi, di laga pamungkas, Bournemouth akan away ke markas Everton dan Watford bermain di rumahnya Arsenal. Tentu akan sulit bagi mereka untuk menambah poin. Artinya, Aston Villa dan West Ham United yang bertemu di laga terakhir, kemungkinan besar akan selamat.

Bila Depak Pioli AC Milan Berarti Tak Menghargai Sebuah Proses

Bila Depak Pioli AC Milan Berarti Tak Menghargai Sebuah Proses – Sebelum pandemi dimulai, tim asal kota Milano, AC Milan nyatanya dikabarkan telah menjalin komunikasi dengan pelatih asal Jerman, Ralf Rangnick. Semua dimulai ketika pelatihnya saat ini, Stefano Pioli dianggap gagal memberikan perubahan pada AC Milan. Puncaknya, ketika Milan dihajar Atalanta dengan skor mencolok, 5-0. Padahal, Stefano Pioli baru mendarat ke Milan pada bulan Oktober 2019 setelah klub kota mode tersebut memecat Marco Giampolo yang gagal total di 7 laga perdana Serie A edisi tahun ini.

Bila Depak Pioli AC Milan Berarti Tak Menghargai Sebuah Proses

Bila Depak Pioli AC Milan Berarti Tak Menghargai Sebuah Proses

Milan tak sabar menunggu, ketika Stefano Pioli mencatatkan hasil buruk juga dalam 9 pertandingan pertamanya. Milan hanya meraih hasil imbang lawan Lecce ketika ia pertama datang dan menang tipis melawan tim degradasi SPAL. Selanjutnya, bergantian AS Roma, Lazio dan Juventus menghajar AC Milan. Kekalahan berturut tersebut membuat AC Milan sepertinya mulai mencari-cari alasan untuk memecat Pioli. Namun Pioli mulai mencoba membuktikan racikannya pas untuk AC Milan ketika imbang dengan Napoli, lalu menang melawan Bologna.

Manajemen AC Milan kembali mendapatkan alasan untuk menyingkirkan pelatih berkepala plontos tersebut setelah Atalanta menghajar AC Milan 5 gol tanpa balas. Saat itu, penampilan AC Milan memang cenderung kurang konsisten, lalu AC Milan terlempar ke peringkat 10 klasemen.

Ketika seperti AC Milan sudah terbiasa dengan racikan Pioli dan menunjukkan hasil positif, giliran tim tetangga satu kota Intermilan yang membuat kursi kepelatihan Pioli kembali goyah. Milan berhasil mengalahkan Sampdoria, Cagliari, Udinese, dan Brescia dan hanya imbang melawan Verona.

Tapi, kekalahan 4-2 melawan Intermilan membuat rumor pergantian pelatih AC Milan kembali berhembus. Ditambah lagi, pertandingan terakhir sebelum Serie A resmi dihentikan karena pandemi Covid-19 diwarnai dengan kekalahan AC Milan dari tim semenjana, Genoa.

Langkah Juventus Jadi Scudetto Bisa Terganggu Hal Ini

Sebenarnya, setiap pelatih membawa racikan yang berbeda-beda. Tidak hanya pelatih yang harus beradaptasi dengan pemain yang dimiliki tim, tapi juga pemain yang beradaptasi dengan racikan pelatih. Maka keputusan AC Milan yang terus ingin menggonta-ganti pelatih bukanlah jalan keluar yang baik untuk mereka. Setiap pelatih tentunya butuh waktu untuk menguji dan bereksperimen dengan formasi dan gaya bermain masing-masing.

Dan Pioli, pelatih yang sudah malang melintang 2 dekade di Italia ini juga butuh kepercayaan lebih. Waktu selama pandemi mungkin dimanfaatkan sebisa mungkin untuk mematangkan formasinya. Hasilnya, tokcer.

Pasca Pandemi, Milan tidak terkalahkan. Mencetak 25 gol selama 8 pertandingan terakhir, bahkan membantai Lazio, Juventus, Parma, Roma, Lecce dan Bologna tanpa ampun. Milan baru mencatatkan 16 kemenangan musim ini, dan 6 di antaranya dicatatkan pasca Pandemi. Sekarang, AC Milan jelas-jelas sudah memberikan ancaman pada Roma dan Napoli yang berada di peringkat 5 dan 6. Bahkan, meski selisih hampir 12 angka dengan peringkat 4 Lazio, melihat hasil kurang baik yang ditunjukkan Lazio berturut-turut malah menjadikan AC Milan juga bisa menyodok ke posisi 4 bila beruntung.

Mendongkrak posisi klub di klasemen dari peringkat 10 menjadi peringkat 6 tentunya bukan hal yang gampang. Meraih 6 kemenangan dan 2 imbang dari 8 pertandingan terakhir, serta total 25 gol bukanlah sebuah pekerjaan yang bisa dilakukan banyak pelatih.

Setidaknya, mempertahankan Pioli bisa membuat AC Milan memulai Serie A tahun depan dengan kebut dari start. Menggantinya dengan pelatih baru, hanya akan memulai proses dari 0 lagi. Memberi kepercayaan lebih pada seorang pelatih, berarti menghargai sebuah proses. Bagaimana seorang pelatih yang masih minim pengalaman macam Simone Inzaghi, Fillipo Inzaghi, Genaro Gatuso dan Zenedine Zidane mampu berprestasi? Jawabannya adalah, karena diberi kepercayaan dan waktu.

Klub Nunggak Gaji Bagaimana Siasati Ikuti Lanjutan Kompetisi

Klub Nunggak Gaji Bagaimana Siasati Ikuti Lanjutan Kompetisi – PSS Sleman Nunggak Gaji 2 Bulan, PSM 1 Bulan”. Begitu judul berita di harian Jawa Pos edisi 14 Juli 2020. Berita yang cukup menyentak itu merupakan kasus yang pertama kali terjadi di kompetisi Liga 1 2020. PSS sendiri baru ganti kepemilikan di awal 2020 setelah saham mayoritas PT Putra Sleman Sembada (perusahaan yang menaungi PSS) yang dikuasai Soekeno, taipan properti, dibeli oleh Palladium Pratama Cemerlang. Komisaris Utama PT PSS dijabat oleh Agus Projosasmito.

Klub Nunggak Gaji Bagaimana Siasati Ikuti Lanjutan Kompetisi

Klub Nunggak Gaji Bagaimana Siasati Ikuti Lanjutan Kompetisi

Keterlambatan gaji itu, meski bisa dimaklumi terjadi di tengah pandemi Covid-19, makin membuka mata kita seperti apa kondisi klub-klub Liga 1. Mereka akan mengikuti kompetisi lanjutan pada 1 Oktober 2020 hingga 28 Februari 2021 (6 bulan). Bisa dibayangkan situasi yang terjadi di klub-klub Liga 2 dengan krisis finansial yang terjadi saat ini akibat pandemi itu. Kondisi yang menimpa klub-klub Liga 1 dan 2 bisa dimaklumi. Mereka sudah membuat rencana anggaran, mengontrak pemain (baik yang lama maupun baru), mendapatkan sponsor dan program pelatihan. Semua itu ambyar ketika pandemi melanda, dan kompetisi dihentikan sementara.

Di tengah situasi itu, keran dana tetap mengucur, terbesar untuk membayar gaji pemain, staf pelatih dan karyawan. Mereka mendapatkan gaji penuh untuk bulan Maret. Bulan berikutnya, April-Juni pemain mendapatkan 25% dari nilai kontrak. Karyawan pun tak luput,dari pemotongan gaji, setidaknya di sebagian klub, yang besarannya bervariasi. Saya kira, keterlambatan pembayaran gaji tak hanya melanda PSS dan PSM. Klub-klub lain juga mengalami hal sama, hanya tak terendus atau diberitakan oleh media.

Analogi sederhana, jika untuk membayar pemain dengan 25% saja saat ini sudah kelimpungan, bagaimana nanti untuk pembayaran gaji September 2020 hingga berakhirnya kompetisi pada akhir Februari 2021. Seperti diketahui, PSSI telah mengeluarkan keputusan (Surat Keputusan (SK) PSSI nomor SKEP/53/VI/2020) yang di dalamnya mengatur gaji pemain dan pelatih. Untuk klub Liga 1 pada kisaran 50%, dan Liga 2 kisaran 60%.

Istilah “kisaran” itu dipertanyakan oleh Asoasi Pemain Profesional Indonesia (APPI). Mereka menganggap PSSI telah melanggar kesepakatan yang didapat antara keduanya. Kesepakatan itu menyebutkan bahwa gaji pemain dan pelatih di Liga 1 minimal 50%, sedangkan untuk Liga 2 minimal 60%. Dalam SK tersebut tidak diatur bagaimana besaran gaji untuk bulan Juli dan Agustus. Hal ini dianggap janggal karena lewat keputusan sebelumnya justeru ditentukan besaran gaji untuk April –Juni yakni 25%. Akibatnya klub pun memberi tafsiran sendiri bahwa gaji Juli-Agustus tak beda yakni sebesar 25%.

Tanpa adanya pemasukan dana dari sponsor, hak siar dan tiket tak mengherankan jika klub jadi sempoyongan. Terjadilah keterlambatan pembayaran gaji. Bagaimana nanti mereka melangkah di kompetisi lanjutan yang rencana kick-off nya 1 Oktober 2020?. Salah satu andalan pemasukan klub Liga 1 adalah subsidi dari PT Liga Indonesia Baru (LIB). Dalam situasi kompetisi mandek ini mereka baru menerima subsidi bulan Maret dan April sebesar Rp 520 juta per bulan.

Sedangkan untuk Mei, Juni dan Juli belum diberikan oleh PT LIB. Pemasukan lainnya dari klub adalah dana segar dari sponsor yang diharapkan tetap bekerjasama, syukur bertambah juga logo sponsor di jersey pemain. Namun dengan tak adanya penonton jelas klub terpukul, berpikir keras bagaimana bisa bertahan dalam lanjutan kompetisi nanti. Subsidi sebesar Rp 800 juta hanya untuk menutupi gaji pemain, pelatih dan staf serta karyawan setiap bulannya. Belum lagi biaya panitia pelaksana (panpel) saat bertindak sebagai tuan rumah.

Biaya sebulan itu, Rp 800 juta, mengacu pada Arema FC. Rinciannya Arema FC adalah biaya gaji pemain, pelatih, dan staf sebesar Rp575 juta. Kemudian biaya operasional tim Rp150 juta, dan Rp75 juta untuk membayar gaji para karyawan. Tentu klub-klub lain punya pengeluaran yang hampir sama, lebih rendah atau lebih tinggi. Dari keterangan di media, biaya sebesar itu dikeluarkan saat kompetisi vakum, artinya angka yang disampaikan oleh Arema itu untuk gaji pemain dan pelatih yang sebesar 25%.

Tak mengherankan jika banyak yang menyampaikan kepada PT LIB subsidi dinaikkan lagi minimal Rp 1 miliar dengan tak adanya penonton.Pemasukan dari tiket selama ini cukup siginifikan, meski baru mencukupi sekitar 20% dari biaya operasional. Jumlah tersebut belum menghitung operasional tim saat laga dimulai, yang mencakup transportasi, sewa lapangan dan lainnya. PSSI telah memutuskan kompetisi lanjutan dipusatkan di Jawa. Sebanyak 13 klub telah menetapkan venue pilihannya.

Stadion Maguwoharjo di Sleman menjadi pilihan Persiraja Banda Aceh, Borneo FC, dan sang tuan rumah PSS Sleman. Sementara Sultan Agung dipilih oleh Persija Jakarta, Bali United, dan PSM Makassar. Sedangkan PSIS berkandang di Stadion Citarum di Semarang dan Persib di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Tiga tim lainnya memilih di kandangnya sendiri yakni.Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Malang, Madura United di Stadion Gelora Bangkalan, Bangkalan, Persik Kediri di Stadion Brawijaya, Kediri dan Persela Lamongan di Stadion Surajaya, Lamongan.

Tentunya biaya transportasi saat bermain tandang lebih murah. Misalnya, Persiraja dan Borneo FC menempuh jarak yang lebih dekat jika harus bertandang ke markas Madura United. Mereka berangkat dari Yogyakarta ke Bangkalan, Madura. Maka pertanyaan sederhana dari kondisi yang ada pada klub Liga 1 adalah sejauh mana mereka bisa bertahan untuk tetap mengarungi lanjutan kompetisi. Jika terjadi lagi gaji tertunggak, apakah tidak berpengaruh secara psikologis pada penampilan pemain.

Milan Akan Coba Kau Pikir Lagi Kalau Mau Ganti Pioli

Milan Akan Coba Kau Pikir Lagi Kalau Mau Ganti Pioli – AC Milan, sepertinya dirimu harus berpikir ulang untuk mengganti pelatih. Pucuk manajemenmu harus melihat lagi, bagaimana Milan cukup menjanjikan di tangan Pioli. Dengan performa Milan saat ini, sayang kalau Pioli dicopot. Kemudian, di musim depan Milan dilatih Ralf Rangnick yang tak memiliki pengalaman di Liga Italia.

Milan Akan Coba Kau Pikir Lagi Kalau Mau Ganti Pioli

Stefano Pioli kembali memberi kemenangan bagi AC Milan. Kemenangannya pun memuaskan, yakni 5-1 atas Bologna, Sabtu (18/7/2020) waktu Milan. Gol Milan dibuat Alexis Saelemaekers, Hakan Calhanoglu, Ismael Bennacer, Ante Rebic, dan Davide Calabria. Satu gol Bologna dibuat Takehiro Tomiyasu. Performa Milan setelah jeda pandemi memang meyakinkan. Mereka mampu menang enam kali dan seri dua kali. Dari enam kemenangan itu, tiga kemenangan didapatkan dari tim kuat.

Milan mampu mengalahkan AS Roma 2-0. Milan mampu membalikkan keadaan dan mengalahkan Juventus 4-2. Milan mampu membantai Lazio 3-0. Dalam delapan laga terakhir itu, Milan mampu mencetak 25 gol dan sembilan delapan gol. Produktivitas itu sangat luar biasa. Sebab, hampir 50% gol Milan di Liga Italia musim ini dibuat di delapan laga terakhir. Total sampai pekan 34, Milan membuat 53 gol. Tren positif Milan membuat mereka kini ada di posisi enam klasemen sementara dengan 56 poin dari 34 laga.

Milan masih sangat mungkin mempertahankan posisi enam besar sampai Liga Italia rampung. Jika tetap di enam besar, maka Milan bisa main di Liga Europa musim depan. Sementara, untuk masuk ke 4 besar atau zona Liga Champions memang sudah sulit. Milan kini terpaut 13 poin dari Lazio yang ada di posisi 4 klasemen sementara. Terkait performa Milan, belum lama ini mantan pelatih klub merah hitam itu, Fabio Capello angkat suara. Dia menilai bahwa Pioli layak dipertahankan. Capello yakin jika Pioli dipertahankan, musim depan Milan akan berprestasi.

Capello, seperti diberitakan football italia belum lama ini menilai Ralf Rangnick bukan sosok yang tepat. Bagi Capello, Rangnick tak memiliki rekam jejak seorang juara. Menurutnya, jika Rangnick melatih Milan, maka klub yang pernah dijuluki The Dream Team itu akan kembali dari nol. Rangnick memang gosipnya sudah menandatangani kontrak sebagai pelatih AC Milan. Rangnick diharapkan bisa membawa Milan kembali ke jalur juara. Sebelumnya Rangnick mampu memberikan kejutan bersama Leipzig di Liga Jerman musim 2018-2019.

Saat itu, Leipzig mampu menjadi pesaing berat Bayern Munchen di perebutan gelar Liga Jerman. Namun memang pada akhirnya Munchen yang tetap jadi juara. Lama Tak Sentuh Trofi Bergengsi AC Milan memang sudah lama tenggelam. Mereka sudah lama tak menyentuh trofi bergengsi seperti Liga Italia atau Liga Champions. Trofi terakhir yang didapatkan Milan pun trofi kelas dua, yakni Piala Super Italia kala mereka dilatih Vincenzo Montella.

Sementara, untuk trofi Liga Italia, terakhir kali dirasakan Milan pada musim 2010-2011 saat masih dilatih Max Allegri. Liga Champions? Eah lebih lama lagi. Milan terakhir kali menjadi juara Liga Champions pada 2007. Saat itu, di final Milan mengalahkan Liverpool 2-1. Dua gol Milan dibuat Filippo Inzaghi yang kini sudah tak merumput lagi. Inzaghi kini sudah jadi pelatih. Sebagai klub legendaris, tak baik bagi Milan berlama-lama puasa gelar bergengsi. Maka, Milan memang harus bangkit. Setelah saya lihat-lihat, Pioli sepertinya memiliki jalan untuk membangkitkan Milan.

Real Madrid Berhasil Menjadi yang Terbaik di Spanyol dengan 34 Trofi La Liga Spanyol

Real Madrid Berhasil Menjadi yang Terbaik di Spanyol dengan 34 Trofi La Liga Spanyol – La Liga Spanyol musim ini belum berakhir tinggal menyisakan satu pertandingan lagi akan tetapi sang juara sudah milik Real Madrid. Real Madrid berhasil memastikan menyegel juara piala La Liga Spanyol pada Jumat ( 17/7 ) dini hari, pasukan Zizou berhasil mengalahkan Villareal di Santiago Bernabeu dengan skor 2 – 1. Dua gol pembuka juara Real Madrid dicetak oleh Karim Benzema di menit ke 29 dan menit ke 77 serta Villareal mencetak satu gol di menit ke 83 melalui V.Iborra.

Real Madrid Berhasil Menjadi yang Terbaik di Spanyol dengan 34 Trofi La Liga Spanyol

Real Madrid Berhasil Menjadi yang Terbaik di Spanyol dengan 34 Trofi La Liga Spanyol

Dengan kemenangan Real Madrid atas Villareal memastikan bahwa sang rival abadi mereka yaitu Barcelona dipastikan tidak akan bisa mengejar perolehan poin yang didapatkan Real Madrid. Hingga pekan ke 37 La Liga Spanyol, Real Madrid berhasil mengumpulkan sebanyak 86 poin sementara sang rival abadi Barcelona mengoleksi sebanyak 79 poin, kedua kesebelasan berjarak 7 poin sehingga Barcelona tidak akan bisa mengejar perolehan poin Real Madrid walaupun nanti Real Madrid kalah di pertandingan terakhir tapi tetap saja Barcelona tidak akan bisa mengejar perolehan poin Real Madrid.

Juara bertahan musim 2018/2019 yaitu Barcelona harus ikhlas untuk merelakan piala La Liga Spanyol musim 2019/2020 kepada musuh bebuyutan mereka yaitu Real Madrid, akan tetapi Barcelona juga membuktikan kalau mereka tetap profesional dengan memberikan ucapan selamat atas gelar juara Real Madrid di musim ini. Gelar ini memastikan real Madrid telah mengoleksi gelar La Liga Spanyol sebanyak 34 piala dan yang terbanyak dari klub-klub La Liga Spanyol lainnya, serta gelar ke 2 La Liga Spanyol di bawah kepemimpinan Zidane Zidane bersama Real Madrid dalam rentang waktu 2 periode kepemimpinan.

Zidane Zidane telah mengoleksi 11 gelar bergengsi bersama Real Madrid dalam kurun waktu 2 periode dan akan bisa saja bertambah gelar juara apabila Real Madrid berhasil menjuarai Liga Champions pada musim ini karena pasukan Zizou masih mengikuti kompetisi tersebut di musim ini.

Di pertandingan terakhir di pekan ke 38, Real Madrid akan terbang ke markas besar Leganes yaitu Estadio Butarque pada Senin ( 20/7) jam 02.00 WIB dini hari. Sementara Barcelona akan luan bertandang ke Estadio Mendizorroza markas kebanggaan Deportivo Alaves pada Minggu

Menyoal Tingkah Konyol Gareth Bale di Bangku Cadangan

Menyoal Tingkah Konyol Gareth Bale di Bangku Cadangan – GARETH Bale adalah salah seorang pemain bintang, yang dimiliki klub asal La Liga Spanyol, Real Madrid. Kecuali dalam kondisi cidera atau sakit, yang namanya pemain bintang hampir pasti selalu dimainkan untuk membela klubnya dalam setiap pertandingan. Terlebih, jika pertandingan itu merupakan laga krusial. Contohnya, menghadapi musuh bebuyutan. Penentuan juara, atau laga-laga penting lainnya, yang sifatnya mengejar target kemenangan.

Menyoal Tingkah Konyol Gareth Bale di Bangku Cadangan

Menyoal Tingkah Konyol Gareth Bale di Bangku Cadangan

Pun, dengan Gareth Bale. Biasanya dia juga selalu menjadi pemain andalan dalam setiap laga yang dimainkan Los Blancos, julukan Real Madrid. Terlebih, saat pemain andalan mereka, Cristiano Ronaldo hijrah ke Juventus. Namun, entah kenapa dalam beberapa pertandingan terakhir, pemain berkewarganegaraan Wales ini, hanya menjadi pemanis bangku cadangan. Padahal, kondisinya tidak sedang dilanda cidera.

Baik, lupakan tentang alasan sering tidak dimainkannya Bale oleh sang peracik tim, Zinedine Zidane. Namun, meski jarang atau tak beraksi di lapangan, pemain sayap dengan larinya yang terkenal cepat itu tak kehilangan akal untuk mencari perhatian.  Meski, apa yang dilakukannya tersebut cenderung lucu menjurus konyol.,Setidaknya, dalam satu pekan terakhir, Bale cukup membuat heboh, dan tingkah polah konyolnya itu menjadi viral di media sosial.

Pada pertandingan yang dimenangkan Real Madrid, dua gol tanpa balas tersebut, Bale dengan sengaja mengalihfungsikan masker yang semestinya untuk penutup hidung dan mulut menjadi penutup matanya. Konyolnya, aksi tadi dibarengi dengan posisi telentang dan tertidur sejenak. Sepintas, ulah Bale tampak lucu dan konyol. Kendati begitu, tak sedikit pula yang menilai, mantan pemain Liga Primer Inggris.

Totenham Hotspurs ini telah menodai citranya sendiri sebagai salah satu pemain bintang sepak bola dunia. Bukan hanya itu, tingkah polah Bale tersebut, kian menguatkan spekulasi, kalau dirinya akan segera cabut dari Los Blancos. Kedua, tingkah konyol kembali terjadi pada saat timnya melawan Granada, masih dalam lanjutan kompetisi La Liga Spanyol. Dalam pertandingan yang berlangsung pada Rabu (14/07/2020) dan dimenangkan Madrid dengan skor tipis 2-1 tersebut, tingkah konyol Bale berbanding terbalik dengan tingkah konyol sebelumnya.

Kalau, pada pertandingan melawan Alaves, Bale ketiduran atau mungkin pura-pura tidur, kali ini dia tampak sigap. Bale membentuk pita medis sebagai teropong untuk mengamati laga. Atas kedua tingkah konyolnya tersebut, membuat para fans Madrid kecewa dan marah terhadap pemain Wales ini. Mereka menganggap Bale sudah tidak menghormati klubnya lagi.

Bukan saja para fans Madrid yang kecewa atas segala tingkah konyol yang diperlihatkan Gareth Bale. Mantan pemain asal Bulgaria, Dimitra Berbatov juga menganggap hal serupa. Ketika saya melihatnya, saya tak mempercayai hal itu. Saya melihatnya mengenakan masker menutupi mata dan pura-pura tidur, ucap Berbatov. Dikutip dari CNNIndonesia yang melansir dari Marca.

Berbatov menyadari kekecewaan yang dialami Bale yang telah lama tersingkir dari formasi idaman pilihan Zinedine Zidane. Namun tingkah Bale tersebut dianggap Berbatov tidak dapat dibenarkan. Masih dikutip dari CNNIndonesia, Berbatov yakin Bale tengah melakukan psywar dengan Real Madrid.

The Gunners Arsenal Kalahkan Juara Premier League di Emirates

The Gunners Arsenal Kalahkan Juara Premier League di Emirates – Arsenal meraih kemenangan Liga Premier pertama mereka atas Liverpool dalam lima tahun terakhir ini berkat dua gol yang disarangkan Alexandre Lacazette dan Reiss Nelson. Momen penting dalam laga ini adalah dua pemain Liverpool yang melakukan blunder di daerah pertahanan sendiri. Kesalahan fatal dari Virgil van Dijk dan Alisson Becker memberi Arsenal kemenangan tersebut.

The Gunners Arsenal Kalahkan Juara Premier League di Emirates

Hal yang mungkin bisa saja dilakukan oleh pemain manapun membuat kesalahan di area penalti sangat manusiawi. Arsenal telah mengalahkan Liverpool untuk pertama kalinya di Liga Premier sejak April 2015. Saat itu mereka menang 4-1 atas Liverpool. Kekalahan ini adalah pertama kalinya bagi Jurgen Klopp dalam kiprahnya melawan The Gunners di kompetisi Premier League.

Sehingga sekarang catatannya dalam pertemuan dengan Arsenal, menang 5 laga, bermain seri sebanyak 3 laga dan sekali kalah. Kemenangan Arsenal ini juga sekaligus memastikan Liverpool tidak bisa menyamakan rekor 100 poin yang pernah dicapai Manchester City ketika juara Premier League pada musim. Saat ini Liverpool memiliki 93 poin dan hanya bisa mencapai 99 poin jika berhasil memenangkan dua sisa laga mereka.

The Reds Liverpool, Sang Juara memimpin terlebih dulu pada menit ke-20 setelah Andrew Robertson dari sayap kiri mengirimkan umpan tarik akurat yang dimanfaatkan oleh Sadio Mane dengan satu sentuhan, Liverpool 1-0 Arsenal. Akan tetapi The Gunners kembali menemukan level mereka ketika Alexandre Lacazette memanfaatkan kesalahan oleh Virgil Van Dijk.

Bola tendangan Lacazette akhirnya bersarang di gawang Alisson Becker untuk menyamakan kedudukan 1-1. pada 32 menit saat laga berlangsung. Hanya semenit sebelum jeda, kini giliran Allisson yang melakukan blunder dengan melepaskan penguasaan bola yang jatuh di kaki pemain Arsenal, Alexandre Lacazette. Kesalahannya ini dihukum dengan gol kedua Arsenal yang dicetak oleh Reiss Nelson merupakan assis dari Lacazette. Arsenal unggul 2-1 atas Liverpool hingga turun minum.

Pada babak kedua Liverpool berupaya untuk menyamakan kedudukan. Beberapa upaya dilakukan para penyerang mereka. Tembakan Mohamed Salah melayang di atas mistar, sundulan tiang jauh Van Dijk melebar dan Mane kehilangan peluang di menit akhir. Akhirnya pasukan Mikel Arteta ini bertahan untuk meraih kemenangan penting atas Sang Juara, Liverpool. Arsenal tetap berada diposisi kesembilan dengan 53 poin, hanya berbeda satu poin di belakang Sheffield United diperingkat 8.

Tentang kekalahan ini, Virgil van Dijk mengakui kesalahannya membuat blunder sehingga terjadi gol ke gawang Liverpool. Van Dijk mengatakan kepada Sky Sports (16/7/20): “Aku membuat kesalahan, aku mengambil tanggung jawab untuk itu. Kami memberi mereka gol sebagai hadiah. Kami mendominasi dan menekan mereka tetapi memberi mereka dua gol dan jelas maka sulit untuk kembali. Jika Anda memberikan gol seperti yang kami lakukan hari ini, termasuk saya.

Anda mendapatkan apa yang pantas Anda dapatkan. Liverpool seperti biasanya mendominasi permainan dengan 70 persen penguasaan bola. Namun seperti biasa pula mereka tidak mampu menembus pertahanan Arsenal dengan trio bek tengah mereka, David Luiz, Rob Holding dan Kieran Tieney. Skuad Jurgen Klopp ini melakukan 24 tembakan dan hanya 8 tembakan tepat sasaran. Bandingkan dengan Arsenal yang hanya memiliki 3 tembakan dan hanya dua yang tepat sasaran sekaligus menjadi gol.

Permainan efektif yang diterapkan pasukan Mikel Arteta ini berhasil meredam agresivitas skuad Liverpool. Keberhasilan trio bek Arsenal patut menjadi catatan tersendiri. Mereka sangat fokus dan taktis menjaga daerah gawang yang dikawal Martinez. Selamat untuk The Gunners Arsenal. Kini mereka punya peluang bersaing diperebutan untuk kualifikasi Liga Eropa bersama Sheffield United, Spurs dan Wolverhampton.

Kemenangan Terpenting Manchester City Bukan di Lapangan Sepak Bola

Kemenangan Terpenting Manchester City Bukan di Lapangan Sepak Bola – Artikel ini adalah artikel terakhir yang membahas mengenai kemenangan City atas UEFA Financial Fair Play, kalau anda belum baca artikel sebelumnya silakan dibaca terlebih dahulu. Sebelum lanjut membahas larangan Liga Champions City, saya ingin telebih dahulu memberikan gambaran mengenai bagaimana idustri sepak bola moderen mendapatkan uang. Dengan demikian.

Kemenangan Terpenting Manchester City Bukan di Lapangan Sepak Bola

Kemenangan Terpenting Manchester City Bukan di Lapangan Sepak Bola

Baru kita bisa membahas bagaimana dampak pelarangan City untuk berkancah Eropa terhadap kondisi finansial The Citizens. Buat anda atau saya yang menonton Liga Indonesia tahun 2000-an pasti mengira bola bukan sebuah olahraga yang profit. Gimana mau tidak mengira sepak bola merupakan kegiatan menghamburkan uang, setiap tahunnya saja Persija dan Persib bisa menyedot APBD sampai pulihan miliyar Rupiah.

Namun keterlibatan negara dalam sepakbola sebenarnya agak toxic, kalu kawan-kawan browsing tim paling sukses Jerman Timur, jawabannya adalah Dynamo Dresden. Tebak siapa yang punya tim tersebut, Statsi alias polisi rahasia Jerman Timur yang terkenal mengerikan, Jangankan bahas aspek sokongan finansial, mencetak gol ke gawang Statsi aja mungkin udah seram sekali. Lagipula di Indonesia banyak Pemda yang juga mengontrol dan mendanai timnya secara, ya seperti Manchester City.

Sekarang otomatis tim sepak bola moderen Eropa tidak dapat didanai pemerintah, rokok, bosnya sendiri, perusahaan alkohol, dan mungkun dalam waktu dekat situs judi juga akan didepak. Lantas bagaimana para tim sepak bola yang menggaji orang sampai ribuan Euro setiap pekan mencari uang? Anda juga mungkin mempertanyakan kenapa klub-klub raksasa seperti Ajax dan Celtic seperti selalu kesulitan menjaga pemain terbaiknya. Serta mengapa target universal bagi tim besar (Termasuk City) adalah Liga Champions, kalau tidak pasti pelatihnya didepak.

Secara Umum Pendapatan Tim Sepak Bola Bisa Kita bagi menjadi tiga

Yang pertama adalah yang paling sederhana, klasik, dan bahkan bisa didapatkan oleh tim tarkam. Mathcday Income, sumbernya adalah tiket yang dibayarkan oleh supporter yang datang ke stadion dan terkadang dalam laporan keuangan digabung dengan pendapatan dari sewa-menyewa lapak di stadion. Nah banyak yang berasumsi bahwa tim yang memiliki stadion besar pasti memiliki pendapatan yang jauh lebih besar.

Tapi, belum tentu, faktanya matchday income semakin menyumbang persentase yang makin kecil setiap tahunnya terutama untuk tim-tim top Eropa. Bahkan matchday income justru dianggap sebagai sesuatu yang paling susah untuk digali, pertama karena kapasitas stadion yang terbatas rekor rata-rata supporter terbanyak dipegang oleh Dortmund itupun tidak sampai 90.000 orang per-pertandingan.

Kedua, menaikan harga tiket tentu berpotensi menciptakan tensi dengan suppoter serta menurunkan kehadiran fans yang merusak home advantage. Ditambah lagi menaikan harga juga sangat sensitif dengan kemampuan ekonomi masyarakat sekitar, jangan mimpi lah tim Indonesia bisa masang harga tiket sejuta kayak di Inggris dan stadion tetap penuh, Persija pasang harga tiket ekonomi Rp. 50.000 aja udah bikin megap-megap The Jak padahal Jakarta merupakan salah satu region paling tajir se-Indonesia.

Opsi melakukan pembesaran stadion tentu bisa dilakukan seperti Spurs. Namun kalau mempertimbangkan harga ekspansi stadion, apalagi rata-rata tim besar berasal dari kota yang padat sehingga nyari tanah kosong buat dibangun stadion saja susah dan banyak sengketanya (ekhem Jakarta).

Belum lagi tim yang dalam setahun-dua tahun bisa jadi musafir yang tentunya menurunkan performa. Serta masih ada sumber lain yang lebih mudah, gak heran deh kalau banyak tim Eropa yang tim seperti Bornemouth, Fulham, atau QPR yang betah-betah aja di stadion yang kapasitasnya gak lebih besar dari Almarhum stadion Lebak Bulus.

Seberapa penting matchday income pada sepakbola moderen, ya seperti yang saya bilang tadi tidak teralu. Kita hidup di era dimana sudah tidak membingungkan kalau Bornemouth atau Fulham yang stadionnya gak lebih megah dari Almarhum Stadion Lebak Bulus bisa lebih tajir dari Persija dan Persebaya yang main di GBK dan GBT, dan bukan perkara daya beli atau di Indonesia banyak rojali saja.

Faktanya kalau dibandingkan dengan Glasgow Celtic yang kapasitas stadionnya 50.000an, main di Europa League, dan trebel domestik di Skotlandia. Bornemouth yang stadionnya sekilas seperti Stadion Merpati Depok dan cuma finish di posisi 12 Premier League, pendapatannya tetap lebih tinggi sekitar 38 juta Pounds daripada Celtic. Celtic “cuma” dapat 93 Juta Pounds dalam tahun anggaran 2019, sementara Bornemouth dapat 131 Juta Pounds.

Yang lebih gila lagi keunggulan itu didapatkan dengan matchday Income yang kalah hampir sepuluh kali lipat; Bornemouth 4.9 Juta Pounds vs Celtic 43 Juta Punds, dan merchandise yang kalah hampir 18 kali lipat; Bournemouth 1.2 Juta Pounds vs Celtic 18.1 Juta Pounds kok bisa?

Jawabannya adalah brodcasting, Bornemouth main di Premier League sementara Celtic main di Scotish Premier League. Bahkan gabungan antara Media+Commercial Activity Celtic yang main di Europa League dan Juara SPL cuma menghasilkan 22 Juta Pounds. Bandingkan dengan hanya finish di peringkat 12 EPL yang menghasilkan pendapatan mencapai 115.6 Juta Pounds, atau hampir 11 kali lipat. Kalau ditambah dengan sposor, maka pendapatan Bornemouth mencapai 118.7 Juta Pounds.

Pendapatan brodcasting yang luar biasa inilah yang menjadi fondasi kedigdayaan tim-tim Inggris, Italia, Jerman, dan Prancis. Terutama tim Inggris, gabungan antara liga yang seru dan pemain top dunia membuat brodcasting Liga Inggris menjadi yang termahal sedunia. Bahkan menurut Tifo Football bermain satu musim dan terdegradasi dari EPL menghasilkan brodcasting income yang bahkan lebih tinggi daripada brodcasting income ditambah hadiah juara Eredivisie Belanda.

Itulah kenapa kesuksesan Ajax, Feynoord, atau PSV pasti akan diikuti dengan eksodus pemain besar-besaran. Selain memang business model dari tim Belanda, menjadi “big fish in a little pond” punya kutukan sendiri, siapa juga yang mau nonton Excelsior vs Sparta Rotterdam kecuali orang Belanda.

Karena brodcasting income yang rendah tersebutlah Ajax tidak mungkin mempertahankan pemainnya ketika berhadapan dengan tim dari big five league Eropa. Ya, enaknya jadi tim Inggris finish di peringkat 12 saja sudah menghasilkan uang yang sama dengan penjualan De Light dan Ziyech.

Manchester United Vs Southampton Setan Merah Kehilangan Poin di Old Trafford

Manchester United Vs Southampton Setan Merah Kehilangan Poin di Old Trafford – Mereka sebenarnya memiliki peluang melonjak keposisi 3, setelah dan Leicester 1-4 dari Bournemouth pada akhir pekan lalu. Manchester United dihadapkan pada peluang sempurna untuk meraih zona Liga Champions tersebut. Namun itu tidak terjadi pada mereka setelah hasil imbang yang mereka dapatkan. Bahkan Manchester United ketinggalan terlebih dulu ketika laga baru saja berjalan 12 menit.

Manchester United Vs Southampton Setan Merah Kehilangan Poin di Old Trafford

Manchester United Vs Southampton Setan Merah Kehilangan Poin di Old Trafford

Stuart Armstrong memberi The Saints keunggulan hasil kerja sama yang bagus dari Danny Ings dan Nathan Redmond. Namun untungnya ada Marcus Rashford, hanya 8 menit kemudian berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Hanya 3 menit setelah itu Manchester United unggul 2-1 berkat gol luar biasa dari tendangan Anthony Martial.

Manchester United unggul hingga jauh ke injury time babak kedua. Sampai akhirnya keunggulan tersebut sirna ketika pemain pengganti Southampton, Michael Obafemi menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit ke-96. Berawal dari tendangan sudut, Obafemi menyambar bola di tiang jauh setelah Jan Bednarek menyundul tipis ke sudut kiri gawang De Gea.

Sebelum gol ini terjadi beberapa penyelamatan De Gea patut diberikan apresiasi. Salah satunya adalah peluang emas dari tendangan keras Redmond berhasil ditepis De Gea. Ole Gunnar Solskjaer usai laga tersebut memberikan keterangan dihadapan para pewarta seperti dilansir Skysports. Semua pasti kecewa dengan hasil ini,bukan hanya pelatih Solskjaer. Para pemain merasakan hal yang sama termasuk Harry Maguire, bek tengah United yang tidak berhasil mencegah gol Southampton di menit akhir tersebut.

Solskjaer sendiri mengakui bahwa tim asuhannya bisa saja tidak pantas mendapatkan tiga poin hari ini. Hal tersebut cukup beralasan karena para pemain Southampton terutama pada babak kedua bermain bagus. Mereka memiliki fisik sangat fit dengan determinasi tinggi untuk menang dari United. Hasil imbang ini tidak mengubah posisi United tetap diposisi ke-5 dengan 59 poin sama dengan perolehan poin Leicester di posisi ke-4 yang hanya unggul selisih gol.

Sementara Chelsea masih kokoh diposisi ke-3 dibawah City dan Liverpool. Bersama Leicester dan United, Chelsea bersaing meraih sisa dua slot lagi Liga Champions. Manchester United sekarang tetap tidak terkalahkan dalam 18 pertandingan di semua kompetisi. Pencapaian ini sama dengan rekor tak terkalahkan tahun 2013 ketika mereka di bawah asuhan Sir Alex Ferguson.

Sisa laga yang harus dihadapi Setan Merah adalah lawan Watford, West Ham United dan Leicester City untuk mengejar target 4 besar. Laga terakhir melawan Leicester bisa jadi merupakan laga hidup mati untuk meraih tiket Liga Champions tahun depan.

Satu Hal yang Dilupakan Arteta tentang Mourinho

Satu Hal yang Dilupakan Arteta tentang Mourinho – Rentetan hasil positif dengan formasi 3-4-3 dari Arsenal akhirnya menemui pemberhentian. Setelah hanya imbang dengan Leicester City, permainan Arsenal mulai terdapat celah yang masih dapat dimanfaatkan oleh lawannya.

Satu Hal yang Dilupakan Arteta tentang Mourinho

Satu Hal yang Dilupakan Arteta tentang Mourinho

Sebenarnya hal ini sempat tersinggung di laga perdana Arsenal ketika menggunakan formasi itu–di Piala FA–atau pun ketika Arsenal mengalahkan Norwich City di Premier League. Arsenal memang bermain lebih baik pasca kekalahan dari Manchester City dan Brighton, namun mereka masih membiarkan lawan untuk membuat teror ke gawang Emiliano Martinez.

Entah karena ini bagian dari konsekuensi penggunaan formasi itu, atau memang Mikel Arteta ingin membuat semacam jebakan agar lawan dapat dipukul mundur dengan serangan cepat. Tetapi bagaimana jika mereka berhadapan dengan klub yang secara kualitas tidak beda jauh?

Sebenarnya ini sempat dikhawatirkan ketika mereka melawat ke markas Wolverhampton Wanderers. Namun, ternyata The Gunners sukses menundukkan sang tuan rumah. Tetapi, kekhawatiran bahwa permainan mereka akan mulai terbaca benar terjadi saat bertemu Leicester. The Foxes mampu menandingi solidnya pertahanan David Luiz dan Skhodran Mustafi dengan duel one-on-one atau dengan serangan balik.

Brendan Rogers rupanya tahu bahwa dengan formasi 3-4-3 cara bertahan Arsenal akan langsung berkumpul di tengah, maka cara agar dapat membongkar kerapatan itu adalah dengan memancing 1-2 pemain untuk keluar dari zona bertahannya. Taktik seperti ini sebenarnya bukan tanpa cela, tetapi bagi tim yang sedang tidak diunggulkan akan berupaya tak peduli dengan hasil 50-50 ketika terdapat peluang. Situasi ini yang rupanya cukup terlihat di laga terbaru, yaitu derbi London Utara.

Son Heung-min menjadi bintang di derbi ini dengan membawa Spurs menang 2-1 (1 gol dan 1 asis). Gambar: Premierleague via football5star. Son Heung-min menjadi bintang di derbi ini dengan membawa Spurs menang 2-1 (1 gol dan 1 asis). Memang, ketika di awal-awal laga kedua tim langsung mencoba mengancam pertahanan lawan. Bahkan, Tottenham Hotspur sebagai tuan rumah memiliki peluang yang efektif. Hanya, ada satu pemandangan yang entah mengapa terjadi pada Spurs saat ini. Yaitu, cara bermainnya yang tidak begitu menunjukkan kapasitas mereka sebagai eks finalis Liga Champions musim lalu.

Terlepas dari perginya Christian Eriksen, sebagian besar pemain musim lalu ada di Tottenham Hostpur Stadium. Tetapi memang ada benarnya jika ini adalah faktor keberadaan Jose Mourinho sebagai pengganti Maurichio Pocchetino. Ada positif dan negatif ketika Spurs dilatih Mourinho. Negatifnya, mereka akan bermain lebih pragmatis lagi dibandingkan musim lalu. Positifnya, mereka diberitahu cara untuk menang di laga yang penuh gengsi.

Sebagai pelatih kawakan, Mourinho sudah sangat kenyang pengalaman, khususnya dalam menghadapi Arsenal. Nahasnya, sampai sejauh ini terasa benar bahwa musuh Arsenal dari era Arsene Wenger sampai Mikel Arteta adalah Jose Mourinho. Sejak di Chelsea, Manchester United, dan kini Spurs, Mourinho seolah menjadi momok bagi Arsenal. Pelatih asal Portugal itu seolah tahu betul bagaimana cara meruntuhkan Arsenal.

Inilah yang kemudian menjadi satu hal yang terlupakan bagi Arsenal, khususnya bagi Arteta. Dirinya memang mampu meminta anak asuhnya bermain lebih baik dari seniornya, tetapi dia lupa bahwa yang dia hadapi adalah salah satu pelatih yang sangat tricky.
Terlepas dari kegagalannya membawa Real Madrid menjadi klub yang dominan di Spanyol dan Eropa, namun dalam urusan berhadapan dengan klub yang dianggap lebih baik dari klubnya, dia akan cukup tahu caranya untuk mempersulit lawannya.

Satu hal yang diupayakan oleh eks pelatih Porto dan Inter itu adalah beradu mental. Dia tidak segan meminta para pemainnya untuk bermain lebih bertahan, lebih kasar, hingga lebih militan. Inilah yang nyaris sering dilupakan oleh Arsenal. Ditambah dengan posisinya kini sebagai rival dekat, maka sudah pasti Mourinho sangat mendorong para pemainnya untuk keluar dari zona nyaman. Hal ini juga terbukti dari catatan pelanggaran dan kartu kuning Spurs lebih banyak dari Arsenal.

Terlepas dari adanya isu berbau ultimatum tentang kelanjutan karier Harry Kane di Spurs, apabila derbi ini tidak dimenangkan Spurs. Kita bisa cukup sepakat bahwa Mourinho memang lebih lihai mengatur situasi yang tidak cenderung teknikal di lapangan. Dia lebih fokus dengan membuat manajemen mentalitas dibandingkan ramuan taktik yang sejauh ini sangat identik dengan Pep Guardiola dan kini sedang berupaya ditiru oleh Arteta.

Melalui kekalahan ini, Arteta diharapkan menyadari bahwa dirinya juga perlu belajar memahami bagaimana karakteristik lawannya baik secara teknis maupun non-teknis. Jadi, hasil ini tidak sepenuhnya menjadi kiamat bagi David Luiz dkk., karena mereka sebenarnya masih dapat disebut telah bermain maksimal. Terbukti, mereka juga dapat unggul terlebih dahulu maupun menguasai permainan.

Di dalam urusan bertahan, mereka juga mampu menjebak offside Kane dkk. yang artinya secara komunikasi di lini belakang sudah cukup bagus. Tinggal, mereka perlu mengingat bahwa dalam mengalahkan lawan bukan hanya tentang taktik bermain–menyusun formasi, tapi juga pengaruh taktik yang tidak begitu kasat mata-beradu mental.